Kamis, 08 Oktober 2026
Breaking News
Ruang Kata

Pendidikan Dan Ilmu Pengetahuan Untuk Indonesia Lebih Maju

Riskal Arief | | 7 mnt baca
Pendidikan Dan Ilmu Pengetahuan Untuk Indonesia Lebih Maju
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

Oleh: Yaya Sunaryo
Pengamat Pendidikan

Ilmu pengetahuan tidak berhenti pada apa yang dipelajari di ruang kelas. Pengetahuan harus terus dicari, dikembangkan, dan diperkaya melalui pengalaman sepanjang kehidupan. Karena itu, semangat belajar seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan manusia dalam memahami dirinya, masyarakat, dan perubahan zaman.

Persoalan inilah yang kembali menjadi bahan pembahasan dalam Sekolah Kejeniusan Ekopol Konstitusi pada pertemuan minggu ketujuh. Dalam sesi ke-14 yang diampu Ichsanuddin Noorsy, diskusi berkembang pada pertanyaan mendasar mengenai peran pendidikan dalam membentuk manusia dan menentukan masa depan bangsa. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi, perkembangan kebudayaan, serta nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupan berbangsa.

Salah satu persoalan yang mengemuka adalah kecenderungan pendidikan yang semakin berorientasi pada kepentingan material. Pendidikan sering kali dinilai berdasarkan kemampuan menghasilkan tenaga kerja, memenuhi kebutuhan industri, dan memberikan keuntungan ekonomi. Padahal, pendidikan memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas daripada sekadar mempersiapkan manusia memasuki dunia kerja.

Ketika Pendidikan Terjebak Orientasi Material
Kritik terhadap dominasi materialisme dalam pendidikan dapat dipahami melalui dua sudut pandang. Pertama, materialisme filosofis, yakni kecenderungan yang terlalu menekankan aspek empiris dan fisik sehingga dimensi moral, spiritual, dan pembentukan karakter berisiko terabaikan. Kedua, orientasi materialistis dalam praktik pendidikan, ketika keberhasilan belajar lebih banyak diukur melalui nilai, ijazah, gelar, pekerjaan, dan penghasilan.

Dalam keadaan demikian, pendidikan berisiko mengalami penyempitan tujuan. Sekolah dan perguruan tinggi tidak lagi dipandang terutama sebagai ruang pembentukan manusia yang berpikir merdeka, melainkan sebagai lembaga yang bertugas menyediakan tenaga kerja bagi kebutuhan pasar. Keberhasilan lulusan kemudian lebih sering dikaitkan dengan seberapa cepat mereka memperoleh pekerjaan dan seberapa besar penghasilan yang didapatkan.

Pandangan tersebut berbeda dengan cita-cita pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses memerdekakan manusia. Pendidikan seharusnya mengembangkan kemampuan cipta, rasa, dan karsa secara seimbang. Manusia yang terdidik bukan hanya mereka yang menguasai pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki budi pekerti, kemandirian berpikir, serta tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Persoalannya, ketika ukuran keberhasilan pendidikan terlalu bertumpu pada hasil yang bersifat formal dan material, proses pembelajaran dapat kehilangan makna. Nilai tinggi, peringkat, dan ijazah menjadi tujuan yang lebih menonjol daripada penguasaan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam situasi seperti ini, kemampuan berpikir kritis, kejujuran akademik, dan kedalaman pemahaman berisiko tersisih oleh keinginan memperoleh hasil secara cepat.

Praktik plagiarisme, penggunaan jasa pengerjaan tugas, hingga manipulasi nilai memperlihatkan bagaimana orientasi pada hasil dapat mengabaikan proses belajar. Tentu persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh materialisme, tetapi juga berkaitan dengan lemahnya integritas, pengawasan, dan budaya akademik. Namun, gejala itu mengingatkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan prestasi administratif tanpa membangun karakter peserta didik.

Pendidikan Bukan Sekadar Komoditas
Persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah ketimpangan akses terhadap pendidikan berkualitas. Ketika pendidikan semakin diperlakukan sebagai komoditas, kemampuan ekonomi keluarga dapat menjadi faktor yang menentukan kesempatan seseorang memperoleh layanan pendidikan terbaik. Akibatnya, pendidikan yang seharusnya menjadi sarana mobilitas sosial justru berisiko memperlebar kesenjangan.

Kondisi tersebut menghadirkan tantangan besar bagi Indonesia. Anak-anak yang berasal dari keluarga mampu mempunyai peluang lebih luas untuk memperoleh fasilitas belajar, teknologi, dan lingkungan pendidikan yang mendukung. Sebaliknya, sebagian peserta didik dari keluarga kurang mampu masih menghadapi keterbatasan sarana, akses informasi, dan kesempatan mengembangkan potensi.

Padahal, pendidikan merupakan hak warga negara sekaligus instrumen penting untuk mewujudkan keadilan sosial. Dalam perspektif Pancasila dan UUD 1945, pendidikan tidak semestinya hanya mengikuti kemampuan pasar, tetapi juga harus menjamin kesempatan yang adil bagi seluruh masyarakat. Kemajuan pendidikan nasional tidak cukup diukur dari bertambahnya lembaga pendidikan atau jumlah lulusan, melainkan juga dari semakin terbukanya kesempatan belajar bagi seluruh lapisan masyarakat.

