Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
Oleh: Effra S. Husein
Sore perlahan turun di Jakarta. Udara lembap menggantung di antara gedung, jalan raya, dan suara kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti. Di sebuah kafe yang beberapa tahun lalu selalu penuh, seorang pria duduk sendirian di dekat jendela.
Namanya Arya.
Laptop di hadapannya menyala, tetapi bukan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Ia sedang membuka laman demi laman lowongan kerja. Sesekali jarinya berhenti pada satu posisi, membaca persyaratan, lalu berpindah ke halaman berikutnya.
Beberapa waktu lalu, hidup Arya terasa cukup tertata. Gaji masuk setiap bulan, cicilan rumah dan kendaraan dapat dibayar, kebutuhan keluarga terpenuhi, sementara makan di luar sesekali masih bisa dilakukan tanpa harus masuk daftar pertimbangan panjang.
Ia bukan orang kaya. Namun, ia juga tidak merasa sedang berada di tepi jurang ekonomi.
Sampai perusahaan tempatnya bekerja melakukan restrukturisasi.
Istilahnya terdengar profesional: efisiensi, penyesuaian organisasi, optimalisasi biaya. Bagi Arya, semua istilah itu akhirnya memiliki arti yang jauh lebih sederhana—kehilangan pekerjaan.
Sejak saat itu, ia mengenal bentuk kecemasan yang sebelumnya hanya pernah ia dengar dari cerita orang lain.
Ketika Penghasilan Tidak Lagi Memberi Rasa Aman
Di bagian lain kota, Ratna sedang menyusun daftar belanja melalui telepon genggam.
Ia tidak sedang mencari barang mewah. Yang dibutuhkan hanya kebutuhan rumah tangga. Tetapi satu per satu item mulai dihapus.
Bukan karena barang tersebut tidak diperlukan, melainkan karena semuanya harus disesuaikan dengan kemampuan.
Bagi sebagian keluarga, perubahan ekonomi tidak selalu datang dalam bentuk kehilangan pekerjaan. Kadang ia muncul melalui keputusan-keputusan kecil: mengurangi frekuensi makan di luar, menunda membeli pakaian, mengganti merek barang kebutuhan, mengurangi perjalanan keluarga, atau berpikir ulang sebelum mengambil cicilan baru.
Tidak ada alarm yang berbunyi ketika seseorang mulai melakukan semua itu.
Perubahan berlangsung perlahan.
Pengeluaran dipangkas sedikit demi sedikit. Keinginan ditunda. Tabungan dijaga lebih ketat. Rencana masa depan dibuat dengan lebih banyak pertanyaan daripada kepastian.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Seseorang bisa saja masih memiliki pekerjaan, masih mampu membayar kebutuhan pokok, bahkan masih memiliki rumah dan kendaraan. Namun, rasa aman ekonominya mulai berkurang.
Ia belum jatuh miskin.
Tetapi ia tidak lagi merasa benar-benar aman.
Dari Konsumsi ke Kehati-hatian
Fenomena serupa terlihat pada pekerja sektor informal dan pelaku usaha kecil.
Seorang pengemudi ojek online, misalnya, masih keluar rumah setiap hari. Ia tetap menyalakan aplikasi dan menunggu pesanan. Namun, ketika waktu tunggu semakin panjang dan pendapatan harian sulit dipastikan, cara menghitung pengeluaran pun berubah.
Setiap perjalanan menjadi bagian dari perhitungan.
Begitu pula dengan Dita, seorang reseller yang menjalankan usaha dari rumah.
Beberapa tahun lalu, notifikasi pesanan di telepon genggamnya hampir selalu muncul. Kini, ia harus lebih aktif menawarkan produk. Potongan harga, paket bundling, dan promosi dilakukan bergantian.
Tetapi konsumen pun berubah.
Mereka tetap membeli, hanya saja lebih selektif.
Barang yang benar-benar dibutuhkan didahulukan. Keinginan bisa menunggu.
Kalimat sederhana seperti “nanti dulu” akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan ekonomi sehari-hari.
Bukan karena masyarakat tiba-tiba kehilangan keinginan untuk menikmati hidup. Mereka hanya mulai menghitung konsekuensi dari setiap pengeluaran.
Kelas Menengah dan Hilangnya Ruang Bernapas
Kelas menengah sering dibicarakan melalui angka pendapatan, konsumsi, kepemilikan aset, atau kemampuan memenuhi kebutuhan tertentu.
Namun, ada dimensi lain yang tidak kalah penting: rasa aman.
