Bisakah Uang Sebarkan Virus Corona? Ini Kata Ahli Kesehatan

Covid-19 atau virus Corona hingga kini telah menyebar hingga ke 152 negara. Virus yang telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO itu telah menelan puluhan ribu korban jiwa. Di Indonesia sendiri sudah ada 309 orang yang dikabarkan terinfeksi Covid-19. Dari 309 itu, 15 orang dinyatakan sembuh sementara 25 orang lainnya meninggal. Lalu apa yang menyebabkan seseorang bisa terjangkit Covid-19 atau virus Corona?

Covid-19 atau virus Corona dapat menyebar melalui cairan yang dikeluarkan oleh orang yang terinfeksi, seperti saat mereka batuk atau bersin. Cairan tersebut yang kemudian bisa menempel di berbagai macam area permukaan. Beberapa area permukaan yang keras bahkan bisa membuat virus dalam cairan menjadi hidup lebih lama dan menjadi sarang dari virus tersebut, misalnya kartu kredit dan uang logam.

China, tempat asal penyebaran dari Covid-19 atau virus Corona sendiri baru saja melakukan strategi pencegahan lanjutan dengan membersihkan uang-uang yang beredar, menggunakan disinfektan, sinar UV dan suhu tinggi, serta memusnahkan uang yang berpotensi menjadi penyebaran infeksi Covid-19. Uang yang berpotensi menjadi penyebaran Covid-19 atau virus Corona adalah yang berasal dari rumah sakit dan pasar tradisional. Uang tersebut lalu disimpan untuk disterilkan selama 14 hari sebelum kembali dibagikan ke masyarakat.

Hal ini dikarenakan uang bisa berpindah dari satu tangan ke banyak tangan lainnya setiap hari sehingga uang menjadi salah satu benda yang paling sering tersentuh. Seperti dikutip dari Business Insider, menurut Rachel Graham, seorang ahli epidemologi di University of North Carolina, permukaan halus dan tidak keropos seperti meja, gagang pintu, dan uang logam dapat membawa virus lebih baik dan membuatnya dapat hidup lebih lama.

“Uang koin atau logam akan menularkan virus lebih baik daripada uang kertas, tetapi ini seharusnya tidak menjadi masalah besar,” kata Rachel. “Aturan dasar sebenarnya adalah menganggap uang kotor, karena memang demikian. Terlalu banyak tangan yang menyentuhnya,” tambahnya.

Bahan dasar pembuat uang yaitu katun 75% dan linen 25%, membuat uang menjadi salah satu benda yang memiliki pertumbuhan bakteri tinggi. Selain itu ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa uang sangatlah kotor. Salah satu penelitian pada 2010 menemukan bahwa uang kertas di Amerika Serikat mengandung 10 mikroba bakteri per cm persegi, lebih tinggi dari Australia atau Selandia Baru.

Selain itu, penelitian yang dilakukan di New York dan dipublikasikan pada 2017 menemukan bahwa uang di Amerika Serikat mengandung DNA hewan peliharaan, jejak kokain, dan lebih dari seratus jenis bakteri yang berbeda. Walaupun demikian, penularan penyakit terkait dengan uang jarang terjadi dan tidak ada wabah penyakit besar yang dimulai dari uang.

Namun jika kamu tidak mau mengambil risiko akan penularan infeksi virus melalui uang, Epidemiolog, Jennifer Horney dari University of Delaware menyarankan memakai kartu kredit atau kartu debit. Jennifer mengatakan kartu kredit dan debit lebih tidak berisiko untuk digunakan. Hal ini dikarenakan alat pembayaran tersebut bisa dibersihkan setiap saat dengan menggunakan pembersih yang bisa membunuh bakteri, kuman, dan virus.

Apapun alat pembayaran yang kamu gunakan, baik uang tunai atau memakai kartu kredit atau debit, kamu tetap harus mencuci tangan setelah menyentuhnya. Apalagi di saat ini ketika virus Corona sudah menyebar ke berbagai belahan dunia. Jika memungkinkan, gunakan metode cashless sehingga kamu tidak perlu mengeluarkan uang tunai ke manapun kamu pergi.



BERIKAN KOMENTAR ANDA
(Visited 928 times, 1 visits today)