Rudal Korea Utara Kembali Meluncur, Ketika Jalur Dialog dengan AS Belum Pulih
Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
Korea Utara kembali meluncurkan rudal ke arah laut pada Minggu, 20 September 2026. Militer Korea Selatan menyatakan dua rudal balistik jarak pendek ditembakkan dari kawasan pesisir Wonsan, di pantai timur Korea Utara, dengan jarak penerbangan sekitar tiga jam. Rudal pertama terbang sekitar 450 kilometer, sementara rudal kedua mencapai lebih dari 600 kilometer sebelum keduanya jatuh di perairan sebelah timur Semenanjung Korea.
Peluncuran tersebut menjadi perhatian karena berlangsung ketika ketegangan antara Korea Utara, Korea Selatan dan Amerika Serikat kembali meningkat. Pada saat yang sama, Washington masih membuka kemungkinan untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Menurut militer Korea Selatan, peluncuran pertama terdeteksi sekitar pukul 15.00 waktu setempat dari wilayah Wonsan. Beberapa jam kemudian, rudal kedua kembali diluncurkan dari kawasan yang sama. Militer Korea Selatan menyatakan kedua rudal merupakan rudal balistik jarak pendek. Seoul juga mengatakan pihaknya meningkatkan pengawasan dan kesiapan militer, sekaligus berbagi informasi mengenai peluncuran tersebut dengan Amerika Serikat dan Jepang.
Jepang juga mendeteksi peluncuran rudal Korea Utara. Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan rudal yang terdeteksi tidak jatuh di wilayah perairan teritorial Jepang. Kantor kepresidenan Korea Selatan kemudian meminta Pyongyang menghentikan peluncuran rudal balistik yang dilarang berdasarkan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Bukan Peluncuran Pertama dalam Beberapa Pekan
Peluncuran terbaru tersebut bukan kejadian yang berdiri sendiri. Dalam beberapa pekan terakhir, Korea Utara telah melakukan sejumlah demonstrasi kemampuan militernya, termasuk latihan yang melibatkan rudal, artileri dan drone. Pyongyang menyatakan latihan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kemampuan pertahanannya.
Pada awal September, Korea Utara juga meluncurkan sejumlah rudal jarak pendek setelah latihan militer trilateral Amerika Serikat, Korea Selatan dan Jepang. Rangkaian tersebut menunjukkan pola saling merespons antara latihan militer negara-negara yang bersekutu di kawasan dengan demonstrasi persenjataan Korea Utara.
Bagi Pyongyang, latihan militer Amerika Serikat dan Korea Selatan dipandang sebagai latihan untuk menyerang Korea Utara. Sebaliknya, Washington dan Seoul mempertahankan latihan tersebut sebagai bagian dari kesiapan pertahanan dan aliansi mereka. Perbedaan persepsi inilah yang membuat aktivitas militer di Semenanjung Korea mudah berkembang menjadi siklus saling merespons.
Trump Mengurangi Latihan, Tetapi Rudal Tetap Meluncur
Situasi menjadi lebih menarik karena Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya justru mengurangi skala latihan militer bersama Korea Selatan. Trump memerintahkan Pentagon untuk mengurangi secara signifikan latihan tahunan Ulchi Freedom Shield. Keputusan tersebut dikaitkan dengan upaya menjaga hubungan dengan Kim Jong Un dan membuka kemungkinan kembalinya diplomasi.
Namun, langkah tersebut belum menghasilkan perubahan mendasar pada perilaku militer Korea Utara. Kim Yo Jong, saudara perempuan Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Korea Utara, sebelumnya menilai pengurangan latihan tersebut tidak mengubah apa yang disebut Pyongyang sebagai sifat provokatif dan agresif dari latihan militer Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Beberapa hari sebelum peluncuran terbaru, Kim Yo Jong juga mengkritik latihan maritim multilateral yang melibatkan Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Australia, Selandia Baru dan Kanada. Dengan demikian, pengurangan latihan militer oleh Washington belum menghilangkan sumber ketegangan yang dipersoalkan Pyongyang.