Rasa aman itulah yang memungkinkan seseorang merencanakan pendidikan anak, mengambil cicilan rumah, membuka usaha, berlibur, menabung, atau sekadar menikmati akhir pekan tanpa rasa bersalah.
Ketika ruang ekonomi semakin sempit, yang pertama kali hilang belum tentu kebutuhan pokok.
Sering kali yang hilang adalah ruang untuk bernapas.
Liburan diganti dengan kunjungan singkat ke tempat yang lebih dekat. Kursus tambahan anak mulai dipertimbangkan kembali. Makan di restoran menjadi agenda khusus, bukan kebiasaan. Pembelian barang elektronik ditunda. Renovasi rumah menunggu waktu yang dianggap lebih tepat.
Semua keputusan itu tampak kecil.
Namun, jika terjadi secara bersamaan pada banyak rumah tangga, ia menggambarkan perubahan pola hidup yang lebih besar.
Masyarakat tidak berhenti bergerak. Mereka hanya bergerak dengan lebih hati-hati.
Pertumbuhan Ekonomi dan Cerita di Balik Angka
Pertumbuhan ekonomi secara makro tentu penting. Angka pertumbuhan, investasi, konsumsi, inflasi, dan indikator lainnya memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian.
Tetapi angka-angka tersebut tidak selalu menceritakan bagaimana seseorang merasa ketika membuka aplikasi perbankan di akhir bulan.
Tidak pula selalu menggambarkan kecemasan seorang pekerja ketika mendengar kata restrukturisasi dari manajemen perusahaan.
Atau kegelisahan pemilik usaha kecil ketika penjualan menurun sementara biaya operasional terus berjalan.
Karena itu, pembicaraan mengenai kelas menengah tidak cukup hanya melihat apakah seseorang masih mampu membeli sesuatu.
Pertanyaan yang lebih dalam adalah: seberapa besar ruang yang tersisa setelah seluruh kebutuhan dibayar?
Apakah masih ada tabungan?
Apakah masih ada kemampuan menghadapi keadaan darurat?
Apakah seseorang masih dapat merencanakan masa depan tanpa terus-menerus dihantui kemungkinan kehilangan pendapatan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena seseorang dapat terlihat baik-baik saja dari luar, sementara fondasi ekonominya perlahan melemah.
Masa Depan yang Mulai Dihitung Lebih Hati-Hati
Jakarta tetap menyala hingga malam.
Kafe tetap buka. Pusat perbelanjaan tetap ramai. Kendaraan memenuhi jalan. Aktivitas ekonomi terus berjalan.
Dari kejauhan, semuanya tampak normal.
Namun, di dalam rumah-rumah, terdapat perubahan kecil yang mungkin tidak terlihat oleh statistik harian.
Ada orang tua yang mulai menghitung kembali biaya pendidikan anak.
Ada pekerja yang menunda pindah pekerjaan karena takut kehilangan pendapatan.
Ada pasangan yang mengurungkan rencana membeli rumah.
Ada pengusaha kecil yang memilih mempertahankan usaha dengan margin lebih tipis daripada mengambil risiko memperbesar modal.
Ada pula mereka yang setiap malam membuka laman lowongan pekerjaan, berharap menemukan satu kesempatan yang bisa mengembalikan rasa aman yang pernah dimiliki.
Kelas menengah tidak selalu runtuh dengan suara keras.
Kadang ia hanya perlahan kehilangan keleluasaan.
Dari berani membeli menjadi berpikir panjang. Dari merencanakan menjadi menunda. Dari menikmati menjadi menghitung. Dari merasa aman menjadi selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Mungkin inilah perubahan yang paling sulit dilihat: bukan sekadar berkurangnya kemampuan membeli, melainkan menyusutnya keyakinan bahwa masa depan dapat direncanakan dengan tenang.
Arya akhirnya menutup laptopnya.
Belum ada pekerjaan baru malam itu.
Ia mengambil secangkir kopi yang mulai dingin, memandang jalanan dari balik kaca, lalu menarik napas panjang.
Besok ia akan mencari lagi.
Sebab bagi banyak orang, bertahan bukan berarti berhenti berharap.
Hanya saja, sekarang harapan pun harus dihitung dengan lebih hati-hati.
Catatan Penulis: Arya, Ratna, dan Dita dalam tulisan ini merupakan tokoh ilustratif yang digunakan untuk menggambarkan fenomena sosial-ekonomi, bukan identitas narasumber tertentu.