Malaysia Turun Tangan Padamkan Karhutla, Mengapa Kebakaran Terus Berulang?
Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
Indonesia kembali mendapat bantuan negara tetangga untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Malaysia menawarkan satu pesawat, tiga helikopter, serta 52 personel untuk membantu memadamkan kebakaran di Kalimantan yang telah berlangsung selama beberapa pekan.
Presiden Prabowo Subianto menerima bantuan tersebut setelah bertemu Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi pada Jumat, 18 September 2026. Prabowo mengatakan Indonesia menyambut bantuan itu dengan baik karena dampak kebakaran tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga negara-negara tetangga.
Malaysia bukan satu-satunya negara yang membantu. Sebelumnya, Jepang juga telah mengirim dukungan untuk operasi pemadaman di Kalimantan. Pemerintah Indonesia sendiri menghadapi kebakaran yang disebut sebagai salah satu yang terparah dalam 11 tahun terakhir. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperingatkan kebakaran dapat terus berlangsung hingga November.
Bantuan Malaysia menunjukkan satu hal penting yaitu karhutla Indonesia sudah memiliki konsekuensi lintas batas. Asap dari kebakaran di Indonesia telah memengaruhi kualitas udara di Malaysia dan Singapura. Karena itu, persoalan yang awalnya terlihat sebagai bencana lingkungan domestik berubah menjadi persoalan regional.
Malaysia memiliki kepentingan langsung untuk membantu mengendalikan kebakaran tersebut. Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid menyebut bantuan itu sebagai bagian dari upaya menangani kebakaran dan kabut asap lintas batas. Kedua negara juga membicarakan langkah pencegahan agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Persoalannya menjadi semakin serius jika melihat luas wilayah terdampak. Pemerintah Indonesia mencatat lebih dari 202.000 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juli. Estimasi Nusantara Atlas bahkan jauh lebih besar dan memperkirakan wilayah terdampak hingga hampir 896.000 hektare jika periode sampai Agustus diperhitungkan. Perbedaan angka menunjukkan bahwa persoalan pemantauan dan pengukuran luas kebakaran juga tidak sederhana.
Kebakaran hutan juga tidak berhenti pada persoalan pohon yang terbakar. Dampaknya merambat ke kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi dan kualitas lingkungan. Reuters melaporkan lebih dari 113.000 kasus gangguan pernapasan tercatat pada 1–9 September di tujuh provinsi terdampak.
Artinya, biaya karhutla pada akhirnya tidak hanya ditanggung oleh pihak yang berada di lokasi kebakaran. Masyarakat harus menanggung biaya kesehatan, pemerintah mengeluarkan anggaran untuk pemadaman dan penanganan bencana, sementara negara tetangga menghadapi dampak kabut asap. Di sinilah karhutla tidak lagi hanya persoalan api, tetapi juga biaya sosial dan lingkungan yang ditanggung banyak pihak.
Pemerintah telah meningkatkan operasi pemadaman dan penegakan hukum. Presiden Prabowo bahkan meminta agar mekanisme sanksi terhadap pelaku pembakaran diperkuat dan membuka kemungkinan mengategorikan pembakaran hutan dan lahan sebagai "eco-terrorism".
Pertanyaan yang lebih besar adalah mengapa kebakaran terus terjadi? Para ahli mengaitkan peningkatan risiko kebakaran dengan perubahan iklim, degradasi hutan selama puluhan tahun, serta praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Faktor cuaca ekstrem dapat memperbesar risiko, tetapi kerentanan lanskap juga dibentuk oleh aktivitas manusia.
Karena itu, kedatangan bantuan Malaysia penting untuk memadamkan api hari ini. Tetapi ukuran keberhasilan yang lebih besar adalah apakah Indonesia mampu membuat bantuan semacam ini tidak lagi diperlukan setiap kali musim kebakaran datang. Sebab jika kebakaran terus berulang, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana memadamkan api. Persoalannya adalah mengapa sistem kita gagal mencegah api muncul kembali.(*)