Rupiah Melemah ke Rp17.847, Tekanan Geopolitik dan Sinyal BI Jadi Sorotan
Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Rupiah melemah ke level Rp17.847 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (21/9/2026). Nilai tukar rupiah turun 89 poin atau 0,50 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.758 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) melihat tekanan geopolitik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor utama yang membebani rupiah. Di saat yang sama, pasar mulai menunggu arah kebijakan BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (23/9).
Rupiah Tertekan Sejak Perdagangan Pagi
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak awal perdagangan. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI berada di level Rp17.813 per dolar AS, melemah dari Rp17.745 pada hari sebelumnya.
Pergerakan rupiah kemudian terus berada di zona lemah sepanjang perdagangan. Sejumlah data pasar menunjukkan rupiah sempat berada di sekitar Rp17.825 hingga Rp17.841 sebelum akhirnya ditutup pada Rp17.847 per dolar AS.
Perbedaan angka yang muncul dalam laporan sejumlah media bukan berarti terdapat perbedaan mendasar mengenai arah pergerakan rupiah. Kurs berubah dari waktu ke waktu mengikuti transaksi pasar. Karena itu, angka penutupan menjadi acuan utama untuk melihat posisi rupiah pada akhir perdagangan.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berkaitan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut turut menjaga harga minyak berada pada level tinggi.
Harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel menjadi persoalan tersendiri bagi negara seperti Indonesia yang masih membutuhkan impor energi. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor dan pada akhirnya menambah tekanan terhadap nilai tukar.
Analis Ibrahim Assuaibi mengaitkan perkembangan tersebut dengan serangan kelompok Houthi Yaman terhadap sejumlah lokasi di Riyadh dan fasilitas Aramco di Yanbu. Gangguan terhadap infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak tersebut disebut mendorong Aramco mengalihkan sebagian ekspornya melalui Selat Hormuz.
Rupiah Melemah, Risiko Tidak Berhenti di Pasar Valas
Persoalan rupiah tidak hanya berhenti pada nilai tukar. Pelemahan mata uang dapat merembet ke sejumlah indikator ekonomi lainnya apabila berlangsung dalam waktu yang panjang.
Erwin menyebut tekanan geopolitik dapat meningkatkan risiko inflasi global dan memperburuk outlook fiskal. Pada saat yang sama, kebutuhan valuta asing dari importir dan potensi keluarnya dana dari pasar portofolio domestik dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Data yang dikutip Kiwoom Sekuritas menunjukkan inflasi headline Indonesia pada Agustus mencapai 3,19 persen. Di pasar surat utang, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berada di sekitar 7,16 persen, meningkat 12 basis poin secara bulanan.
Kondisi tersebut menjadi penting karena pelemahan rupiah dapat membatasi ruang penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) apabila tekanan eksternal terus berlangsung. Investor akan memperhitungkan kembali risiko nilai tukar, inflasi dan kondisi global ketika menentukan imbal hasil yang mereka minta.
Namun, belum seluruh indikator menunjukkan peningkatan risiko secara tajam. Credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun, misalnya, justru sedikit turun dari 82,19 menjadi 81,78 basis poin. Pergerakan tersebut menunjukkan premi risiko Indonesia masih relatif terkendali.
Jurus BI Menahan Tekanan Rupiah
BI menyatakan tetap melakukan stabilisasi melalui berbagai instrumen pasar valuta asing dan pasar keuangan. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot serta Domestic NDF di pasar domestik. BI juga melakukan pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Di tengah tekanan tersebut, BI mencatat rupiah masih menguat 0,37 persen secara quarter-to-date dibandingkan sejumlah mata uang negara kawasan. Cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus.
Angka tersebut menjadi salah satu bantalan penting bagi stabilitas eksternal Indonesia. Namun, kekuatan cadangan devisa tetap harus dibaca bersama perkembangan impor, harga energi, arus modal dan kondisi pasar keuangan global.
Pasar Menunggu Keputusan BI
Perhatian berikutnya akan tertuju pada RDG BI pada Rabu (23/9). Keputusan suku bunga akan menjadi salah satu sinyal penting mengenai bagaimana bank sentral merespons tekanan nilai tukar dan perkembangan ekonomi global.
Analis Ibrahim Assuaibi memperkirakan terdapat peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Namun, arah kebijakan bank sentral global saat ini tidak seragam. Sebagian masih mempertahankan sikap ketat untuk mengendalikan inflasi, sementara sebagian lainnya mulai memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran.
Situasi tersebut membuat keputusan BI tidak hanya berkaitan dengan rupiah. Bank sentral juga harus memperhitungkan pertumbuhan ekonomi, inflasi, stabilitas pasar keuangan dan kebutuhan menjaga daya tarik aset domestik bagi investor.
Dengan demikian, pelemahan rupiah ke Rp17.847 per dolar AS pada Senin bukan semata persoalan satu hari perdagangan. Pergerakannya memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat masuk ke perekonomian domestik melalui harga minyak, kebutuhan dolar, arus modal dan pasar obligasi.
Pertanyaan yang kini menunggu jawaban bukan hanya seberapa jauh rupiah dapat bergerak, tetapi juga seberapa lama tekanan eksternal tersebut bertahan dan bagaimana BI memilih kombinasi kebijakan untuk meredamnya. Hasil RDG Rabu akan menjadi salah satu petunjuk penting bagi arah pasar berikutnya.(*)