Senin, 21 September 2026
Breaking News
Nasional

Batu Bara Jadi Bensin: Indonesia Mencari Jalan Keluar dari Ketergantungan Impor Energi

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Batu Bara Jadi Bensin: Indonesia Mencari Jalan Keluar dari Ketergantungan Impor Energi
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Gagasan batu bara jadi bensin kembali masuk dalam agenda pemerintah ketika Indonesia sedang mencari cara memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik dan tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Senin, 21 September 2026, menyatakan kementeriannya siap menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan bahan bakar dari batu bara.

Menurut Bahlil, pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan sumber energi domestik. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan teknologi coal-to-liquid (CTL) atau pencairan batu bara telah digunakan di sejumlah negara. Pemerintah kini mengevaluasi teknologi dan potensi cadangan batu bara Indonesia untuk pengembangannya.

Bukan Teknologi Baru

Secara sederhana, coal-to-liquid merupakan teknologi yang mengubah batu bara menjadi hidrokarbon cair. Menurut IEA, proses tersebut dapat dilakukan melalui gasifikasi batu bara menjadi syngas yang kemudian diproses menjadi bahan bakar cair, atau melalui pencairan langsung dengan hidrogen.

Indonesia sebenarnya sudah lama memasukkan pencairan batu bara dalam peta jalan pemanfaatan batu bara. Dokumen pemerintah tentang roadmap batu bara 2021–2045 mencantumkan coal liquefaction sebagai salah satu opsi untuk menghasilkan bahan bakar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dan bahan baku.

Artinya, pernyataan pemerintah kali ini bukan sekadar muncul dari gagasan baru. Yang berubah adalah konteks strategisnya, yaitu kebutuhan memperkuat pasokan energi domestik semakin mendapat perhatian.

Ketahanan Energi Sedang Diuji

Beberapa hari sebelum rencana batu bara menjadi bensin disampaikan, pemerintah telah menempatkan kemandirian energi sebagai salah satu agenda strategis nasional. 

Dalam sidang Dewan Energi Nasional pada 17 September, pemerintah membahas sejumlah langkah untuk mengurangi ketergantungan energi dari luar negeri, mulai dari pengembangan sumber energi domestik, B50 dan E50, peningkatan produksi minyak, hingga percepatan energi surya.

Konteks ini menjadi penting karena gejolak harga minyak dunia dapat langsung memengaruhi kebutuhan impor dan tekanan terhadap anggaran energi. Pada September ini, harga minyak global bahkan sempat menembus US$100 per barel di tengah ketegangan geopolitik.

Dalam situasi tersebut, batu bara menawarkan satu keuntungan strategis, di mana Indonesia memiliki sumber daya batu bara yang besar dan dapat mengolahnya menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri.

Batu Bara Jadi Bensin Punya Tantangan

Persoalannya, mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair tidak sesederhana mengganti bahan baku minyak dengan batu bara. Teknologinya kompleks dan membutuhkan investasi besar. IEA juga mencatat bahwa CTL menghadapi tantangan terkait biaya, harga minyak, regulasi, serta mitigasi emisi karbon.

Aspek lingkungan menjadi perhatian penting. IEA menyebut batu bara sebagai sumber emisi CO2 terbesar dari energi secara global. Sementara kajian mengenai CTL menunjukkan proses tersebut dapat memiliki intensitas emisi yang tinggi apabila tidak disertai teknologi pengendalian karbon.

Karena itu, keberhasilan program batu bara jadi bensin nantinya tidak hanya ditentukan oleh apakah teknologinya mampu menghasilkan bahan bakar. Pertanyaan berikutnya adalah berapa biaya produksinya, seberapa besar kebutuhan investasinya, berapa banyak impor yang dapat ditekan, dan bagaimana emisinya dikendalikan.

Pemerintah kini masih berada pada tahap evaluasi teknologi dan potensi cadangan. Dengan kata lain, batu bara menjadi bensin belum menjadi sumber BBM baru yang siap menggantikan minyak.

Namun, arah kebijakannya mulai terlihat. Indonesia sedang mencoba mengubah persoalan ketergantungan energi menjadi agenda hilirisasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa energi yang disebut mandiri tersebut benar-benar layak secara ekonomi, tersedia dalam skala besar, dan dapat dipertanggungjawabkan dari sisi lingkungan.(*)

Komentar (0)