Sabtu, 10 Oktober 2026
Breaking News
Nasional

Karhutla Kalteng Makin Luas, Ucapan Gubernur soal “Kawin Lagi” Tuai Sorotan

Effra S. Husein | | 3 mnt baca
Karhutla Kalteng Makin Luas, Ucapan Gubernur soal “Kawin Lagi” Tuai Sorotan
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

PALANGKA RAYA, BERITANOW.COM — Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menjadi sorotan publik setelah video pernyataannya mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) beredar luas di media sosial. Ucapannya yang menutup ajakan bersatu dengan seloroh “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi” menjadi perbincangan di tengah meluasnya kebakaran di wilayah tersebut.

Dalam video itu, Agustiar menyebut hampir 97 persen karhutla dipicu oleh ulah manusia. Ia juga mengajak berbagai pihak untuk bersatu menghadapi kebakaran yang mengancam lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Pernyataan tersebut menuai perhatian karena disampaikan ketika penanganan karhutla di Kalimantan Tengah masih menghadapi tantangan besar. Perbincangan mengenai ucapannya pun berkembang di tengah meningkatnya jumlah kejadian dan luas lahan terbakar.

Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalimantan Tengah per 7 Oktober 2026, tercatat sebanyak 5.848 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 17.000 hektare.

Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan akhir Agustus 2026, ketika tercatat 2.285 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 6.587,84 hektare.

Dengan demikian, jumlah kejadian meningkat lebih dari dua kali lipat. Luas lahan terbakar juga bertambah lebih dari 10.000 hektare dalam rentang waktu sekitar lima pekan.

Ribuan Personel Dikerahkan untuk Menangani Karhutla

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan telah melakukan sejumlah langkah untuk mengendalikan karhutla. Upaya tersebut antara lain melalui pembangunan ratusan sumur bor dan pengerahan personel gabungan.

Sebagian sumur bor juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih bagi masyarakat, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan air selama musim kemarau.

Sementara itu, sebanyak 13.699 personel gabungan dikerahkan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.

Meski berbagai langkah telah dilakukan, besarnya luas lahan terdampak menunjukkan bahwa pengendalian karhutla masih membutuhkan penanganan berkelanjutan. Pengawasan kawasan rawan kebakaran, kesiapan sumber air, pemadaman dini, dan penegakan hukum menjadi bagian penting untuk mencegah api meluas.

Kalimantan Tengah Masih Menjadi Perhatian

Tantangan penanganan karhutla juga terlihat dari pemantauan titik panas atau hotspot.

Kementerian Kehutanan melaporkan Kalimantan Tengah masih menjadi provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Berdasarkan pemantauan hingga 6 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, tercatat 182 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di provinsi tersebut.

Lima provinsi prioritas lainnya adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Selatan, dan Riau.

Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Data ini tidak serta-merta menunjukkan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar sehingga tetap memerlukan pemeriksaan di lapangan.

Kabut Asap Meluas, Dampak Kesehatan Jadi Perhatian

Dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat di wilayah yang terbakar. Kabut asap dapat menyebar mengikuti arah angin dan memengaruhi kualitas udara di daerah lain.

Di Kalimantan Selatan, masyarakat juga merasakan dampak kabut asap yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan di kawasan regional.

Sementara itu, kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, dilaporkan memburuk pada awal Oktober 2026. Data mengenai nilai indeks standar pencemar udara (ISPU) dan konsentrasi partikulat perlu merujuk pada stasiun pemantauan serta waktu pengukuran yang jelas agar kondisi udara dapat digambarkan secara akurat.

Dampak asap juga menjadi perhatian di Malaysia. Sejumlah wilayah negara tersebut dilaporkan mengalami kualitas udara tidak sehat. Namun, untuk memastikan keterkaitan langsung dengan kebakaran di Kalimantan Tengah, diperlukan data mengenai arah pergerakan asap dan sumber pencemar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa karhutla berpotensi menimbulkan dampak lintas wilayah, mulai dari gangguan kesehatan hingga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Di tengah sorotan terhadap pernyataan Agustiar Sabran, besarnya kebakaran di Kalimantan Tengah menempatkan penanganan karhutla sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian serius.

Pencegahan pembakaran lahan, respons cepat terhadap titik api, pengawasan kawasan rawan, dan perlindungan masyarakat dari paparan asap menjadi langkah penting untuk menekan dampak kebakaran yang berulang.

Sumber: Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalimantan Tengah dan Kementerian Kehutanan. Data dampak asap lintas wilayah perlu disesuaikan dengan laporan resmi pada tanggal kejadian. (*)

Komentar (0)