Minggu, 01 November 2026
Breaking News
Daerah

Banjir Agam Rendam 30 Hektare, Panen Petani Terancam!

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Banjir Agam Rendam 30 Hektare, Panen Petani Terancam!
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

AGAM, BeritaNow.com — Harapan petani menikmati hasil panen mendadak terusik setelah banjir merendam sekitar 30 hektare lahan pertanian di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Hujan deras pada Minggu (1/11/2026) membuat air meluap hingga memasuki kebun cabai, sayuran, dan lahan pertanian lainnya. Banjir Agam kali ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam sumber penghasilan warga yang menggantungkan hidup pada hasil bumi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam mencatat lahan terdampak tersebar di tiga jorong, yakni Kubu, Batu Gadang, dan Talao, Nagari Padang Laweh, Kecamatan Sungai Pua. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur, menyampaikan bahwa hujan berintensitas tinggi menyebabkan saluran air tersumbat material lumpur dan sampah. Akibatnya, air meluap ke permukiman, jalan, serta lahan pertanian warga.

Bagi petani, pemandangan air menggenangi kebun tentu bukan kabar yang menggembirakan. Tanaman yang selama ini dirawat membutuhkan kondisi lahan yang sesuai agar dapat menghasilkan panen. Namun, besarnya kerusakan tanaman dan kerugian ekonomi akibat banjir terbaru ini masih menunggu pendataan lebih lanjut.

Hujan Deras, Gorong-Gorong Jadi Biang Masalah
Banjir terjadi sekitar pukul 13.05 WIB setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Material lumpur dan sampah menyumbat gorong-gorong sehingga air tidak mengalir sebagaimana mestinya. Saluran yang seharusnya membantu mengalirkan air justru menjadi titik penyumbatan ketika debit meningkat.

Luapan air kemudian menjangkau jalan penghubung Jorong Batu Gadang dan Jorong Kubu hingga menyebabkan kerusakan. Sebanyak tiga rumah warga juga dilaporkan tergenang. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Ada ironi yang sulit diabaikan dari peristiwa ini. Petani membutuhkan air untuk menghidupkan tanaman, tetapi air yang datang berlebihan justru dapat merusak lahan yang menjadi sumber nafkah. Persoalan semakin rumit ketika sampah dan lumpur menghambat saluran yang seharusnya membantu mengurangi genangan.

Cabai dan Sayuran Terendam, Petani Menunggu Kepastian
Luas lahan pertanian yang terdampak mencapai sekitar 30 hektare berdasarkan pendataan awal BPBD. Komoditas yang disebutkan meliputi cabai, berbagai jenis sayuran, dan tanaman pertanian lainnya. Namun, pemerintah belum merinci luas kerusakan masing-masing komoditas maupun jumlah petani terdampak.

Genangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman apabila berlangsung terlalu lama. Pada tanaman yang sensitif terhadap kelebihan air, kondisi tersebut berpotensi merusak akar dan mengurangi produktivitas. Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah seluruh lahan yang tergenang akan mengalami gagal panen.

Dampak ekonomi juga masih membutuhkan penghitungan berdasarkan usia tanaman, tingkat kerusakan, dan potensi hasil yang hilang. Kerugian petani tidak cukup dihitung hanya dari luas lahan yang terkena banjir. Apalagi, tidak seluruh tanaman yang tergenang otomatis kehilangan nilai panennya.

Warga Gotong Royong, Air Mulai Surut
BPBD Agam berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan nagari untuk melakukan penanganan awal. Pemerintah nagari, Kelompok Siaga Bencana (KSB), dan masyarakat kemudian bergotong royong membersihkan material yang menyumbat gorong-gorong. Setelah penyumbatan dibersihkan, aliran air kembali lancar dan genangan mulai surut.

Namun, surutnya air belum berarti seluruh persoalan selesai. Material lumpur masih tertinggal di badan jalan sehingga pemerintah nagari berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran Agam untuk pembersihan lanjutan. Kondisi lahan pertanian juga memerlukan pemeriksaan setelah air benar-benar surut.

Peristiwa tersebut memperlihatkan pentingnya pemeliharaan drainase dan kesiapsiagaan menghadapi hujan lebat. Pembersihan saluran dapat membantu mengurangi hambatan aliran air, tetapi pencegahan jangka panjang tetap memerlukan penilaian kondisi infrastruktur setempat. Tanpa perbaikan yang sesuai, risiko genangan berulang perlu terus diwaspadai.

Bagi warga Padang Laweh, gotong royong menjadi langkah pertama memulihkan lingkungan setelah banjir. Akan tetapi, pekerjaan berikutnya adalah memastikan tanaman yang masih dapat diselamatkan serta mendata kerugian petani. Sebab, bagi keluarga yang hidup dari pertanian, air yang surut memang membawa kelegaan, tetapi belum tentu mengembalikan harapan panen.(*)

Komentar (0)