Rekor Debut Veda Ega Lampaui Ai Ogura, Begini Perjalanannya Menuju Moto3
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Pembalap muda Indonesia Veda Ega Pratama mencatatkan pencapaian musim debut yang melampaui rekor milik Ai Ogura, mantan juara dunia Moto2 asal Jepang. Catatan ini terungkap usai Veda finis di posisi keenam Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Minggu (11/10/2026), yang menambah perolehan poinnya menjadi 115 sepanjang musim ini. Angka tersebut sudah melewati 109 poin yang dikumpulkan Ogura pada musim debut penuhnya bersama Honda Team Asia di kelas Moto3 tahun 2019.
Perbandingan ini terasa istimewa mengingat Ogura sendiri kini dikenal sebagai salah satu nama besar di level Moto2. Pada musim debutnya dahulu, Ogura mengumpulkan poin dari 14 balapan dan hanya sekali naik podium, yakni finis kedua di Aragon, sebelum mengakhiri musim di peringkat ke-10 klasemen. Veda, yang juga bernaung di bawah bendera tim yang sama, kini menempati posisi ketujuh klasemen sementara Moto3 2026 dengan lima balapan tersisa, membuka peluang mengejar rekor poin terbanyak milik pembalap Jepang lain, Taiyo Furusato, yang mencatatkan 172 poin pada musim 2025.
Hasil di Mandalika sendiri tidak datang dengan mudah. Tampil di hadapan publik sendiri, Veda sempat terlibat pertarungan ketat di barisan depan dan bahkan sempat menempati posisi kedua pada lap kedua balapan. Posisi itu sempat merosot ke urutan keempat sebelum ia kembali tampil agresif lewat sejumlah aksi salip-menyalip hingga akhirnya menyentuh garis finis tepat di belakang Rico Salmela. Hasil ini sekaligus mengakhiri rentetan empat seri beruntun di mana Veda gagal finis di posisi 10 besar.
Jalan panjang dari Wonosari hingga podium Grand Prix
Nama Veda mulai dikenal luas setelah mencatatkan sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang naik podium di kejuaraan dunia Grand Prix, lewat hasil finis ketiga di GP Brasil musim ini. Perjalanannya menuju titik tersebut dimulai jauh sebelum nama besar itu melekat padanya. Lahir di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 23 November 2008, Veda mulai mengendarai minibike sejak usia lima tahun dan sudah turun berkompetisi setahun berselang.
Dukungan keluarga menjadi fondasi penting dalam perjalanan itu. Ayahnya, Sudarmono, merupakan mantan pembalap yang pernah berlaga di Kejuaraan Nasional Supersport 600 dan bahkan menjadi sponsor pertama bagi karier balap putranya. Pengalaman sang ayah membuat pemahaman soal disiplin, keberanian mengambil keputusan, hingga pengendalian emosi di lintasan bisa ditularkan secara langsung kepada Veda sejak dini.
Gelar juara Kejuaraan Nasional Balap Underbone pada 2019, saat usianya baru 10 tahun, menjadi penanda awal potensi besarnya. Dari sana, ia melangkah ke Asia Talent Cup sebagai jalur pembinaan menuju kejuaraan internasional, sebelum akhirnya bergabung dengan Honda Team Asia di kelas Moto3 musim ini. Mengusung nomor balap 9, Veda kini bersaing langsung dengan talenta-talenta muda terbaik dunia di salah satu kelas paling kompetitif dalam jenjang Grand Prix.
Fokus pada proses, bukan sekadar target
Di tengah sorotan publik yang semakin besar usai catatan sejarah di Brasil, Veda memilih pendekatan yang relatif tenang dalam menyikapi ekspektasi. Ia menegaskan kunci menjaga performa adalah terus bekerja keras tanpa kehilangan fokus, sembari tidak terburu-buru mengejar hasil yang berada di luar kendalinya. Sikap ini tercermin dari caranya memandang impian besar menembus MotoGP, yang ia akui sebagai tujuan jangka panjang tanpa mematok batas usia tertentu untuk mewujudkannya.
Pendekatan semacam ini penting mengingat perjalanan seorang pembalap muda rentan terhadap berbagai faktor di luar kendali, mulai dari risiko cedera hingga ketatnya persaingan yang terus meningkat setiap musim. Veda sendiri menyebut keberhasilan menembus kelas Moto3 saja sudah menjadi pencapaian yang dahulu ia impikan, sehingga kesempatan berkompetisi di level dunia saat ini lebih ia maknai sebagai sesuatu yang patut disyukuri ketimbang dibebani target berlebihan.
Identitas sebagai representasi Indonesia juga menjadi bagian penting dari motivasinya di setiap balapan. Veda secara terbuka menyatakan kecintaannya terhadap Tanah Air dan harapannya untuk terus mengharumkan nama bangsa lewat pencapaian di lintasan internasional. Semangat inilah yang menyertai setiap langkahnya, dari sirkuit kecil di kampung halaman hingga panggung Grand Prix dunia yang kini ia jejaki.
Yang Dinanti Dari Veda
Performa Veda pada lima balapan tersisa musim ini akan menentukan apakah ia mampu terus mendekati atau bahkan melampaui rekor poin terbanyak Honda Team Asia yang dipegang Taiyo Furusato. Konsistensi hasil top 10 usai terputusnya rentetan negatif di Mandalika juga layak diikuti, mengingat hal itu bisa jadi indikator penting arah performanya menjelang penutupan musim 2026.(*)
Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.