Penutupan Wall Street 22 September 2026: Nasdaq Cetak Rekor
Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
NEW YORK, BERITANOW.COM – Penutupan Wall Street 22 September 2026 berakhir beragam. Indeks Nasdaq Composite mencetak rekor penutupan tertinggi baru, sementara Dow Jones Industrial Average melemah dan S&P 500 bergerak nyaris datar.
Nasdaq Composite naik 122,18 poin atau 0,45 persen ke level 27.244,28. Indeks berbasis teknologi tersebut mencatat rekor penutupan tertinggi untuk dua sesi berturut-turut.
Sementara itu, Dow Jones turun 185,14 poin atau 0,36 persen ke level 51.863,69. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,06 poin atau kurang dari 0,1 persen ke level 7.764,64.
Saham Teknologi Jadi Penopang
Penguatan Nasdaq terutama didukung saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan. Saham Sandisk melonjak hampir 7 persen setelah mendapat rekomendasi positif dari Rosenblatt. Kinerja saham semikonduktor turut membantu Nasdaq mencetak rekor baru.
Nasdaq 100 juga menguat sekitar 0,8 persen, didorong reli saham produsen chip. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap teknologi dan kecerdasan buatan masih kuat meski indeks saham lainnya bergerak terbatas.
Namun, reli teknologi belum sepenuhnya menggambarkan kondisi pasar secara keseluruhan. Pelemahan Dow Jones menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati terhadap saham-saham industri dan perusahaan yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Harga Minyak Kembali Turun, Eropa Bergerak Campuran
Harga minyak mentah menjadi salah satu sentimen penting pada perdagangan Selasa. Minyak Brent untuk kontrak November 2026 ditutup turun 1,09 persen ke level 99,25 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober melemah 1,24 persen ke level 94,99 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah pasar mencermati peluang pemulihan aliran pasokan Arab Saudi serta perkembangan diplomasi Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi dan biaya energi. Namun, bagi pasar saham Indonesia, kondisi tersebut juga dapat menimbulkan tekanan terhadap saham-saham komoditas energi.
Sementara itu, Bursa Eropa berakhir campuran pada perdagangan Selasa. Indeks STOXX Europe 600 naik 0,13 persen ke level 642,78. CAC 40 Prancis menguat 0,20 persen, sedangkan DAX Jerman naik tipis 0,02 persen.
Di sisi lain, FTSE 100 Inggris turun 0,29 persen. Investor Eropa masih mencermati perkembangan geopolitik serta prospek kebijakan moneter Bank Sentral Eropa.
Sebelum Wall Street ditutup, sejumlah bursa Asia bergerak positif.
Shanghai Composite naik 0,06 persen ke level 3.952,13. Hang Seng Hong Kong menguat 0,18 persen ke level 25.087,75. Kospi Korea Selatan naik 0,15 persen, sedangkan Straits Times Singapura menguat 0,86 persen.
Pergerakan bursa Asia yang positif belum mampu mengangkat IHSG pada perdagangan Selasa. IHSG justru anjlok 1,69 persen ke level 6.277,04, dengan sektor energi dan sejumlah saham perbankan menjadi pemberat utama.
Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa faktor domestik, pelemahan rupiah, aksi jual investor asing, dan penantian keputusan Bank Indonesia lebih dominan memengaruhi pasar Indonesia.
Dampak bagi IHSG
Kinerja Nasdaq dapat menjadi sentimen positif bagi saham teknologi dan emiten yang berkaitan dengan digitalisasi. Namun, pengaruhnya terhadap IHSG kemungkinan terbatas karena pasar Indonesia masih dibayangi risiko nilai tukar dan keputusan suku bunga Bank Indonesia.
Penurunan harga minyak dapat memberi tekanan pada saham energi, tetapi berpotensi mengurangi beban biaya bagi sektor transportasi dan industri.
Investor akan mencermati respons pasar Indonesia terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 22–23 September 2026. Keputusan BI Rate dan pandangan bank sentral mengenai rupiah berpotensi menjadi katalis utama perdagangan berikutnya.(*)
Analisis ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.