Senin, 02 November 2026
Breaking News
Nasional

Ada yang Janggal di Bandara Soetta! Menteri Pendidikan Soroti Dominasi Bahasa Inggris

Effra S. Husein | | 3 mnt baca
Ada yang Janggal di Bandara Soetta! Menteri Pendidikan Soroti Dominasi Bahasa Inggris
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM — Dominasi Bahasa Inggris di Bandara Soetta menjadi sorotan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Ia menyayangkan penggunaan tulisan berbahasa Inggris yang dinilai lebih menonjol di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yang merupakan salah satu pintu gerbang utama Indonesia. Menurutnya, bandara internasional semestinya turut memperkenalkan bahasa Indonesia sebagai identitas nasional kepada para pengunjung dari berbagai negara.

Sorotan itu disampaikan Abdul Mu’ti dalam puncak peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2026 bertema Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat di Jakarta, Rabu (28/10/2026) yang lalu. Ia mengungkapkan pengalamannya ketika melihat penggunaan bahasa pada papan informasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Menurut pengamatannya, tulisan berbahasa Inggris lebih banyak ditemukan dibandingkan tulisan dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia Perlu Diutamakan di Ruang Publik

Abdul Mu’ti menilai keberadaan bandara internasional semestinya dimanfaatkan untuk memperkenalkan identitas Indonesia kepada para pengunjung dari berbagai negara. Jakarta menjadi salah satu titik kedatangan penting bagi wisatawan maupun tamu mancanegara, sehingga penggunaan bahasa di fasilitas publik memiliki arti strategis. Karena itu, bahasa Indonesia dinilai perlu ditampilkan secara lebih menonjol sebagai bahasa nasional.

Ia menyayangkan ruang publik yang seharusnya menjadi tempat memperkenalkan bahasa Indonesia justru belum sepenuhnya mencerminkan kedudukan bahasa tersebut. Menurut Mu’ti, kecenderungan mengutamakan istilah asing juga terlihat di lingkungan pemerintahan dan lembaga negara, termasuk dalam sejumlah pertemuan resmi. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa penguatan bahasa Indonesia tidak cukup hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga perlu diwujudkan dalam praktik sehari-hari.

Meski demikian, Mu’ti menegaskan bahwa mengutamakan bahasa Indonesia bukan berarti menolak penggunaan bahasa asing. Kemampuan berbahasa asing tetap dibutuhkan, terutama untuk mendukung komunikasi internasional dan memperluas hubungan Indonesia dengan masyarakat global. Namun, bahasa Indonesia semestinya tetap ditempatkan sebagai bahasa utama dalam komunikasi di dalam negeri.

Trigatra Bangun Bahasa Jadi Pengingat

Pandangan tersebut sejalan dengan prinsip Trigatra Bangun Bahasa yang menekankan tiga hal, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Ketiga prinsip tersebut menunjukkan bahwa penguatan bahasa nasional tidak harus dilakukan dengan mengesampingkan bahasa lain. Sebaliknya, seluruh unsur kebahasaan perlu ditempatkan secara proporsional sesuai fungsi dan kedudukannya.

Penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik juga menjadi bagian dari upaya menjaga identitas dan martabat bangsa. Penempatan bahasa Indonesia yang jelas pada papan petunjuk, informasi pelayanan, serta fasilitas umum dapat membantu masyarakat memahami informasi sekaligus memperkenalkan bahasa nasional kepada pengunjung asing. Bahasa Inggris tetap dapat digunakan sebagai pendamping untuk memenuhi kebutuhan komunikasi internasional.

Dengan demikian, pengelola fasilitas publik, termasuk bandara, memiliki peran penting dalam menghadirkan penggunaan bahasa yang seimbang. Informasi dalam bahasa Indonesia perlu memperoleh tempat yang layak tanpa mengurangi aksesibilitas bagi penumpang dari berbagai negara. Langkah tersebut dapat menjadi wujud nyata penghormatan terhadap bahasa nasional sekaligus keterbukaan Indonesia terhadap dunia.

Indonesia Memiliki 729 Bahasa Daerah

Selain menyoroti dominasi bahasa asing, Abdul Mu’ti mengingatkan pentingnya menjaga kekayaan bahasa daerah di Indonesia. Berdasarkan data terakhir Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang disampaikannya, Indonesia memiliki 729 bahasa daerah, dengan jumlah terbanyak berasal dari Papua. Kekayaan tersebut merupakan bagian penting dari identitas budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan.

Pelestarian bahasa daerah membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lembaga pendidikan. Penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari dan pembelajaran di sekolah dapat membantu menjaga keberlangsungannya di tengah perubahan zaman. Pada saat yang sama, penguatan bahasa Indonesia dan penguasaan bahasa asing tetap dapat berjalan beriringan.

Sorotan terhadap tulisan berbahasa Inggris di Bandara Soekarno-Hatta pada akhirnya menjadi pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga bagian dari identitas nasional. Sebagai pintu gerbang Indonesia, bandara internasional memiliki kesempatan untuk memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat dunia sejak mereka tiba di Tanah Air. Tantangannya adalah memastikan bahasa Indonesia tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri tanpa menutup ruang bagi komunikasi lintas negara. (*)

Komentar (0)