Di sisi lain, pendidikan yang terlalu menekankan penguasaan keterampilan teknis juga berisiko mengabaikan ilmu-ilmu humaniora. Filsafat, sejarah, seni, sastra, dan ilmu sosial terkadang dianggap kurang memiliki manfaat ekonomi secara langsung dibandingkan bidang ilmu terapan. Padahal, bidang-bidang tersebut berperan penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial, kesadaran sejarah, dan pemahaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Bangsa yang maju tentu membutuhkan ilmuwan, insinyur, tenaga kesehatan, dan pekerja terampil. Namun, bangsa juga membutuhkan manusia yang mampu membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan umum, memahami persoalan sosial, serta menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Kemajuan teknologi tanpa kematangan moral dapat melahirkan persoalan baru apabila tidak disertai kesadaran mengenai dampaknya terhadap manusia dan lingkungan.

Menyeimbangkan Keterampilan dan Pembentukan Manusia
Meskipun demikian, kritik terhadap orientasi materialistis tidak berarti pendidikan harus mengabaikan kebutuhan ekonomi. Indonesia tetap membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan teknis, kemampuan inovasi, dan penguasaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas nasional. Pendidikan vokasi serta penguasaan sains, teknologi, teknik, dan matematika merupakan bagian penting dari upaya menghadapi perubahan dunia kerja.

Persoalan utamanya bukan memilih antara pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja atau pendidikan yang membentuk karakter. Keduanya harus berjalan secara seimbang. Pendidikan perlu mempersiapkan manusia agar mampu bekerja dan menciptakan nilai ekonomi, sekaligus membangun kemampuan bernalar, kepekaan sosial, integritas, dan tanggung jawab moral.

Keseimbangan tersebut menjadi semakin penting ketika perkembangan teknologi mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan memperoleh pengetahuan. Kemampuan teknis yang relevan hari ini belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masa depan. Karena itu, pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan untuk terus belajar, menyesuaikan diri, dan mengembangkan pengetahuan baru.

Tantangan pendidikan Indonesia juga tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti kurikulum. Peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, pemerataan sarana pendidikan, penguatan budaya literasi, serta perbaikan proses pembelajaran harus menjadi perhatian yang berkelanjutan. Kurikulum yang baik akan sulit mencapai tujuannya apabila tidak didukung oleh tenaga pendidik dan lingkungan belajar yang memadai.

Selain itu, proses memperoleh ilmu pengetahuan tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Pengalaman hidup, interaksi sosial, kegiatan komunitas, dan pembelajaran mandiri dapat menjadi sumber pengetahuan yang berharga. Sekolah tetap memiliki peran penting, tetapi pendidikan perlu membuka ruang yang lebih luas bagi manusia untuk belajar sepanjang hayat.

Pandangan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa ijazah dan gelar bukan satu-satunya ukuran kemampuan seseorang. Pengetahuan yang sesungguhnya juga tercermin dari kemampuan memahami persoalan, menghasilkan gagasan, menyelesaikan masalah, dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi proses memperoleh pengakuan formal, tetapi juga perjalanan membangun kualitas diri.

Pendidikan Berpancasila untuk Kemajuan Bangsa
Dalam konteks Indonesia, Pancasila seharusnya menjadi landasan nilai yang menuntun arah pembangunan pendidikan. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial tidak cukup diajarkan sebagai pengetahuan yang harus dihafalkan. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam cara pendidikan diselenggarakan, dalam hubungan antara guru dan peserta didik, serta dalam kesempatan belajar yang diberikan kepada seluruh warga negara.

Pendidikan yang berlandaskan Pancasila harus mampu mempertemukan kemajuan ilmu pengetahuan dengan pembentukan manusia yang beradab. Penguasaan teknologi perlu berjalan bersama tanggung jawab moral, sedangkan peningkatan keterampilan ekonomi harus disertai kepedulian terhadap kepentingan masyarakat. Dengan cara itulah pendidikan dapat berperan dalam membangun bangsa yang maju tanpa kehilangan jati dirinya.

Kemajuan suatu bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya tenaga ahli atau tingginya tingkat penguasaan teknologi. Kemajuan juga ditentukan oleh kualitas manusia yang menggunakan ilmu pengetahuan tersebut. Bangsa membutuhkan generasi yang cerdas, kreatif, mandiri, memiliki integritas, dan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Karena itu, pendidikan harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai proses memanusiakan manusia. Pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan dan penghasilan, melainkan juga sarana membangun kesadaran, memperluas cara berpikir, dan meningkatkan kualitas kehidupan. Semakin luas pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk memahami kehidupan dan memberikan manfaat bagi sesama.

Catatan kecil dari Sekolah Kejeniusan Ekopol Konstitusi ini mengingatkan bahwa membangun Indonesia yang lebih maju harus dimulai dari membangun manusia Indonesia itu sendiri. Ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, dan nilai-nilai Pancasila perlu tumbuh bersama sebagai fondasi kemajuan bangsa. Sebagaimana ungkapan yang patut terus direnungkan, “Semakin banyak ilmu, semakin lapang hidup. Semakin kurang ilmu, semakin sempit hidup.”(*)

Artikel dalam rubrik Ruang Kata berisi pendapat pribadi dari penulis, bukan sikap Redaksi Beritanow.

Komentar (0)