Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
ZAPORIZHZHIA, BeritaNow.com — Warga yang datang untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan justru menghadapi maut. Sedikitnya 26 orang dilaporkan tewas setelah serangkaian serangan bom menghantam bangunan sekolah yang digunakan sebagai pusat distribusi bantuan dan tempat perlindungan di Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia, Ukraina, Senin (2/11/2026). Pemerintah Ukraina menuding militer Rusia bertanggung jawab atas serangan yang juga menewaskan petugas penyelamat dan polisi.
Serangan Rusia di Ukraina tersebut terjadi dalam dua gelombang, menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Setelah bom pertama menghantam bangunan sekolah, serangan berikutnya dilaporkan mengenai tempat perlindungan yang digunakan warga. Otoritas Ukraina menyatakan puluhan orang masih dicari di antara reruntuhan, sehingga jumlah korban dikhawatirkan bertambah.
Mencari Bantuan, Justru Bertemu Maut
Bangunan yang menjadi sasaran sebelumnya berfungsi sebagai sekolah, tetapi tidak sedang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Menurut Zelenskyy, warga yang masih bertahan di Komyshuvakha biasa mendatangi lokasi tersebut setiap pekan untuk menerima bantuan kemanusiaan. Tempat itu menjadi salah satu sarana pemenuhan kebutuhan dasar penduduk di tengah perang yang berkepanjangan.
Pemerintah Ukraina menyatakan serangan pertama diikuti sembilan bom udara tambahan yang menghantam area tempat perlindungan. Pejabat setempat menyebut penggunaan bom berpemandu FAB-3000, yang masing-masing memiliki bobot sekitar tiga ton. Namun, jumlah dan jenis senjata tersebut masih berdasarkan keterangan pihak Ukraina dan belum dikonfirmasi melalui pemeriksaan independen.
Di antara korban meninggal terdapat dua anggota tim penyelamat dan empat polisi, menurut laporan terbaru yang dikutip Reuters. Sebanyak lima orang juga dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk petugas penyelamat. Kehilangan personel darurat memperberat upaya penanganan ketika warga lain masih membutuhkan pertolongan.
Reruntuhan Menyulitkan Pencarian Korban
Tim penyelamat berusaha menemukan korban yang diduga terjebak di bawah bangunan yang hancur. Sekretaris Dewan Kota Zaporizhzhia, Regina Kharchenko, sebelumnya melaporkan 27 orang belum ditemukan. Jumlah tersebut merupakan data pada tahap pencarian dan masih dapat berubah seiring perkembangan evakuasi.
Operasi penyelamatan juga menghadapi ancaman serangan lanjutan. Associated Press melaporkan aktivitas drone Rusia menghambat upaya petugas di lokasi kejadian. Situasi tersebut menambah bahaya bagi tim darurat yang berupaya menjangkau korban di tengah reruntuhan.
Zelenskyy mengecam pengeboman tersebut dan menilai serangan terhadap fasilitas bantuan menunjukkan tidak adanya keinginan Rusia untuk meredakan perang. Namun, tuduhan mengenai kesengajaan menyerang warga sipil tetap memerlukan penyelidikan yang dapat menguji sasaran, informasi intelijen, dan rangkaian serangan. Belum ditemukan tanggapan resmi Rusia yang secara khusus menjelaskan insiden Komyshuvakha dalam sumber yang diperiksa.
Diplomasi Damai, Bom Masih Berjatuhan
Tragedi ini terjadi setelah berakhirnya gencatan senjata kemanusiaan terbatas selama enam hari di kawasan Oleshky, wilayah Kherson. Kesepakatan tersebut memungkinkan penyaluran bantuan dan evakuasi sejumlah penduduk dari wilayah yang dikuasai Rusia. Namun, penghentian pertempuran itu bersifat lokal dan tidak mencakup seluruh wilayah Ukraina.
Serangan di Komyshuvakha juga berlangsung menjelang kemungkinan pembicaraan damai yang melibatkan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi pada November 2026. Rencana perundingan masih menghadapi ketidakpastian, sementara kedua pihak terus melaksanakan operasi militer. Situasi tersebut memperlihatkan besarnya kesenjangan antara upaya diplomasi dan keselamatan masyarakat di lapangan.
Dalam hukum humaniter internasional, warga sipil dan objek sipil memperoleh perlindungan dari serangan yang disengaja. Petugas kemanusiaan serta layanan darurat juga harus dilindungi sesuai ketentuan yang berlaku. Penilaian apakah serangan tertentu merupakan kejahatan perang membutuhkan penyelidikan atas fakta, sasaran militer, dan keadaan ketika serangan dilaksanakan.
Bagi penduduk Komyshuvakha, akibat perang kini menjangkau tempat yang digunakan untuk mencari bantuan dan berlindung. Mereka menghadapi ancaman bukan hanya ketika berada di rumah atau jalanan, melainkan juga saat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tragedi ini meninggalkan pertanyaan mendesak: bagaimana warga dapat bertahan jika tempat menerima bantuan pun tidak lagi aman?(*)