Selasa, 13 Oktober 2026
Breaking News
Nasional

Prabowo Pimpin Rapat Karhutla, Tanjung Puting Jadi Perhatian Khusus

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Prabowo Pimpin Rapat Karhutla, Tanjung Puting Jadi Perhatian Khusus
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM — Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026) malam. Dalam rapat itu, ia menegaskan bahwa kawasan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah harus menjadi perhatian khusus karena statusnya sebagai taman nasional.

Rapat terbatas tersebut diikuti sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menko Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Turut hadir pula Mensesneg Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

639,23 Hektare Lahan Masih Terbakar
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan bahwa luas karhutla di enam provinsi prioritas yang masih ditangani mencapai 639,23 hektare. Keenam provinsi itu adalah Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.

"Untuk hari ini, yang terbakar yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya adalah 639,23 hektare," kata Suharyanto, seperti dikutip detikNews.

Karhutla terluas berada di Kalimantan Tengah, khususnya di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Kebakaran baru di kawasan itu mencapai 513,89 hektare. Meski bukan lahan gambut melainkan lahan mineral, BNPB menyatakan penanganannya harus segera dilakukan.

Kendala Kabut Asap Tebal
Penanganan melalui udara terkendala kabut asap yang tebal sehingga mengganggu jarak pandang. Satgas udara dari Palangkaraya dan Banjarmasin belum bisa menembus lokasi karena visibility yang sangat rendah.

"Di Kalimantan Tengah ini operasi-operasi udara baik heli water bombing, operasi modifikasi cuaca maupun pesawat komersial sementara tidak dapat terbang karena visibility yang rendah," ujar Suharyanto.

Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin melaporkan bahwa lokasi kebakaran tersebar di kawasan rawa dan sulit dijangkau kendaraan. Salah satu kebutuhan utama di lapangan adalah pompa air berukuran kecil untuk mendukung pemadaman.

Dukungan Langsung dari Presiden
Menanggapi laporan tersebut, Prabowo langsung memutuskan memberikan dukungan lebih besar dari yang diminta. Ketika Pangdam menyampaikan kebutuhan sekitar 50 pompa air, Presiden memerintahkan pengiriman 200 unit.

"Berapa kau butuh pompa air? 50? Saya kirim 200," ujarnya.

Pangdam juga menyampaikan kebutuhan tim pengeboran air karena karakteristik kawasan rawa memungkinkan sumber air diperoleh dengan pengeboran sekitar 10 hingga 15 meter. Prabowo kemudian menyetujui pembuatan 200 titik bor air dengan anggaran Rp2 miliar.

"Saya kirim Rp 2 miliar, 200 titik," kata Presiden.

Prabowo meminta masyarakat setempat turut diberdayakan dalam pembuatan titik-titik bor tersebut. Menurutnya, langkah cepat di lapangan harus berjalan beriringan dengan penguatan strategi pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas.

Penguatan Polisi Hutan
Dalam rapat itu, Prabowo juga menekankan pentingnya memperkuat keberadaan polisi hutan untuk menjaga kawasan hutan di Indonesia. Ia meminta penguatan jumlah dan kapasitas personel dilakukan secara bertahap.

"Karena itu, tolong sampaikan ke MenPANRB, kalau memang saya minta 70 ribu polisi hutan karena ada maksud untuk menjaga hutan-hutan kita," kata Prabowo.

Ia juga meminta Polri membantu penguatan kapasitas polisi hutan. "Kapolri nanti bisa bantu ya didik polisi hutan," lanjutnya.

Operasi Darat dan Modifikasi Cuaca
Operasi darat didukung lebih dari 60.177 personel gabungan, dengan tingkat keberhasilan pemadaman rata-rata di atas 80 persen dari luas lahan yang baru terbakar setiap harinya. Operasi udara melalui water bombing di sejumlah wilayah juga terus dilakukan untuk mempercepat pemadaman.

Kondisi di Riau, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dioptimalkan untuk memanfaatkan pertumbuhan awan hujan, seiring perkiraan awal musim hujan yang mulai merata pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026.

"Presiden meminta agar upaya penanganan karhutla terus diperkuat dan seluruh sumber daya dikerahkan secara optimal untuk mempercepat pemadaman serta mencegah meluasnya kebakaran," tulis akun resmi Sekretariat Kabinet.(*)

Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.

Komentar (0)