Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan berpidato dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Selasa (22/9/2026) pagi waktu setempat. Perang AS-Israel dengan Iran diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam pidato tersebut, ketika konflik telah berlangsung hampir tujuh bulan.
Ini menjadi pidato Trump di forum PBB setelah Amerika Serikat terlibat langsung dalam perang dengan Iran. Konflik yang semula disebut Trump dapat berlangsung hanya beberapa pekan kini memasuki fase yang jauh lebih panjang dan mulai berdampak terhadap keamanan kawasan serta pasar energi global.
Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan Trump akan menyampaikan sejumlah capaian kebijakan luar negeri pemerintahannya. Menurut Waltz, Trump akan berbicara mengenai berbagai kesepakatan perdamaian yang telah dirintis, situasi di Belahan Bumi Barat, serta perkembangan rencana perdamaian Gaza.
Iran juga menjadi salah satu agenda utama. Waltz mengatakan Trump akan menekankan posisi Washington bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Isu tersebut menjadi semakin sensitif karena perang telah berlangsung jauh lebih lama dibandingkan perkiraan awal yang pernah disampaikan Trump. Pada saat yang sama, belum terdapat kesepakatan yang mengakhiri konflik dan ketegangan di kawasan masih berlanjut.
Kehadiran Trump di PBB juga berlangsung ketika delegasi Iran berada di New York. Pemerintah AS memberikan visa kepada delegasi Iran untuk menghadiri sidang, meski hingga menjelang pidato belum ada rencana pertemuan langsung antara Trump dan pejabat Iran.
Perang Iran Mulai Menekan Pasar Energi
Perang yang berlangsung berbulan-bulan juga membawa persoalan ekonomi. Selat Hormuz dan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian karena memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia.
Serangan kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran terhadap Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan fasilitas energi. Serangan tersebut menjadi salah satu isu yang diperkirakan dibahas Trump bersama para pemimpin negara Teluk.
Mike Waltz sebelumnya mengatakan isu kebebasan navigasi dan kelancaran perdagangan di sejumlah jalur strategis dunia akan menjadi bagian dari pembahasan di sela Sidang Umum PBB. Selat Hormuz, Bab el-Mandeb, Terusan Suez, Terusan Panama dan Selat Malaka disebut sebagai jalur yang memiliki arti penting bagi perdagangan global.
Perkembangan tersebut membuat perang Iran tidak lagi menjadi persoalan yang hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur energi dan pelayaran dapat berpengaruh terhadap harga minyak serta biaya perdagangan di berbagai negara.
Trump Bertemu Pemimpin Inggris, Jepang dan Negara Teluk
Selain berpidato di hadapan Sidang Umum PBB, Trump dijadwalkan melakukan sejumlah pertemuan bilateral.
Trump akan bertemu Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Ia juga dijadwalkan bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy serta melakukan pertemuan dengan para pemimpin negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC).
Pertemuan dengan negara-negara Teluk akan menjadi salah satu agenda penting karena negara-negara tersebut berada langsung dalam dampak konflik Iran, baik dari sisi keamanan maupun energi.
Trump juga dijadwalkan melakukan pertemuan informal dengan pemimpin sementara Venezuela Delcy Rodríguez. Di sisi lain, Amerika Serikat disebut akan menandatangani kesepakatan keamanan baru dengan Denmark dan Greenland yang berkaitan dengan penguatan kehadiran militer AS di Greenland.
Sehari Sebelum Bertemu Xi Jinping
Agenda Trump di PBB juga memiliki dimensi hubungan AS-China. Kunjungan tersebut berlangsung hanya sehari sebelum Trump dijadwalkan menerima Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih.
Hubungan Washington dan Beijing menjadi salah satu konteks penting karena China merupakan pembeli utama minyak Rusia. Pada saat yang sama, pemerintahan Trump mempertanyakan aktivitas sejumlah entitas China yang disebut berkaitan dengan Iran.
Trump sendiri masih menyatakan hubungan dengan Xi berjalan baik meskipun terdapat sejumlah persoalan strategis antara kedua negara. Pertemuan kedua pemimpin di Washington akan berlangsung setelah agenda Trump di PBB selesai.
Bayang-Bayang Insiden Pidato Tahun Lalu
Pidato Trump tahun ini juga berlangsung dengan latar belakang insiden yang terjadi ketika ia menghadiri Sidang Umum PBB pada 2025.
Saat itu, eskalator yang dinaiki Trump dan istrinya tiba-tiba berhenti sebelum mereka memasuki ruang sidang. Tidak lama kemudian, teleprompter yang digunakan Trump mengalami gangguan.
Trump kemudian menyebut rangkaian insiden tersebut sebagai kemungkinan sabotase dan meminta penyelidikan. Namun, penjelasan PBB menyebut mekanisme pengaman eskalator kemungkinan terpicu secara tidak sengaja oleh videografer dari rombongan Trump.
Tahun ini, perhatian jauh lebih besar akan tertuju pada substansi pidato Trump. Konflik Iran, keamanan jalur energi, Gaza, hubungan dengan China, serta posisi Amerika Serikat terhadap PBB akan menjadi sejumlah isu yang menentukan konteks pidatonya.
Karena pidato Trump belum berlangsung saat artikel ini ditulis, isi lengkap pernyataan, respons delegasi Iran, serta respons negara-negara anggota PBB belum dapat dipastikan. BeritaNow akan memperbarui laporan setelah pidato dan agenda pertemuan Trump berlangsung.(*)