Minggu, 20 September 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Prediksi IHSG Senin 21 September 2026: Rawan Koreksi

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Prediksi IHSG Senin 21 September 2026: Rawan Koreksi
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidasi hingga rawan terkoreksi pada perdagangan Senin (21/9/2026).

Tekanan terhadap IHSG masih berasal dari sentimen suku bunga Amerika Serikat, pelemahan rupiah, serta aksi jual investor asing. Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), IHSG ditutup turun 21,27 poin atau 0,33 persen ke level 6.441,159. Secara mingguan, IHSG tercatat melemah 1,53 persen. Investor asing juga membukukan penjualan bersih sekitar Rp1,79 triliun pada perdagangan Jumat. Sepanjang 2026, akumulasi net sell asing disebut telah mencapai Rp74,36 triliun.

Sentimen dari pasar Amerika Serikat belum memberikan sinyal yang sepenuhnya positif. Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), Dow Jones Industrial Average turun 95,40 poin atau 0,18 persen ke level 51.682,64. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 12,74 poin atau 0,17 persen menjadi 7.650,50. Nasdaq Composite juga menguat 104,25 poin atau 0,40 persen ke posisi 26.522,55.

Pergerakan Wall Street berlangsung terbatas di tengah kenaikan imbal hasil US Treasury yang melampaui 5 persen. Pasar juga mencermati peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada periode berikutnya. Kondisi tersebut dapat membuat investor bersikap hati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Rupiah Masih Menjadi Perhatian, Asing Jual Saham Berkapitalisasi Besar

Selain sentimen global, pergerakan rupiah akan menjadi faktor penting bagi IHSG pada awal pekan. Rupiah spot ditutup melemah sekitar 0,03 persen ke level Rp17.758 per dolar Amerika Serikat pada Jumat (18/9/2026). Mata uang Garuda juga dilaporkan mengalami pelemahan selama beberapa hari perdagangan. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan terhadap emiten yang memiliki kewajiban dalam dolar AS. Di sisi lain, perusahaan berorientasi ekspor berpotensi memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah apabila pendapatan dan biaya operasionalnya mendukung.

Investor juga akan memperhatikan harga minyak yang masih tinggi. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi serta biaya bagi sejumlah sektor, meski pada saat yang sama berpotensi menopang saham perusahaan energi. Tekanan jual asing pada Jumat terutama terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham BBCA, BMRI, AMMN, TLKM, dan DSSA termasuk yang mencatatkan net sell asing terbesar.

Sektor keuangan juga menjadi salah satu pemberat indeks. Sejumlah sektor lain, seperti properti, industri, kesehatan, infrastruktur, energi, dan transportasi, turut mengalami tekanan pada perdagangan terakhir pekan lalu. Namun, tidak seluruh saham mengalami tekanan yang sama. Beberapa saham komoditas justru masih mencatatkan pembelian bersih asing sepanjang pekan, antara lain ANTM, BRMS, MDKA, AADI, dan INCO. Perbedaan kinerja antar sektor tersebut menunjukkan bahwa investor masih melakukan seleksi saham, bukan sepenuhnya keluar dari seluruh pasar.

Proyeksi IHSG Senin

Pengamat pasar modal William Hartanto memperkirakan IHSG pada perdagangan Senin bergerak sideways dalam rentang 6.400 hingga 6.512. Sementara itu, proyeksi lain menempatkan IHSG dalam risiko menguji area support sekitar 6.290–6.370 apabila tekanan jual berlanjut. IDXChannel juga menyebut indeks masih rawan terkoreksi pada awal pekan.

Perbedaan rentang proyeksi tersebut menunjukkan bahwa arah IHSG masih bergantung pada respons pasar terhadap rupiah, arus dana asing, serta kondisi bursa regional pada Senin pagi. Skenario penguatan dapat terjadi jika rupiah stabil, bursa Asia bergerak positif, dan tekanan jual pada saham perbankan berkurang.

Sebaliknya, IHSG berpotensi kembali melemah jika investor asing melanjutkan aksi jual, imbal hasil obligasi Amerika Serikat tetap tinggi, atau sentimen suku bunga kembali memburuk. Investor sebaiknya mencermati level 6.400 sebagai area psikologis penting. Penembusan level tersebut dengan volume tinggi dapat memperbesar risiko pelemahan, sedangkan kemampuan bertahan di atasnya dapat membuka peluang konsolidasi.

Prediksi ini masih merupakan analisis berdasarkan data penutupan Jumat dan informasi yang tersedia pada Minggu malam. Pergerakan IHSG dapat berubah sebelum pembukaan bursa karena pengaruh pasar Asia, rupiah, komoditas, serta berita ekonomi terbaru. Investor perlu memperhatikan pembukaan IHSG pada Senin pagi, pergerakan saham berkapitalisasi besar, transaksi investor asing, dan sektor yang menjadi pemimpin pasar.

Analisis ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan investasi, dan hasil analisis masing-masing investor.(*)

Komentar (0)