Investasi Besar BYD di Subang, Mengapa Pekerja Lokal Disebut di Bawah 20 Persen?
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
SUBANG, BERITANOW.COM – Demo pabrik BYD Subang pada Rabu (28/10/2026) menjadi sorotan setelah Forum Masyarakat Subang Bersatu (FMSB) mempersoalkan rendahnya penyerapan tenaga kerja asal daerah tersebut. Massa menilai jumlah warga lokal yang bekerja di pabrik mobil listrik itu masih di bawah 20 persen dan mendesak adanya kebijakan yang memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat setempat.
Aksi berlangsung di kawasan pabrik PT BYD Auto Indonesia, Cipeundeuy, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Warga menegaskan bahwa tuntutan mereka bukan untuk menolak investasi, melainkan memastikan kehadiran industri besar turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan pabrik.
Warga Desak Kuota Tenaga Kerja Lokal
Pemerhati sosial Subang, Megi Akbar Setiawan, yang hadir dalam aksi tersebut, menyampaikan bahwa masyarakat ingin memperoleh akses yang lebih terbuka terhadap lowongan pekerjaan di perusahaan otomotif itu.
Menurutnya, kesempatan bekerja di industri besar sangat penting bagi warga, terutama lulusan SMA dan SMK yang terkendala biaya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
FMSB juga menyoroti perlunya keterbukaan informasi mengenai lowongan, persyaratan, dan proses seleksi tenaga kerja. Warga berharap pemerintah daerah dapat menjembatani kebutuhan perusahaan dengan kemampuan calon pekerja dari Subang.
Selain itu, massa mendorong Bupati Subang dan DPRD Kabupaten Subang membahas kemungkinan aturan yang memperjelas prioritas perekrutan tenaga kerja lokal. Mereka menginginkan adanya langkah konkret, bukan sekadar janji penyerapan tenaga kerja.
Investasi Besar, Seberapa Luas Manfaatnya?
Pabrik BYD di Subang diresmikan pada 3 September 2026. Fasilitas yang berada di Subang Smartpolitan Industrial Park tersebut dibangun di atas lahan sekitar 126 hektare dan memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 kendaraan per tahun.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya menyampaikan bahwa BYD telah menyerap 5.134 tenaga kerja Indonesia, termasuk 4.208 pekerja asal Jawa Barat. Sementara itu, perusahaan memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja dapat meningkat seiring dengan pengembangan kapasitas produksi.
Data tersebut menunjukkan adanya penyerapan tenaga kerja, tetapi belum dengan sendirinya menjelaskan berapa jumlah pekerja yang berasal khusus dari Kabupaten Subang. Karena itu, klaim FMSB mengenai porsi pekerja lokal di bawah 20 persen perlu dilihat sebagai penilaian yang masih membutuhkan data terperinci berdasarkan asal daerah pekerja.
Dialog Perusahaan dan Pemerintah Dinilai Mendesak
FMSB mengaku belum berhasil berdialog langsung dengan manajemen BYD saat aksi berlangsung. Karena itu, mereka mendorong agar pemerintah daerah dan DPRD memfasilitasi pertemuan yang melibatkan perusahaan, dinas ketenagakerjaan, serta perwakilan masyarakat.
Persoalan ini juga menuntut kesiapan sumber daya manusia setempat. Pelatihan keterampilan, penyebaran informasi lowongan yang transparan, dan penyesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri dapat menjadi bagian dari solusi.
Pada akhirnya, tantangan investasi bukan hanya mendatangkan modal dan membangun fasilitas produksi. Industri juga diharapkan menciptakan manfaat yang terukur bagi masyarakat sekitar, termasuk melalui akses kerja yang adil dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal. (*)