Minggu, 01 November 2026
Breaking News
Internasional

Demo Gen Z Jerman Memanas, Tuntut Sekolah Bukan Senjata!

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Demo Gen Z Jerman Memanas, Tuntut Sekolah Bukan Senjata!
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

BERLIN, BeritaNow.com — Generasi muda Jerman turun ke jalan membawa pesan yang cukup menohok bagi pemerintah: mereka membutuhkan pendidikan terjangkau dan masa depan yang layak, bukan sekadar tambahan anggaran persenjataan. Namun, aksi yang awalnya didominasi tuntutan sosial itu berujung bentrokan dengan polisi di sejumlah kota. Demonstrasi berlangsung di 34 kota pada Sabtu (31/10/2026), dengan ribuan orang memprotes biaya hidup, pemangkasan anggaran pendidikan, dan rencana wajib militer.

Gerakan bertajuk Gen Z regelt, yang berarti kurang lebih Generasi Z mengambil kendali, menjadi penggerak aksi tersebut. Penyelenggara sebelumnya mencatat hampir 180.000 orang mendaftarkan diri untuk berpartisipasi, meskipun jumlah yang benar-benar hadir lebih rendah. Sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, tetapi kerusuhan di Frankfurt, Hamburg, dan ketegangan di Cologne menjadi perhatian aparat.

Minta Sekolah Layak, Malah Berhadapan dengan Polisi
Di Frankfurt, kerusuhan pecah setelah demonstrasi yang sebelumnya berlangsung relatif tenang. Menurut Reuters, sejumlah perusuh bertopeng menjarah sedikitnya dua toko dan merusak fasilitas usaha. Polisi juga melaporkan adanya lemparan bom molotov ke arah petugas darurat.

Di Cologne, polisi menggunakan meriam air setelah terjadi pelemparan benda piroteknik ke arah aparat. Sekitar 250 demonstran sempat dikepung petugas untuk pemeriksaan identitas, berdasarkan laporan media Jerman ZDF. Sementara itu, di Hamburg, barikade dibakar dan aparat harus turun tangan mengendalikan situasi.

Meski demikian, kekerasan tersebut tidak menggambarkan seluruh peserta aksi. AFP melaporkan demonstrasi secara umum berjalan damai sebelum ketegangan meningkat pada malam hari. Pembedaan ini penting agar tindakan kelompok tertentu tidak otomatis dilekatkan kepada semua anak muda yang menyampaikan tuntutan.

Anggaran Militer Naik, Mahasiswa Mengeluh
Salah satu tuntutan utama demonstran adalah peningkatan anggaran pendidikan dan pelayanan sosial. Mereka juga menolak wajib militer serta mempertanyakan prioritas pemerintah yang memperbesar belanja pertahanan. Bagi mahasiswa yang menghadapi biaya hidup tinggi, persoalan tersebut menyangkut kemampuan mereka menyelesaikan pendidikan.

Veronika Dinter, mahasiswa ilmu politik berusia 23 tahun, datang dari Hannover untuk mengikuti demonstrasi di Berlin. Kepada Al Jazeera, ia bercerita harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya. Ia mengkritik berkurangnya pendanaan pendidikan ketika pemerintah terus meningkatkan pengeluaran militer.

Keluhan serupa disampaikan Emma Heymann, mahasiswa berusia 24 tahun yang tinggal di Berlin. Ia menilai kebijakan pemerintah kurang memperhatikan kesulitan generasi muda dalam mengakses pendidikan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pandangan kedua mahasiswa tersebut merupakan kesaksian pribadi, bukan ukuran tunggal kondisi seluruh mahasiswa Jerman.

Gen Z Tak Mau Masa Depannya Hanya Berisi Perang
Demonstrasi ini berlangsung ketika sejumlah negara Eropa menghadapi gelombang protes anak muda mengenai ekonomi dan kebijakan publik. Peneliti Universitas Konstanz, Kilian Hampel, menilai demonstrasi di negara lain turut mendorong keberanian generasi muda Jerman menyampaikan ketidakpuasan. Ia juga mengingatkan bahwa persoalan infrastruktur pendidikan layak mendapat perhatian pemerintah.

Namun, gerakan tersebut tidak sepenuhnya bebas dari perdebatan internal. Organisasi payung mahasiswa nasional Jerman mengambil jarak dari kelompok penyelenggara Gen Z regelt, meskipun tetap mengakui adanya persoalan nyata yang dihadapi mahasiswa. Perbedaan itu menunjukkan bahwa tidak semua organisasi anak muda memiliki pandangan sama mengenai strategi dan kepemimpinan demonstrasi.

Bagi pemerintah Jerman, demonstrasi ini menghadirkan pilihan kebijakan yang tidak sederhana. Kebutuhan pertahanan negara harus dipertimbangkan bersamaan dengan pendidikan, perumahan, dan perlindungan sosial, terutama ketika anggaran terbatas. Pertanyaannya bukan semata apakah negara memerlukan tentara, melainkan bagaimana memastikan generasi yang diminta menjaga negara juga memiliki masa depan yang layak.

Protes Gen Z Jerman bukan hanya cerita tentang kericuhan dan meriam air. Ada persoalan pendidikan, biaya hidup, dan rasa keterwakilan yang melatarbelakangi kemarahan sebagian generasi muda. Ironinya, anak-anak muda yang meminta ruang belajar lebih baik justru harus menyaksikan tuntutan mereka bersaing dengan berita tentang barikade terbakar.(*)

Komentar (0)