Minggu, 01 November 2026
Breaking News
Daerah

Kirab Batik 116 Meter, Pekalongan Pamer Kain Raksasa

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Kirab Batik 116 Meter, Pekalongan Pamer Kain Raksasa
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

PEKALONGAN, BeritaNow.com — Biasanya kain batik cukup panjang untuk dijadikan kemeja, sarung, atau kebaya. Namun, di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, kain batik sepanjang 116 meter justru diajak berkeliling dalam sebuah kirab budaya. Acara tersebut menjadi bagian dari kampanye pelestarian batik yang melibatkan masyarakat dan komunitas seni pada Sabtu (31/10/2026).

Kirab Batik 116 Meter berlangsung bersama parade Gunungan Kain Batik dan penampilan peserta berkostum kreatif. Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Pekalongan bersama pegiat batik Pesindon itu menjadi puncak rangkaian peringatan Hari Batik Nasional. Selain memperkenalkan kekayaan budaya, penyelenggara mengampanyekan penggunaan batik berbahan pewarna alam yang lebih ramah lingkungan.

Kain 116 Meter, Mau Dijadikan Baju Siapa?
Pemandangan menarik muncul ketika peserta membawa kain panjang dalam kirab di kawasan Pekalongan. Sejumlah peserta lainnya mengenakan busana kreasi dengan sentuhan batik yang menjadi ciri khas kota tersebut. Foto-foto ANTARA memperlihatkan bagaimana kain tradisional dapat ditampilkan dalam bentuk perayaan budaya yang berbeda dari kegiatan membatik sehari-hari.

Kirab tersebut merupakan bagian dari Pesindon Batik Vibes 2026 yang mengusung tema Merajut Warisan Budaya. Rangkaian kegiatan juga mencakup jalan santai bertema batik dan sarasehan kebudayaan. Agenda yang dipusatkan di Kampung Wisata Batik Pesindon itu dijadwalkan dimulai sejak pukul 06.00 WIB.

Ada sisi jenaka dari pertunjukan kain sepanjang 116 meter tersebut. Kalau kain sepanjang itu dijadikan pakaian, tentu penjahitnya membutuhkan ukuran yang luar biasa. Namun, tujuan sesungguhnya bukan membuat pakaian raksasa, melainkan menarik perhatian masyarakat terhadap warisan budaya yang perlu terus dirawat.

Batik Tak Harus Menunggu Undangan Kondangan
Ketua Panitia Pesindon Batik Vibes 2026, Muhammad Salahudin, menyampaikan bahwa batik perlu dipandang sebagai busana yang cocok untuk berbagai kegiatan. Menurutnya, penggunaan batik tidak harus terbatas pada acara formal atau kegiatan pemerintahan. Pesan itu diperkenalkan melalui jalan santai yang melibatkan masyarakat dengan beragam kreasi pakaian batik.

Panitia semula menargetkan sekitar 1.000 peserta dalam kegiatan jalan santai. Berdasarkan laporan Disway Jateng, jumlah kehadiran diperkirakan mencapai 500 orang. Angka tersebut merupakan perkiraan peserta kegiatan jalan santai, bukan jumlah pasti seluruh pengunjung festival.

Bagi pembatik lokal, kegiatan budaya semacam ini dapat membuka ruang pertemuan dengan calon pembeli dan wisatawan. Namun, besarnya dampak ekonomi belum dapat disimpulkan hanya dari keramaian acara. Data transaksi penjualan, jumlah wisatawan, dan peningkatan pesanan tetap diperlukan untuk mengukur manfaatnya bagi pelaku usaha.

Batik Hijau, Bukan Sekadar Motif Daun
Pesan lingkungan menjadi bagian penting dari Kirab Batik 116 Meter. Penyelenggara memperkenalkan penggunaan pewarna alam sebagai salah satu pendekatan produksi batik yang lebih memperhatikan kelestarian lingkungan. Kampanye tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Pekalongan mendorong industri batik yang mengurangi pencemaran.

Beberapa hari sebelum kirab, pemerintah daerah menggelar pameran kolaborasi Museum Batik dengan Green Batik. Sebanyak 14 pembatik dilibatkan dalam kegiatan yang juga memperkenalkan teknologi pengolahan limbah cair. Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab berharap inovasi pengolahan limbah dapat membantu menjaga produktivitas perajin sekaligus mengurangi pencemaran sungai.

Meski demikian, pewarna alam bukan jaminan bahwa seluruh proses produksi otomatis bebas dampak lingkungan. Penggunaan air, bahan tambahan, dan pengelolaan limbah tetap perlu diperhatikan. Karena itu, kampanye batik ramah lingkungan akan lebih bermakna apabila diikuti perubahan praktik produksi yang dapat diukur.

Setelah Kirab, Batik Harus Tetap Hidup
Pekalongan sebelumnya juga pernah menghadirkan kain batik sepanjang 116 meter dalam kegiatan Pesindon Batik Vibes 2025. Ketika itu, ratusan pelajar dilibatkan dalam proses menghias kain menggunakan cap dan pewarna alami. Kegiatan terbaru memperlihatkan kelanjutan upaya memperkenalkan batik melalui pengalaman yang melibatkan masyarakat.

Batik bukan hanya identitas budaya, melainkan juga keterampilan yang menopang kehidupan para perajin. Generasi muda membutuhkan kesempatan mengenal proses pembuatannya, sementara pelaku usaha membutuhkan pasar yang berkelanjutan. Festival dapat membantu mempertemukan kedua kepentingan tersebut, meskipun hasil ekonominya tetap perlu dievaluasi.

Kirab kain sepanjang 116 meter akhirnya menjadi pengingat bahwa tradisi tidak harus disimpan di lemari atau museum. Batik dapat hadir di jalanan, kegiatan santai, dan berbagai ruang kehidupan masyarakat. Sebab, warisan budaya akan tetap hidup bukan hanya karena sering dipamerkan, tetapi karena terus dibuat, dipakai, dan dihargai.(*)

Sumber Foto: Antara

Komentar (0)