Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
BEIJING, BeritaNow.com — China menghadapi kenyataan demografi yang mengundang senyum getir. Di negara yang selama puluhan tahun dikenal dengan kebijakan pembatasan kelahiran, jumlah penduduk lanjut usia kini justru melampaui jumlah anak-anak. Ibarat sebuah keluarga besar, meja makan China semakin ramai oleh kakek dan nenek, sementara kursi generasi cucu tidak bertambah secepat dahulu.
Data Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan penduduk berusia 65 tahun ke atas telah mencapai lebih dari 223 juta orang pada 2025. Jumlah tersebut melampaui penduduk berusia 0–14 tahun yang tercatat sekitar 214 juta dalam survei nasional. Untuk pertama kalinya, kelompok usia lanjut melampaui anak-anak dalam komposisi penduduk kedua kelompok umur tersebut.
Perubahan itu juga terlihat dari rasio ketergantungan penduduk. Reuters melaporkan rasio penduduk usia lanjut terhadap penduduk usia kerja mencapai 23,1 persen, sedangkan rasio anak-anak sekitar 22 persen. Angka ini menggambarkan perubahan struktur penduduk, bukan berarti setiap keluarga China secara langsung membiayai lebih banyak lansia daripada anak-anak.
Dulu Dilarang Banyak Anak, Sekarang Diminta Menambah
Ada ironi menarik dalam perjalanan kependudukan China. Sejak sekitar 1980 hingga 2015, pemerintah menerapkan kebijakan satu anak untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Kini, pemerintah justru berusaha meyakinkan generasi muda agar menikah dan memiliki lebih banyak anak.
Namun, ajakan tersebut menghadapi kenyataan kehidupan perkotaan yang tidak sederhana. Biaya membesarkan anak, kebutuhan tempat tinggal, pendidikan, serta perubahan pilihan hidup menjadi pertimbangan banyak pasangan muda. Menurut pengajar sosiologi National University of Singapore, Mu Zheng, perubahan peran gender dan meningkatnya tingkat pendidikan juga turut memengaruhi keputusan memiliki anak.
Situasinya seperti sebuah keluarga yang dahulu sibuk mengatur agar anak tidak terlalu banyak, tetapi kini harus memikirkan siapa yang kelak menemani orang tua menikmati masa pensiun. Gambaran tersebut merupakan ilustrasi sosial, bukan kisah keluarga tertentu. Persoalan sebenarnya lebih rumit karena tidak semua orang lanjut usia bergantung secara finansial kepada anak-anaknya.
Generasi Muda Menghadapi Tanggung Jawab Berlapis
Bayangkan seorang pekerja muda yang harus membagi penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari, biaya membesarkan anak, dan membantu orang tua yang semakin tua. Gambaran demikian menjadi salah satu kekhawatiran di tengah mengecilnya ukuran keluarga China. Ketika jumlah saudara kandung semakin sedikit, pembagian tanggung jawab merawat orang tua berpotensi menjadi lebih berat.
Namun, tidak seluruh lansia China berada dalam kondisi membutuhkan bantuan. Laporan Program Pembangunan PBB (UNDP) tentang ekonomi lansia China menemukan bahwa sebagian orang berusia lanjut justru masih memberikan dukungan keuangan kepada anak-anak mereka. Dengan kata lain, tidak semua kakek dan nenek menunggu transfer uang dari keluarga; sebagian masih menjadi penyokong ekonomi rumah tangga.
Profesor Stuart Gietel-Basten dari Hong Kong University of Science and Technology juga mengingatkan bahwa angka ketergantungan dapat memberikan kesan keliru tentang kelompok lansia. Banyak orang lanjut usia tetap aktif, sehat, dan mempunyai kemampuan ekonomi. Karena itu, semakin banyaknya penduduk lansia tidak otomatis berarti seluruhnya menjadi beban keluarga.
Bisnis Masa Depan: Bukan Cuma Popok Bayi
Perubahan ini berpotensi menggeser perhatian pelaku bisnis. Jika sebelumnya pasar kebutuhan anak menjadi salah satu sektor penting, kini produk dan layanan untuk konsumen senior memperoleh peluang semakin besar. Layanan kesehatan, perjalanan wisata, hunian ramah lansia, hingga teknologi pendamping orang tua termasuk dalam sektor yang dapat berkembang.
Fenomena tersebut dikenal sebagai silver economy, yakni kegiatan ekonomi yang melayani kebutuhan kelompok usia lanjut. Media pemerintah China, Global Times, menilai sebagian generasi yang kini memasuki usia pensiun memiliki daya beli lebih tinggi dan kondisi kesehatan lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Artinya, konsumen senior tidak selalu identik dengan pengeluaran obat atau perawatan medis.
Bagi dunia usaha, perubahan tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Produk untuk lansia mungkin semakin diminati, tetapi penurunan kelahiran juga berpotensi memengaruhi kebutuhan sekolah dan produk anak dalam jangka panjang. Perubahan pasar tersebut tidak terjadi serentak karena kondisi ekonomi dan komposisi penduduk berbeda di setiap wilayah China.
Di balik angka-angka demografi, China sedang menghadapi perubahan besar dalam kehidupan keluarga. Pemerintah ingin lebih banyak bayi lahir, sementara masyarakat juga harus mempersiapkan kehidupan yang layak bagi penduduk yang semakin panjang umur. Ironinya, negara yang dahulu berusaha menekan jumlah kelahiran kini harus mencari cara agar generasi cucu tidak semakin sedikit dibandingkan generasi kakek dan nenek.(*)