Teknologi Pemadam Kebakaran Otomatis, Bagaimana AI Mendeteksi Api?
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
BERITANOW.COM – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang baru dalam meningkatkan keselamatan kebakaran. Melalui kombinasi sensor, sistem pemantauan, dan kendali otomatis, teknologi dapat membantu mendeteksi potensi bahaya lebih awal serta mempercepat respons terhadap kondisi darurat.
Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah sistem pemadam kebakaran otomatis. Sistem semacam ini dapat dirancang untuk merespons indikasi bahaya berdasarkan parameter tertentu, seperti suhu, asap, atau keberadaan nyala api.
Namun, perlu dibedakan antara sistem otomatis berbasis sensor dan sistem yang benar-benar menggunakan AI. Keduanya dapat memiliki fungsi yang berbeda, bergantung pada rancangan serta teknologi yang digunakan.
Cara Kerja Sistem Pemadam Kebakaran Otomatis
Pada sistem konvensional, sensor mendeteksi kondisi tertentu dan mengirimkan sinyal kepada perangkat pengendali. Jika parameter yang ditetapkan terpenuhi, sistem dapat mengaktifkan alarm atau perangkat pemadam sesuai dengan desain instalasinya.
Sementara itu, sistem yang menggunakan AI berpotensi mengolah berbagai masukan untuk membantu mengenali pola bahaya. Misalnya, teknologi pengolahan citra dapat digunakan untuk menganalisis rekaman kamera dan mengidentifikasi indikasi asap atau api.
Meski demikian, kemampuan tersebut tidak otomatis dimiliki oleh setiap perangkat pemadam kebakaran. Penggunaan AI harus dibuktikan melalui dokumentasi teknis atau keterangan resmi dari pengembang maupun pengelola sistem.
Suhu 74 Derajat Celsius Bukan Bukti Penggunaan AI
Informasi mengenai sistem pemadam kebakaran yang disebut aktif ketika suhu mencapai sekitar 165 derajat Fahrenheit, atau setara dengan 73,9 derajat Celsius, perlu dipahami secara hati-hati.
Ambang suhu tertentu dapat digunakan pada perangkat deteksi maupun pemadam kebakaran otomatis. Namun, angka tersebut saja tidak cukup untuk memastikan bahwa suatu sistem menggunakan kecerdasan buatan.
Untuk membuktikan penggunaan AI, diperlukan informasi tambahan mengenai jenis sensor, perangkat lunak, metode analisis, serta mekanisme pengambilan keputusan yang diterapkan.
Karena itu, klaim mengenai sistem pemadam kebakaran berbasis AI yang disebut diuji di Stasiun Fuyang West, Tiongkok, belum dapat dipastikan tanpa konfirmasi resmi dari pengelola stasiun atau sumber teknis yang dapat diverifikasi.
Mengenal Standar GB 19157-2025
Tiongkok memiliki standar nasional GB 19157-2025 yang berjudul General Specification for Remote-Controlled Fire Monitor Systems. Standar ini berkaitan dengan persyaratan umum sistem monitor pemadam kebakaran yang dikendalikan dari jarak jauh.
Standar tersebut diterbitkan pada 1 Agustus 2025 dan mulai berlaku pada 1 Agustus 2026, menggantikan standar GB 19157-2003.
Meski relevan dengan teknologi peralatan pemadam kebakaran, GB 19157-2025 tidak dapat langsung dianggap sebagai standar khusus untuk sprinkler berbasis AI. Sistem monitor pemadam kebakaran yang dikendalikan dari jarak jauh juga berbeda dari sprinkler otomatis konvensional.
Selain itu, belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa instalasi yang diklaim berada di Stasiun Fuyang West secara khusus menggunakan atau mengacu pada standar tersebut.
Informasi mengenai standar ini dapat diperiksa melalui basis data resmi standar nasional Tiongkok.
Teknologi Harus Disertai Verifikasi
Pemanfaatan sensor, otomasi, dan AI berpotensi mendukung upaya pencegahan serta penanganan kebakaran. Namun, efektivitasnya bergantung pada desain sistem, ketepatan deteksi, pemeliharaan, dan kesesuaian perangkat dengan standar keselamatan yang berlaku.
Dalam konteks pemberitaan teknologi, verifikasi juga menjadi bagian penting. Klaim mengenai penerapan AI, lokasi instalasi, suhu aktivasi, dan kepatuhan terhadap standar teknis perlu didukung sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, perkembangan sistem pemadam kebakaran otomatis layak mendapat perhatian, tetapi informasi mengenai penerapan teknologi tertentu harus tetap dibedakan antara fakta yang telah terkonfirmasi dan klaim yang masih membutuhkan pembuktian. (*)