Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
RIYADH, BERITANOW — Serangan atas Riyadh kembali menambah korban setelah sebuah proyektil menghantam King Khalid International Airport dan menewaskan satu warga Pakistan serta melukai 11 orang. Insiden terbaru terjadi setelah bandara yang sama berulang kali menjadi sasaran dalam beberapa hari terakhir. Rangkaian serangan itu mulai mengubah persoalan keamanan menjadi ancaman langsung terhadap ambisi ekonomi Arab Saudi.
Sehari sebelumnya, serangan Houthi terhadap terminal bandara yang sama menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Otoritas Saudi kemudian menutup bandara untuk pemeriksaan keamanan dan penilaian kerusakan. Dalam lima hari terakhir, King Khalid International Airport telah beberapa kali menjadi sasaran.
Bandara Bukan Sekadar Infrastruktur
Bagi Arab Saudi, bandara Riyadh memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar fasilitas transportasi. Negara itu sedang membangun sektor penerbangan, pariwisata, konferensi internasional, dan investasi sebagai bagian penting dari Vision 2030. Gangguan berkepanjangan terhadap pintu masuk utama Riyadh dapat merusak persepsi bahwa kerajaan mampu menyediakan lingkungan bisnis yang aman dan stabil.
Efeknya tidak harus berupa kerusakan besar untuk menjadi mahal. Pembatalan penerbangan, peringatan perjalanan, kenaikan biaya asuransi, serta keraguan investor dapat muncul bahkan hanya dari meningkatnya frekuensi ancaman. Dalam ekonomi yang semakin bergantung pada mobilitas manusia dan modal, rasa aman menjadi bagian dari infrastruktur itu sendiri.
Itulah sebabnya serangan terhadap bandara membawa dampak simbolik yang kuat. Houthi tidak harus menghentikan seluruh ekonomi Saudi untuk memberikan tekanan. Cukup dengan menunjukkan bahwa fasilitas vital di ibu kota tetap dapat dijangkau, mereka dapat meningkatkan biaya pertahanan sekaligus mengganggu kepercayaan.
Saudi Kembali Terseret ke Yaman
Arab Saudi selama beberapa tahun terakhir sebenarnya berusaha keluar dari konflik Yaman. Riyadh sebelumnya memimpin intervensi militer sejak 2015, tetapi perang yang berkepanjangan akhirnya menghasilkan kebuntuan dan gencatan senjata pada 2022. Pemerintah kemudian berusaha mengalihkan fokus dari perang menuju pembangunan ekonomi domestik.
Gelombang serangan baru membalik arah tersebut. Saudi kini kembali melakukan operasi terhadap posisi Houthi dan harus memindahkan sumber daya pertahanan untuk melindungi bandara, fasilitas energi, kawasan pemerintahan, dan infrastruktur strategis. Semakin banyak sasaran yang perlu dijaga, semakin besar pula biaya pertahanan yang harus ditanggung.
Persoalannya adalah Houthi bertempur dengan pola asimetris. Rudal atau drone dengan biaya relatif lebih rendah dapat memaksa Saudi menggunakan sistem pertahanan udara mahal serta menyebarkannya di wilayah yang luas. Ketimpangan biaya seperti ini membuat setiap serangan tidak hanya menjadi persoalan militer, tetapi juga persoalan ekonomi.
Vision 2030 Membutuhkan Stabilitas
Putra Mahkota Mohammed bin Salman membangun Vision 2030 untuk mengurangi ketergantungan Saudi terhadap minyak. Program tersebut mencakup proyek-proyek besar seperti Neom, pengembangan pariwisata, teknologi, hiburan, dan upaya menarik investasi asing. Semua ambisi itu membutuhkan persepsi stabilitas jangka panjang.
Namun, tekanan ekonomi mulai terlihat. Investasi asing disebut tertinggal dari target, sementara biaya pertahanan dan infrastruktur terus meningkat. Serangan Houthi berpotensi memperbesar kesenjangan antara ambisi pembangunan dan kemampuan fiskal pemerintah membiayainya.
Di sinilah serangan atas Riyadh berubah menjadi persoalan strategis. Pertanyaannya bukan hanya apakah Saudi mampu menembak jatuh rudal berikutnya, tetapi apakah negara mampu menjaga keyakinan bahwa transformasi ekonominya tetap berjalan di tengah ancaman keamanan yang meningkat. Setiap serangan baru pada akhirnya ikut menguji kredibilitas proyek ekonomi terbesar Mohammed bin Salman.
Pilihan Saudi Semakin Sempit
Respons militer besar berisiko menarik Saudi semakin dalam ke perang Yaman yang sebelumnya ingin ditinggalkan. Namun, respons yang terlalu terbatas dapat mendorong Houthi menganggap serangan terhadap infrastruktur Saudi masih memberikan keuntungan strategis. Riyadh berada di antara kebutuhan menunjukkan kekuatan dan kebutuhan menghindari perang panjang.
Amerika Serikat juga menjadi faktor penting. Presiden Donald Trump mengatakan Washington sedang berkomunikasi dengan Houthi dan mempertimbangkan keterlibatan lebih jauh, tetapi belum ada kepastian mengenai bentuk dukungan yang akan diberikan. Saudi dengan demikian tidak dapat sepenuhnya mengandalkan pihak luar untuk menyelesaikan ancaman tersebut.
Ujian sesungguhnya bagi Mohammed bin Salman sekarang berada pada kemampuan menyeimbangkan keamanan dan pembangunan. Vision 2030 dibangun atas asumsi bahwa Saudi dapat meninggalkan era konflik berkepanjangan dan masuk ke era investasi. Serangan terhadap Riyadh menunjukkan bahwa transformasi ekonomi tetap membutuhkan satu fondasi paling dasar, yaitu kemampuan negara menjamin bahwa pusat ekonominya aman.(*)
Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.