Xi-Trump Bertemu Lagi, Kunjungan Timbal Balik Enam Bulan Jadi Tonggak Baru China-AS
Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Hubungan China dan Amerika Serikat memasuki babak diplomasi tingkat tinggi ketika "Xi-Trump" kembali bertemu dalam waktu kurang dari enam bulan. Presiden China Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat pada 23–25 September 2026 atas undangan Presiden Donald Trump.
Kementerian Luar Negeri China menyebut kunjungan timbal balik kedua pemimpin dalam rentang enam bulan sebagai sebuah tonggak bersejarah. Beijing menyatakan kedua kepala negara akan bertukar pandangan mengenai hubungan China-AS serta persoalan perdamaian dan pembangunan dunia.
Kunjungan Xi ke Washington juga menjadi kunjungan kenegaraan pertamanya ke Amerika Serikat sejak 2015. Gedung Putih menyatakan Trump dan Ibu Negara Melania Trump akan menyambut Xi dan Peng Liyuan di Gedung Putih pada 24 September.
Xi-Trump dan Diplomasi yang Kembali Bergerak
Pertemuan kali ini memiliki konteks berbeda dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Hubungan kedua negara masih dibayangi perselisihan mengenai perdagangan, teknologi, mineral kritis, dan keamanan. Namun, komunikasi tingkat tinggi antara Washington dan Beijing terus berlangsung.
Sebelum Xi berkunjung ke Amerika Serikat, Trump telah melakukan kunjungan ke China pada tahun ini. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepahaman ekonomi, termasuk pembentukan mekanisme kerja sama perdagangan dan investasi serta pembahasan mengenai pasokan rare earth dan mineral kritis.
Gedung Putih menyebut kedua pemimpin sebelumnya telah menyepakati hubungan yang konstruktif dan stabil berdasarkan prinsip keadilan serta timbal balik. Dengan demikian, kunjungan Xi kali ini bukan pertemuan yang berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari rangkaian diplomasi untuk mempertahankan komunikasi setelah beberapa tahun hubungan China-AS diwarnai persaingan strategis.
Perdagangan dan Rare Earth Menjadi Perhatian
Salah satu persoalan yang kemungkinan kembali menjadi pembahasan adalah perdagangan. Amerika Serikat dan China masih memiliki kepentingan besar satu sama lain, tetapi juga menghadapi perselisihan mengenai tarif, pembatasan teknologi, serta ekspor mineral penting.
Reuters melaporkan negosiasi menjelang pertemuan Xi dan Trump masih mencakup persoalan rare earth, kecerdasan artifisial, serta masa depan kesepakatan perdagangan dan teknologi kedua negara. Kedua pihak juga membahas pembentukan Board of Trade untuk mengidentifikasi barang-barang non-sensitif yang berpotensi memperoleh pengurangan tarif.
Rare earth menjadi isu strategis karena mineral tersebut digunakan dalam berbagai industri, termasuk elektronik, semikonduktor, dan teknologi pertahanan. Karena itu, hubungan China-AS tidak hanya menentukan perdagangan dua negara. Kebijakan kedua negara dapat berpengaruh terhadap rantai pasok global.
Enam Bulan yang Menunjukkan Perubahan Diplomasi
Bagi Beijing, kunjungan timbal balik dalam enam bulan memiliki makna diplomatik tersendiri. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan diplomasi kepala negara memiliki peran penting dalam memberikan arah strategis hubungan bilateral.
China menyatakan ingin memperkuat dialog dan kerja sama, mengelola perbedaan, serta memperluas hubungan yang disebut Beijing sebagai hubungan konstruktif dan stabil secara strategis. Namun, intensitas pertemuan tidak otomatis berarti seluruh persoalan telah selesai.
Justru sejumlah isu sensitif masih berada di meja perundingan. Perdagangan, teknologi, Taiwan, mineral kritis, dan posisi kedua negara terhadap berbagai konflik internasional tetap menjadi bagian dari hubungan yang kompleks.
Karena itu, makna penting dari pertemuan Xi-Trump kali ini lebih tepat dilihat sebagai terbukanya kembali ruang komunikasi langsung antara dua kekuatan ekonomi dan politik terbesar dunia.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya apakah kedua pemimpin dapat menghasilkan kesepakatan baru, tetapi apakah diplomasi tatap muka tersebut mampu menjaga hubungan China-AS tetap terkendali ketika kepentingan kedua negara semakin sering berhadapan.
Bagi dunia, stabilitas hubungan Washington dan Beijing bukan persoalan bilateral semata. Perubahan kebijakan keduanya dapat merambat ke perdagangan, teknologi, investasi, mineral kritis, hingga rantai pasok global.(*)