Minggu, 11 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Serangan Terbaru Houthi ke Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Serangan Terbaru Houthi ke Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

RIYADH, BERITANOW.COM — Serangan rudal Houthi menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026). Sedikitnya 12 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka. Serangan ini menjadi yang paling mematikan di kerajaan tersebut dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Otoritas penerbangan sipil Saudi menyatakan korban tewas terdiri dari empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir. Jumlah korban luka tercatat 309 orang, sebagian dalam kondisi kritis.

Serangan Ketiga dalam Sepekan
Serangan ini merupakan yang ketiga kalinya menyasar Bandara King Khalid dalam sepekan. Dua serangan sebelumnya menewaskan empat orang dan merusak sebuah pesawat komersial Saudi yang terparkir di apron bandara.

Menurut pejabat regional, rudal menghantam kompleks bandara yang menampung Terminal 3 dan 4 untuk penerbangan domestik. Operasi bandara sempat dihentikan sementara dan seluruh penerbangan dialihkan. Bandara itu melayani kota berpenduduk sekitar delapan juta orang.

Saksi mata melaporkan mendengar ledakan saat menunggu penerbangan. Seorang penumpang yang berada di gate 403 menyaksikan gate 401 terkena hantaman dan melihat korban berjatuhan di depannya. "Semua orang berlarian," katanya kepada AFP, seperti dikutip The Guardian.

Kecaman Dunia
Serangan ini memicu kecaman luas dari berbagai negara dan lembaga internasional. Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu "mengerikan" dan menyatakan sedang mengevaluasi apakah Amerika Serikat perlu bergabung dengan serangan Saudi terhadap Houthi.

"Kami mungkin akan ikut. Kami akan melihatnya. Kami baru mengetahui serangan terbaru ini, jadi kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat," kata Trump.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan serangan Houthi menewaskan seorang warga Amerika. Ia menyerukan penghentian "serangan-serangan tercela ini" dan menyatakan solidaritas dengan Arab Saudi.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan "sangat terkejut" dan mengecam keras serangan tersebut. Menurutnya, serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil melanggar hukum internasional dan harus dihentikan segera. Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menyebut serangan itu sebagai "eskalasi serius" yang mengancam keamanan regional.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut serangan itu "menjijikkan" dan menegaskan tidak ada pembenaran untuk serangan terhadap infrastruktur sipil. Mesir, Qatar, Pakistan, Yordania, Oman, dan Palestina juga menyampaikan kecaman serupa.

Perebutan Selat Bab al-Mandab
Serangan udara ini terjadi di tengah intensifikasi perang di Yaman. Pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang diakui PBB mengklaim berhasil merebut kembali Selat Bab al-Mandab dari Houthi. Namun, klaim tersebut masih simpang siur.

Juru bicara Houthi menyatakan pasukan pemerintah yang berbasis di Aden "ditargetkan dengan sejumlah besar rudal balistik, dukungan artileri, dan senjata berat." Menurutnya, lebih dari 22 kendaraan lapis baja hancur dan puluhan orang tewas atau luka.

Duta Besar Saudi untuk Yaman, Mohammed al-Jaber, menyatakan Selat Bab al-Mandab "telah dibersihkan dari sisa-sisa milisi teroris Houthi." Sementara itu, juru bicara militer pemerintah Yaman menyatakan baru setengah wilayah yang berhasil direbut.

Pulau Perim seluas 13 kilometer persegi yang membentang di selat itu menjadi titik pandang bagi seluruh lalu lintas dari Laut Merah menuju Teluk Aden dan Samudra Hindia. Sekitar 500 pejuang Houthi dilaporkan masih bertahan di pulau tersebut.

Dampak dan Kekhawatiran
Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, dalam laporannya ke Dewan Keamanan PBB menyatakan Yaman telah kembali ke perang skala penuh. Menurutnya, korban pertama dari eskalasi ini adalah perempuan dan anak-anak.

Sejumlah maskapai telah menangguhkan atau membatalkan penerbangan ke ibu kota Saudi tersebut. Layanan pelacak penerbangan menunjukkan seluruh penerbangan masuk ke Riyadh dialihkan atau dibatalkan. Serangan ini juga terjadi beberapa saat sebelum Riyadh dijadwalkan menjadi tuan rumah konferensi energi dan investasi besar.(*)

Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.

Komentar (0)