Minggu, 01 November 2026
Breaking News
Internasional

Diplomasi Iran-AS Bicara Damai, Trump Simpan Target Serangan

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Diplomasi Iran-AS Bicara Damai, Trump Simpan Target Serangan
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

TEHERAN, BeritaNow.com — Amerika Serikat dan Iran kembali membuka jalan diplomasi untuk meredakan perang yang mengguncang Timur Tengah. Namun, ketika para diplomat berusaha mencari kesepakatan, Presiden AS Donald Trump justru mengingatkan bahwa masih ada sasaran di Iran yang dapat diserang. Ironinya, kedua negara sedang membicarakan perdamaian sambil mempertahankan ancaman militer masing-masing.

Perundingan tidak langsung Iran-AS berlangsung melalui mediator Qatar, setelah pertemuan di Teheran pada Jumat (30/10/2026) dilanjutkan di Doha pada Sabtu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran bersedia mempercepat pembukaan sebagian Selat Hormuz apabila sejumlah persyaratan dipenuhi Washington. Menurutnya, masa pelaksanaan yang sebelumnya diusulkan tujuh hari kini dapat dipersingkat menjadi dua hari.

Perkembangan tersebut menjadi peluang bagi upaya meredakan konflik yang telah mengganggu perdagangan dan pasokan energi dunia. Namun, tawaran Iran belum berarti Selat Hormuz sudah kembali beroperasi normal. Kesepakatan tetap bergantung pada keputusan kedua pemerintah mengenai sanksi, keamanan kawasan, dan program nuklir Iran.

Selat Hormuz Bisa Dibuka, tetapi Ada Syaratnya
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Araghchi menjelaskan bahwa Iran menginginkan langkah nyata Amerika Serikat sebelum membuka kembali jalur pelayaran. Persyaratan itu mencakup pencabutan blokade laut, pelonggaran sanksi minyak, serta pengakuan terhadap pengaturan pelayaran Iran dan Oman. Teheran juga menghendaki penghentian pertempuran di sejumlah wilayah, termasuk Lebanon.

Bagi Iran, pembukaan Selat Hormuz bukan sekadar persoalan lalu lintas kapal. Jalur tersebut berkaitan dengan perdagangan internasional, ekspor energi, dan tekanan ekonomi yang sedang dihadapi negara itu. Pemerintah Iran berupaya menjadikannya bagian dari perundingan yang lebih luas dengan Washington.

Persoalannya, kedua pihak masih berbeda pendapat mengenai siapa harus mengambil langkah lebih dahulu. Iran meminta pelonggaran tekanan ekonomi, sedangkan Amerika Serikat menuntut kemajuan dalam pembicaraan program nuklir. Alhasil, peluang kesepakatan mulai terlihat, tetapi urutan pelaksanaannya masih menjadi hambatan.

Trump Bicara Sepuluh Menit, Iran Siapkan Pertahanan
Di tengah perundingan, Trump mengatakan pembicaraan berlangsung cukup baik, tetapi ia masih meragukan pihak Iran. Dalam acara Halloween di Mar-a-Lago, Florida, Sabtu (31/10/2026), Trump menyebut masih terdapat satu atau dua fasilitas Iran yang dapat menjadi sasaran pengeboman. Ia bahkan mengklaim tindakan tersebut bisa dilakukan dalam waktu sepuluh menit.

Pernyataan itu kontras dengan upaya diplomasi yang sedang dijalankan pemerintahnya. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Trump belum mengambil keputusan mengenai serangan baru dan lebih memilih penyelesaian diplomatik. Dengan demikian, ancaman Trump belum dapat diartikan sebagai keputusan resmi untuk melancarkan operasi militer.

Iran juga tidak tinggal diam menghadapi kemungkinan serangan berikutnya. Araghchi menyatakan kemampuan pertahanan negaranya telah diperkuat, sementara pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, meminta kesiapan menghadapi ancaman militer. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kedua pihak belum sepenuhnya mengandalkan diplomasi sebagai jalan keluar.

Kapal Menunggu Lewat, Dunia Menunggu Kesepakatan
Ketegangan di Selat Hormuz masih menimbulkan persoalan bagi keselamatan pelayaran. Al Jazeera melaporkan sedikitnya empat kapal tanker teridentifikasi terkena serangan pada Jumat dan Sabtu, sementara lembaga keamanan maritim Inggris UKMTO mencatat serangan terhadap sebuah kapal pengangkut LPG. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa risiko keamanan tetap berlangsung ketika perundingan sedang diupayakan.

Bagi negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, gangguan berkepanjangan pada jalur perdagangan Teluk Persia berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasokan dan harga energi. Namun, dampak langsung terhadap harga BBM Indonesia belum dapat disimpulkan hanya dari perkembangan diplomasi terbaru. Perubahan harga tetap bergantung pada kondisi pasar global dan kebijakan energi nasional.

Di sisi lain, warga sipil di kawasan konflik membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan optimistis para pemimpin. Ancaman terhadap fasilitas energi dan infrastruktur listrik dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari apabila perang kembali meningkat. Karena itu, kemajuan perundingan perlu dibuktikan melalui tindakan yang mengurangi risiko kekerasan.

Diplomasi Iran-AS kini menghadapi ujian besar menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026. Qatar masih berusaha mempertemukan kepentingan kedua negara, tetapi belum ada kesepakatan final yang diumumkan. Untuk sementara, dunia menyaksikan ironi yang sama: perundingan damai berjalan, sementara ancaman serangan belum juga berhenti.(*)

Komentar (0)