Jumat, 30 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Bisa Terjun ke Rp22.000! Hashim Soroti Bahaya di Balik Evaluasi MSCI

Effra S. Husein | | 3 mnt baca
Rupiah Bisa Terjun ke Rp22.000! Hashim Soroti Bahaya di Balik Evaluasi MSCI
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Rupiah berpotensi mengalami tekanan berat jika persoalan pasar modal Indonesia tidak segera diselesaikan. Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, memperingatkan nilai tukar rupiah bisa melemah hingga Rp21.000–Rp22.000 per dolar Amerika Serikat (AS) apabila terjadi arus keluar modal asing secara besar-besaran.

Peringatan tersebut disampaikan Hashim dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Ia menilai rencana evaluasi status pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi persoalan serius yang harus segera diantisipasi pemerintah dan pelaku usaha.

MSCI Jadi Sorotan, Investor Asing Bisa Tarik Dana

Hashim menilai perubahan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market berpotensi mengurangi minat investor global terhadap aset keuangan domestik. Jika kepercayaan investor melemah, arus modal keluar atau capital outflow dapat meningkat dan menambah tekanan terhadap rupiah.

MSCI pada 15 Oktober 2026 mengumumkan pembukaan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia. Keputusan final dijadwalkan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027. MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta perlunya bukti nyata bahwa pembenahan tata kelola pasar modal telah berjalan efektif.

Hashim mengingatkan, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sekadar masalah teknis di bursa saham. Menurut dia, kepercayaan investor menjadi faktor penting untuk menjaga aliran pendanaan dan stabilitas perekonomian nasional.

Rupiah Rp22.000 Bisa Perberat Utang Luar Negeri

Salah satu risiko yang disoroti Hashim adalah meningkatnya beban pembayaran utang luar negeri apabila rupiah mengalami pelemahan tajam terhadap dolar AS.

Kewajiban dalam valuta asing membutuhkan lebih banyak rupiah ketika nilai tukar domestik melemah. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan keuangan bagi perusahaan maupun pihak yang memiliki utang berdenominasi dolar AS, terutama jika pendapatan mereka sebagian besar diperoleh dalam rupiah.

Hashim bahkan menyebut skenario rupiah menyentuh Rp21.000 hingga Rp22.000 per dolar AS sebagai ancaman serius bagi perekonomian Indonesia. Ia mengingatkan bahwa dampaknya dapat meluas, mulai dari meningkatnya biaya pembayaran pinjaman luar negeri hingga munculnya tekanan ekonomi dan politik.

Namun, angka tersebut merupakan skenario risiko yang diperingatkan Hashim, bukan kepastian bahwa rupiah akan mencapai level tersebut. Realisasi nilai tukar akan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi global, arus modal, kebijakan moneter, serta respons pemerintah dan otoritas keuangan.

Praktik Saham Gorengan Ikut Disorot

Selain ancaman keluarnya modal asing, Hashim menyoroti persoalan integritas perdagangan saham di pasar domestik. Ia menyinggung dugaan praktik saham gorengan, yakni perdagangan yang dapat menyebabkan harga saham bergerak tidak wajar akibat manipulasi atau aktivitas perdagangan tertentu.

Hashim juga menyoroti saham dengan porsi kepemilikan publik atau free float yang terbatas, tetapi memiliki valuasi yang dinilai tidak masuk akal. Persoalan transparansi kepemilikan dan kualitas pembentukan harga saham menjadi perhatian investor institusi global dalam menilai kelayakan pasar Indonesia.

Ia meminta para pengusaha, termasuk anggota Kadin, mendukung pembenahan pasar modal dan menghentikan praktik perdagangan yang merusak kepercayaan investor. Menurut Hashim, langkah perbaikan diperlukan agar pasar saham Indonesia tetap mampu menarik pendanaan dan melindungi kepentingan investor domestik.

Pemerintah Dihadapkan pada Tantangan Menjaga Kepercayaan

Usulan perubahan klasifikasi MSCI menjadi ujian bagi upaya Indonesia memperkuat kredibilitas pasar modal di mata dunia. Transparansi kepemilikan saham, penegakan aturan, dan keterbukaan informasi menjadi sejumlah aspek penting yang perlu diperbaiki.

Apabila pembenahan dilakukan secara konsisten, kepercayaan investor diharapkan dapat dipertahankan. Sebaliknya, ketidakpastian yang berlarut-larut berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar dan menambah tekanan terhadap aset keuangan Indonesia.

Peringatan Hashim menjadi pengingat bahwa persoalan di bursa saham tidak selalu berhenti pada pergerakan indeks. Jika berujung pada penarikan modal asing dan pelemahan rupiah, dampaknya dapat menjalar ke biaya pembiayaan, kewajiban utang luar negeri, serta stabilitas ekonomi nasional. (*)

Komentar (0)