Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan IHSG 12 Oktober 2026 berakhir dengan koreksi tajam setelah indeks gagal mempertahankan penguatan pada pembukaan. IHSG turun 157,61 poin atau 2,59 persen ke level 5.936,15 pada perdagangan Senin.
IHSG dibuka menguat 28,53 poin atau 0,47 persen ke 6.122,29. Namun, penguatan tidak bertahan lama karena tekanan jual meningkat sepanjang sesi hingga indeks tertekan ke bawah level psikologis 6.000.
Indeks sempat mencapai posisi tertinggi di 6.128,72 sebelum berbalik melemah. Level terendah hari ini tercatat di 5.917,39, menjadikan penutupan di 5.936,15 sebagai salah satu pelemahan terbesar dalam beberapa pekan terakhir.
Aktivitas Jual Mendominasi
Sebanyak 632 saham melemah, 118 saham menguat, dan 213 saham stagnan. Komposisi tersebut menunjukkan tekanan jual terjadi secara luas, bukan hanya pada saham berkapitalisasi besar.
Nilai transaksi mencapai Rp13,6 triliun dari 57,7 miliar lembar saham yang diperdagangkan. Volume yang tinggi di tengah penurunan indeks menandakan investor melakukan pelepasan dalam jumlah besar.
Pada sesi pertama, investor asing sudah mencatat penjualan bersih Rp166,22 miliar di seluruh pasar. Tekanan arus modal asing tersebut berlanjut dan memperkuat pelemahan IHSG hingga penutupan.
Penurunan indeks juga terlihat pada LQ45 yang melemah 1,62 persen ke level 591,929 pada akhir sesi I. Penguatan saham komoditas pada pembukaan tidak cukup kuat untuk menahan tekanan jual pada saham lain.
Sektor Energi dan Saham Berbobot Besar Tertekan
Sektor energi memimpin koreksi pada perdagangan hari ini. Saham Bumi Resources (BUMI) dan Chandra Asri Pacific (CUAN) tercatat tertekan, meski keduanya sempat menjadi penggerak penguatan pada pembukaan.
Tekanan pada saham energi terjadi karena harga minyak masih berfluktuasi dan ekspektasi pasokan global belum sepenuhnya jelas. Investor tampak memilih mengurangi paparan pada sektor yang sensitif terhadap pergerakan komoditas.
Saham GOTO juga tercatat merosot tajam. Pelemahan saham teknologi dan saham pertumbuhan memperlebar tekanan pada indeks karena investor mengurangi posisi pada aset berisiko.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar berada dalam mode defensif. Investor cenderung menahan diri dan menunggu kejelasan mengenai arah sentimen global serta kebijakan moneter sebelum kembali menambah posisi.
Ketidakpastian Global dan Rupiah
Pelemahan IHSG dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Investor menilai risiko tersebut dapat memengaruhi harga komoditas, arus modal, dan ekspektasi kebijakan bank sentral.
Rupiah ditutup melemah 0,08 persen ke level Rp17.899 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar menambah tekanan pada saham dengan kewajiban dolar dan membatasi ruang pemulihan indeks.
Tekanan terhadap rupiah juga berpotensi mempercepat aksi jual investor asing. Jika nilai tukar terus melemah, arus dana ke pasar saham Indonesia dapat semakin terbatas.
Pasar kini menunggu data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik. Kedua faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah sentimen bursa global pada pekan ini.
Proyeksi Selasa
IHSG diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada Selasa, 13 Oktober 2026. Penembusan ke bawah 6.000 meningkatkan risiko pelemahan lanjutan karena level tersebut kini berubah menjadi resistance.
Area support terdekat berada di sekitar 5.917–5.936. Jika level tersebut berhasil dipertahankan, peluang rebound teknikal masih terbuka menuju area 6.000.
Namun, pelemahan lanjutan dapat terjadi jika investor asing kembali melakukan penjualan bersih dan rupiah tetap tertekan. Investor perlu memantau pergerakan dolar AS, harga minyak, dan yield Treasury sebagai indikator utama.
Saham perbankan, energi, dan teknologi kemungkinan tetap menjadi penentu arah IHSG. Pergerakan saham berbobot besar tersebut akan sangat memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan.(*)
Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.