Sopir Telat Ganti Gigi, Bus Rombongan Warga Sleman Terguling di Ngaryoso Karanganyar

Bus PO Bima Sakti yang mengangkut 30 penumpang di Sleman terguling. Kecelakaan itu diduga disebabkan oleh sopir bus yang telat oper gigi saat masuk tanjakan.

Kecelakaan bus terulang lagi. Kali ini menimpa bus PO Bima Sakti yang tengah mengangkut 30 penumpang warga RW 01 Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman. Bus terguling di Ngaryoso, Karanganyar. Bus yang mengalami kecelakaan itu sejatinya hendak menuju air terjun Jumog.

Kecelakaan diduga terjadi karena sopir bus telat mengganti gigi saat melintas di tanjakan. Akibatnya bus gagal nanjak dan merosot mundur hingga akhirnya terguling.

Baca Juga:   Perbedaan Asam Sulfat dan Asam Folat

“Sesampainya di tanjakan beliau (sopir) telat oper masuk gigi, gigi rendah tapi jalan nanjak terus melorot terus terguling,” ungkap Kasat Lantas Polres Karanganyar, AKP Aliet Alphard

Akibat kejadian itu, Aliet menyebut sebanyak delapan orang mengalami luka-luka dan saat ini masih dirawat di rumah sakit dan puskesmas.

“Korban luka ringan ada 8 orang, ini masih di rumah sakit dan puskesmas. Delapan orang luka-luka,” ucapnya.

Aliet menambahkan sopir bus sudah diamankan di Mako Lantas Polres Karanganyar untuk dimintai keterangan akibat telat mengoper gigi itu. Sebelumnya, pakar keselamatan berkendara sekaligus Founder dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu mengatakan bahwa kecelakaan semacam itu disebabkan oleh freewheel lantaran pengoperasian gigi yang tidak tepat.

Baca Juga:   Viral! Pria Terkejut Harga Nasi Bungkus Rp 292 Ribu, Penyebabnya Ternyata karena Lauk Ini

“Fakta banyak sekali kecelakaan saat menanjak mobil atau bus/truk itu meluncur dengan keras ke belakang. Atau sebaliknya pada saat menurun mobil meluncur. Kejadian ini disebabkan oleh freewheel. Karena prosedur shifting transmisi (perpindahan gigi) yang dia lakukan tidak dipenuhi dengan benar,” jelas Jusri belum lama ini.

Untuk mengurangi risiko itu, seharusnya pengemudi tidak melakukan perpindahan gigi saat di tanjakan atau turunan. Lakukan perpindahan gigi menjelang turunan atau sesudah turunan.

“Jika itu (perpindahan gigi) dilakukan (saat turunan) maka potensi atau peluang terjadinya freewheel itu akan besar sekali. Ketika terjadi freewheel, pengendara nggak akan mampu mengatasi momentum inersia akibat kecepatan massa yang terjadi. Rem pun tidak mampu, service brake (rem kaki) akan mengalami overheat atau terjadi penyusutan kemampuan remnya,” tambah Jusri.

Loading