Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1448 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2027 pada Selasa, 9 Maret 2027. Penentuan tersebut menggunakan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi pedoman Muhammadiyah dalam penanggalan Islam.
Hari Raya Idul Fitri menjadi salah satu momen penting bagi umat Islam setelah menyelesaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh pada Ramadan. Informasi mengenai perkiraan tanggal Lebaran sejak dini dapat membantu masyarakat mempersiapkan berbagai kebutuhan, termasuk ibadah, perjalanan mudik, hingga agenda keluarga.
Muhammadiyah Menggunakan KHGT
Muhammadiyah mulai menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai pedoman kalender Islam internasional sejak 1446 H atau 2024 M.
Sistem kalender tersebut menerapkan konsep bahwa satu hari memiliki satu tanggal yang berlaku secara global. Dalam penerapannya, seluruh wilayah bumi dipandang sebagai satu kesatuan dalam penentuan kalender Hijriah.
Ada beberapa prinsip yang menjadi dasar penggunaan KHGT, yaitu:
- Kesamaan hari dan tanggal, sehingga pergantian bulan Hijriah diupayakan berlangsung pada hari yang sama secara global.
- Perhitungan astronomi, menggunakan metode hisab dengan perhitungan astronomis untuk menentukan posisi bulan secara akurat.
- Kesatuan matlak, yaitu memandang bumi sebagai satu wilayah dalam sistem penanggalan Islam.
Awal Ramadan dan Idul Fitri 2027 Versi Muhammadiyah
Berdasarkan perhitungan menggunakan KHGT, jadwal penting Ramadan 1448 H yang ditetapkan Muhammadiyah adalah:
- 1 Ramadan 1448 H: Senin, 8 Februari 2027
- 1 Syawal 1448 H: Selasa, 9 Maret 2027
Dengan demikian, berdasarkan kalender Muhammadiyah, umat Islam diperkirakan mulai menjalankan ibadah puasa pada Senin, 8 Februari 2027, kemudian merayakan Idul Fitri pada Selasa, 9 Maret 2027.
Bagaimana Penetapan Ramadan oleh Pemerintah dan NU?
Berbeda dengan Muhammadiyah, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belum menetapkan secara resmi awal Ramadan maupun Idul Fitri 1448 H.
Penentuan resmi pemerintah akan dilakukan melalui Sidang Isbat yang digelar menjelang pergantian bulan Hijriah.
Meski keputusan final belum ditetapkan, berdasarkan perkiraan kalender Hijriah Indonesia, awal Ramadan 1448 H diprediksi bertepatan dengan Senin, 8 Februari 2027.
Pemerintah dan NU menggunakan kombinasi metode hisab dan rukyatul hilal. Penentuan tersebut juga mengacu pada kriteria MABIMS yang digunakan oleh negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Kriteria Hilal Menurut MABIMS
Dalam kriteria MABIMS, hilal dapat memenuhi syarat apabila memiliki:
- Ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk.
- Elongasi minimal 6,4 derajat.
Apabila persyaratan tersebut belum terpenuhi ketika pemantauan dilakukan, bulan sebelumnya dapat digenapkan menjadi 30 hari melalui mekanisme istikmal. Kondisi tersebut dapat menyebabkan awal Ramadan bergeser satu hari.
Tanggal Lebaran Masih Menunggu Keputusan Pemerintah
Meskipun Muhammadiyah telah menetapkan tanggal Idul Fitri 1448 H berdasarkan KHGT, masyarakat tetap perlu memahami bahwa tanggal resmi Idul Fitri versi pemerintah baru dapat dipastikan setelah Sidang Isbat.
Oleh karena itu, masyarakat yang mengikuti penetapan pemerintah sebaiknya menunggu keputusan resmi Kementerian Agama.
Sementara itu, penetapan Muhammadiyah dapat menjadi acuan bagi warga Muhammadiyah dalam mempersiapkan ibadah Ramadan dan Idul Fitri 2027.
Dengan adanya perbedaan metode penentuan kalender Hijriah, masyarakat diharapkan tetap menghormati keputusan masing-masing pihak dan menjaga suasana Ramadan serta Idul Fitri tetap harmonis.
![]()














