Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
Sebuah karya arsitektur di Maros, Sulawesi Selatan, menarik perhatian karena tidak mengandalkan bentuk yang serba futuristik untuk tampil modern. Common Days, karya INS Studio, justru menggunakan batu andesit dari pegunungan sekitar dan bata terracotta produksi lokal sebagai bagian penting dari desainnya.
Bangunan seluas 269 meter persegi tersebut berada di kawasan komersial yang sedang berkembang di Maros, di luar Makassar. Di sekelilingnya, lanskap alami masih menjadi bagian kuat dari kawasan, termasuk pemandangan Bukit Cenrana. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam merancang bangunan.
Dikutip dari portal designboom.com, Common Days tidak dirancang hanya sebagai tempat minum kopi. Lantai dasar berfungsi sebagai kedai kopi sekaligus ruang berkumpul. Lantai kedua digunakan sebagai ruang kerja dan ruang pertemuan, sementara bagian atasnya berupa taman atap terbuka yang dapat digunakan untuk kegiatan komunitas, pameran kecil, maupun acara luar ruang.
Dengan fungsi yang berbeda di setiap lantai, bangunan ini mencoba menggabungkan aktivitas sosial, bekerja, berkumpul, dan menikmati lanskap dalam satu rangkaian ruang. Pemandangan Bukit Cenrana bahkan tidak ditempatkan sekadar sebagai latar belakang. Posisi bangunan dan taman atap dirancang agar lanskap tersebut menjadi bagian dari pengalaman pengunjung.
Salah satu karakter paling kuat Common Days terdapat pada penggunaan material lokal. Batu andesit yang bersumber dari pegunungan sekitar digunakan pada dinding, lantai, hingga area coffee bar. Sementara itu, bata terracotta produksi lokal digunakan pada area teras dan bagian luar bangunan.
Penggunaan material tersebut bukan hanya persoalan estetika. Material lokal membuat bangunan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan tempat di mana ia berdiri. Maros tidak hanya menjadi alamat proyek, tetapi ikut membentuk karakter arsitekturnya. Di ruang kerja, terdapat pula dinding lumut yang dibudidayakan dan dipasang oleh tukang kebun lokal. Elemen tersebut menambah lapisan vegetasi pada ruang yang didominasi batu, beton, dan bata.
Bagian yang menarik dari bangunan ini adalah penggunaan dinding bata berlubang pada fasad. Susunan bata tersebut berfungsi sebagai penyaring cahaya matahari pagi sekaligus memungkinkan udara bergerak masuk ke area teras lantai dua. Dengan demikian, satu elemen arsitektur menjalankan fungsi visual sekaligus lingkungan.
Strategi semacam ini dikenal sebagai pendekatan pasif dalam desain bangunan. Kondisi iklim setempat dimanfaatkan untuk membantu menciptakan kenyamanan tanpa sepenuhnya bergantung pada sistem mekanis. Pada Common Days, panas, cahaya, angin, material, dan vegetasi diperlakukan sebagai bagian dari rancangan sejak awal.
Di tengah perkembangan kawasan perkotaan dan komersial, bangunan baru sering kali menghadirkan bahasa arsitektur yang seragam. Common Days menunjukkan pendekatan berbeda. Bangunan modern tetap dapat menggunakan material yang dekat dengan lingkungan sekitar dan merespons kondisi iklim setempat.
Di sini, batu andesit, bata terracotta, tanaman lumut, taman atap, ventilasi alami, dan pemandangan Bukit Cenrana tidak berdiri sendiri. Semuanya menjadi bagian dari pengalaman ruang. Ini bisa dimaknai bahwa modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan material dan karakter lokal. Justru material yang sudah tersedia di sekitar dapat menjadi bagian dari wajah baru sebuah kota.
Modern bukan selalu berarti menggunakan sesuatu yang paling baru. Kadang-kadang, modern berarti menemukan cara baru untuk menggunakan apa yang sudah dimiliki sebuah tempat.(*)
Semua gambar hasil karya fotografi Akasa Rana
Sumber: www.designboom.com