Masalahnya Bukan Hanya Rudal
Peluncuran dua rudal tersebut memperlihatkan bahwa persoalan di Semenanjung Korea tidak hanya berkaitan dengan satu jenis senjata atau satu latihan militer. Ada beberapa persoalan yang lebih besar, misalnya hubungan antara kemampuan nuklir Korea Utara, aliansi militer Amerika Serikat dengan Korea Selatan dan Jepang, serta kegagalan diplomasi sebelumnya.
Perundingan tingkat tinggi antara Trump dan Kim Jong Un pernah menghasilkan pertemuan yang menjadi perhatian dunia. Namun, proses tersebut mengalami kebuntuan pada 2019. Sejak itu, Korea Utara terus mengembangkan persenjataan dan kemampuan nuklirnya.
Dalam perkembangan terbaru, Pyongyang juga semakin dekat dengan Rusia dan mempertahankan hubungan dengan China. Kondisi tersebut memberi Korea Utara lingkungan strategis yang berbeda dibandingkan periode diplomasi Trump-Kim beberapa tahun lalu. Karena itu, setiap pembicaraan baru tidak berlangsung dalam kondisi yang sama seperti sebelum 2019.
Korea Selatan Masih Membuka Pintu Dialog
Di tengah ketegangan tersebut, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung masih menyatakan dukungan terhadap kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan Amerika Serikat dan Korea Utara. Menurut Lee, dialog kembali antara Washington dan Pyongyang dapat menjadi titik awal penting bagi upaya menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea.
Namun, Pyongyang memberikan syarat berbeda. Kim Jong Un sebelumnya menyatakan bahwa Korea Utara dapat kembali berdialog apabila Amerika Serikat menghentikan apa yang disebutnya sebagai kebijakan bermusuhan dan menghormati posisi Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir.
Persoalan tersebut menjadi salah satu hambatan terbesar bagi diplomasi baru. Washington tidak mengakui Korea Utara sebagai negara nuklir yang sah, sementara Pyongyang justru menjadikan kemampuan nuklir sebagai bagian penting dari strategi pertahanannya.
Rudal Menjadi Bahasa Politik Pyongyang
Dalam konteks tersebut, peluncuran rudal Korea Utara dapat dibaca bukan hanya sebagai demonstrasi kemampuan militer, tetapi juga sebagai pesan politik. Setiap peluncuran menunjukkan bahwa Pyongyang masih memiliki kemampuan untuk meningkatkan tekanan ketika merasa kepentingannya terancam atau ketika latihan militer negara lain dianggap provokatif.
Namun, peluncuran tersebut juga meningkatkan risiko salah perhitungan. Ketika satu pihak meningkatkan latihan, pihak lain merespons dengan demonstrasi senjata. Respons berikutnya kemudian dapat memicu tindakan baru. Siklus semacam itu membuat situasi keamanan regional semakin sulit dikendalikan.
Bagi Korea Selatan dan Jepang, persoalannya bukan hanya apakah rudal tersebut jatuh di wilayah mereka. Jangkauan rudal, kecepatan pengembangan teknologi dan kemampuan Korea Utara memperbanyak sistem persenjataan menjadi bagian dari kalkulasi keamanan jangka panjang.
Sementara bagi Amerika Serikat, tantangannya adalah menjaga kredibilitas aliansi dengan Korea Selatan dan Jepang tanpa semakin mempersempit ruang diplomasi.
Karena itu, peluncuran dua rudal pada 20 September 2026 menjadi lebih dari sekadar berita mengenai senjata yang kembali ditembakkan ke laut. Peristiwa tersebut memperlihatkan sebuah paradoks. Ketika Washington mencoba membuka kembali pintu dialog dengan Pyongyang, bahasa militer Korea Utara masih terus terdengar.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya kapan rudal berikutnya diluncurkan, tetapi apakah ketiga pihak—Korea Utara, Korea Selatan dan Amerika Serikat—mampu memutus siklus saling merespons tersebut sebelum kembali menemukan jalan menuju meja perundingan.(*)