Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM — Dangdut kembali menemukan tempat di kalangan generasi Z. Musik yang selama bertahun-tahun identik dengan generasi lebih tua kini hadir dalam kemasan baru dan semakin sering muncul di ruang digital.
Perubahan itu terlihat dari berkembangnya hipdut, perpaduan hip-hop dan dangdut yang menggabungkan rap, beat elektronik, serta karakter khas dangdut.
Media sosial, terutama TikTok, ikut menjadi ruang penting bagi perkembangan musik tersebut. Lagu-lagu dengan sentuhan hipdut digunakan dalam berbagai konten, mulai dari dance challenge hingga video keseharian.
Salah satu lagu yang mendapat perhatian adalah “Garam & Madu (Sakit Dadaku)” dari Tenxi, Jemsii, dan Naykilla. Lagu tersebut mempertemukan elemen hip-hop dan elektronik dengan nuansa dangdut dalam format yang dekat dengan kebiasaan konsumsi musik generasi digital.
Bukan Hanya Lagu Baru
Menariknya, ketertarikan Gen Z terhadap dangdut tidak hanya muncul melalui lagu-lagu baru.
Sejumlah lagu dangdut lawas juga kembali ditemukan melalui media sosial. Potongan lagu, remix, cover, dan berbagai konten pendek membuat musik dari era sebelumnya kembali terdengar di kalangan pendengar muda.
Salah satunya “Jangan Tunggu Lama-Lama” milik Cici Faramida. Lagu yang dirilis pada 1995 tersebut kembali mendapatkan perhatian setelah digunakan dalam berbagai konten digital dan kemudian hadir dalam versi baru dengan sentuhan HipDut.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara generasi muda menemukan musik. Mereka tidak selalu mengenal sebuah lagu berdasarkan tahun rilis atau kategorinya. Sebuah lagu lama dapat kembali populer ketika potongan melodi atau liriknya dianggap menarik untuk dijadikan bagian dari konten digital.
TikTok Mengubah Cara Musik Dikenal
Platform video pendek membuat sebuah lagu tidak hanya berfungsi sebagai karya untuk didengarkan. Musik juga menjadi bagian dari aktivitas digital, mulai dari membuat video, koreografi, meme hingga berbagai tren komunitas.
TikTok mencatat lagu “Mejikuhibiniu” dari Tenxi dan Jemsii bersama Suisei telah digunakan dalam lebih dari 400 ribu konten. Sementara “Aku Dah Lupa” dari Mikky Zia digunakan dalam lebih dari 2,2 juta konten di platform tersebut.
Kondisi ini membuat batas antara genre musik semakin cair. Gen Z dapat menikmati hip-hop, pop, elektronik, koplo dan dangdut dalam ruang digital yang sama.
Dalam perkembangan tersebut, hipdut menjadi salah satu bentuk adaptasi dangdut terhadap selera dan kebiasaan konsumsi musik generasi baru.
Dangdut Menemukan Wajah Baru
Perjalanan dangdut menunjukkan bahwa sebuah genre musik dapat terus berubah mengikuti perkembangan zaman.
Bagi Gen Z, dangdut tidak harus selalu hadir dalam format lama. Kendang dapat bertemu beat elektronik, cengkok berpadu dengan rap, sementara lagu lawas bisa kembali populer setelah muncul dalam konten media sosial.
Pada akhirnya, yang berubah bukan hanya musiknya, tetapi juga cara generasi muda menemukannya.
Dangdut yang dulu kerap dianggap sebagai musik generasi orang tua kini kembali masuk ke ruang dengar Gen Z—dengan bahasa musik yang lebih digital. (*)