Penuaan Penduduk di Asia Timur Ubah Cara Masyarakat Berduka
Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
BERITANOW.COM – Penuaan penduduk di Asia Timur tidak hanya mengubah struktur demografi, tetapi juga mulai memengaruhi cara masyarakat menghadapi kematian dan mengenang anggota keluarga yang telah meninggal.
Jepang, Korea Selatan, dan China menghadapi peningkatan jumlah penduduk lanjut usia. Bersamaan dengan perubahan tersebut, teknologi digital mulai memasuki wilayah yang selama ini sangat personal, yakni proses berkabung.
Avatar berbasis kecerdasan buatan (AI), rekonstruksi wajah dan suara, hingga berbagai bentuk benda memorial kini menawarkan cara baru untuk menyimpan kenangan terhadap orang yang telah meninggal.
Fenomena tersebut mendapat perhatian seiring perubahan demografi di kawasan Asia Timur. Laporan Al Jazeera pada September 2026 menyoroti bagaimana teknologi AI mulai digunakan untuk mengubah cara sebagian masyarakat menghadapi kehilangan orang tercinta.
Populasi Lansia Terus Bertambah
Jepang menjadi salah satu negara dengan proporsi penduduk lansia terbesar di dunia.
Data pemerintah Jepang menunjukkan penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai 36,24 juta orang, dengan proporsi sekitar 29,6 persen dari total populasi.
Korea Selatan juga mengalami perubahan demografi yang cepat. Data statistik pemerintah negara tersebut mencatat penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai 20,3 persen dari populasi pada 2025.
Sementara itu, China memiliki jumlah penduduk lansia yang sangat besar. Data resmi pemerintah China mencatat penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 323,38 juta orang pada akhir 2025, sedangkan penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai 223,65 juta orang.
Besarnya populasi lansia membuat persoalan kematian dan perawatan anggota keluarga menjadi bagian penting dari perubahan sosial di kawasan tersebut.
AI Hadir dalam Proses Berkabung
Perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan berkembangnya teknologi yang memungkinkan keluarga membuat representasi digital orang yang telah meninggal.
Di Korea Selatan, sejumlah perusahaan menawarkan layanan pembuatan video atau karakter digital berdasarkan foto, rekaman suara, dan materi audiovisual yang ditinggalkan seseorang selama hidupnya.
Teknologi tersebut dapat menghasilkan sosok virtual yang menyerupai orang yang telah meninggal. Dalam beberapa kasus, keluarga dapat melihat representasi tersebut menyampaikan pesan atau berinteraksi melalui sistem digital.
Laporan Associated Press yang dimuat The Washington Post pada Juli 2026 menyebut layanan semacam itu telah digunakan oleh sejumlah warga Korea Selatan untuk membuat rekonstruksi digital anggota keluarga yang telah meninggal.
Namun, teknologi tersebut tidak berarti menghidupkan kembali seseorang. Yang hadir adalah representasi digital yang dibentuk menggunakan data dan teknologi AI.
Di China, fenomena serupa juga menjadi objek penelitian. Studi yang diterbitkan dalam Death Studies pada 2026 menganalisis penggunaan teknologi AI dalam proses berkabung dan menemukan munculnya bentuk baru hubungan emosional antara pengguna dengan representasi digital orang yang telah meninggal.
Persoalan Etika Ikut Muncul
Perkembangan teknologi tersebut kemudian menimbulkan sejumlah pertanyaan.
Bagaimana jika seseorang tidak pernah memberikan izin agar wajah atau suaranya digunakan setelah meninggal? Siapa yang berhak mengendalikan representasi digital tersebut? Dan bagaimana memastikan keluarga memahami bahwa mereka berinteraksi dengan sistem AI, bukan dengan orang yang telah meninggal?
Pertanyaan mengenai privasi, kepemilikan data, persetujuan dan dampak emosional menjadi bagian dari perdebatan mengenai teknologi untuk berkabung.
Selain avatar AI, perkembangan teknologi juga memungkinkan munculnya berbagai benda memorial yang menggunakan material biologis sebagai bagian dari simbol kenangan. Salah satu bentuk yang ditawarkan sejumlah perusahaan adalah perhiasan atau permata memorial yang dikaitkan dengan DNA seseorang.
Benda tersebut tidak dimaksudkan untuk menghidupkan kembali seseorang secara biologis. Fungsinya lebih sebagai simbol fisik yang dapat disimpan keluarga sebagai pengingat terhadap orang yang telah meninggal.
Perubahan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi berjalan beriringan dengan perubahan demografi. Penuaan penduduk di Asia Timur tidak hanya menghadirkan tantangan mengenai kesehatan, perawatan dan sistem sosial, tetapi juga memunculkan pertanyaan baru mengenai bagaimana masyarakat menghadapi kematian.
Foto, surat, video dan benda peninggalan kini dapat berdampingan dengan avatar digital serta berbagai bentuk memorial berbasis teknologi.
Pada akhirnya, teknologi tidak mengubah kenyataan bahwa kematian merupakan bagian dari kehidupan. Namun, teknologi memberi manusia cara baru untuk menyimpan kenangan dan menjalani proses kehilangan di tengah perubahan masyarakat yang semakin digital. (*)