Selat Hormuz Bisa Dibuka Dalam 2 Hari, Iran Tagih Syarat Ke AS
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
TEHERAN, BeritaNow.com — Iran menawarkan jalan keluar dari ketegangan yang mengganggu salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Pemerintah Teheran menyatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu dua hari apabila Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang telah diajukan. Namun, tawaran tersebut belum menjadi kesepakatan, sementara ancaman militer masih membayangi hubungan kedua negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan perkembangan itu dalam konferensi pers di Teheran, Senin (2/11/2026). Menurutnya, rencana yang sebelumnya membutuhkan tujuh hari kini dapat dipersingkat menjadi dua hari sebagai bagian dari upaya diplomasi. Meski demikian, pelaksanaan seluruh tahapan tetap bergantung pada keputusan Washington untuk memenuhi persyaratan Iran.
Dua Hari untuk Membuka Jalur Minyak Dunia
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi jalur penting pengiriman minyak serta gas ke pasar internasional. Dalam kondisi normal sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut. Gangguan pelayaran membuat keselamatan kapal, distribusi energi, dan stabilitas harga menjadi perhatian banyak negara.
Iran sebelumnya mengajukan rencana tujuh tahap melalui mediator pada September 2026. Rencana tersebut mencakup penghentian blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pelonggaran pembatasan ekspor minyak. Teheran juga menghendaki pencabutan sanksi tertentu sebelum pembicaraan mengenai persoalan lain dilanjutkan.
Tawaran dua hari bukan berarti kapal dapat langsung berlayar bebas tanpa persyaratan. Pemerintah Iran menginginkan pengaturan rute pelayaran bersama Oman serta jaminan keamanan yang disepakati. Belum tersedia pengumuman bahwa Amerika Serikat telah menerima seluruh tuntutan tersebut.
Diplomasi Bergerak, Ancaman Militer Belum Hilang
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan komunikasi melalui mediator masih berlangsung intensif. Qatar menjadi salah satu pihak yang membantu menjembatani pembicaraan antara Teheran dan Washington. Meski delegasi Iran telah meninggalkan Doha pada Minggu, pembahasan rancangan kesepakatan terus berjalan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan kemungkinan mencapai kesepakatan dengan Iran masih terbuka. Namun, kedua negara belum berhasil menyelesaikan perbedaan mengenai sanksi, keamanan kawasan, dan program nuklir. Iran menegaskan perundingan nuklir baru dapat dilanjutkan setelah persyaratan awalnya dipenuhi.
Ketegangan bahkan meningkat ketika Associated Press pada 3 November melaporkan serangan Amerika Serikat terhadap sasaran Iran di sekitar Selat Hormuz. Informasi tersebut bersumber dari seorang pejabat AS yang berbicara tanpa disebutkan namanya, sementara media Iran melaporkan ledakan di sejumlah lokasi. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pembicaraan diplomatik belum menghentikan risiko bentrokan militer.
Harga Minyak Bisa Bernapas, Indonesia Ikut Menanti
Ketidakpastian di Selat Hormuz berdampak terhadap perdagangan internasional karena jalur tersebut menghubungkan produsen energi Teluk Persia dengan pasar dunia. Reuters melaporkan harga minyak melemah pada 2 November ketika muncul harapan penyelesaian diplomatik. Namun, penurunan harga sesaat belum membuktikan bahwa pasokan energi global telah kembali normal.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut penting karena pergerakan harga minyak dunia dapat memengaruhi biaya impor energi dan aktivitas ekonomi. Akan tetapi, perubahan harga BBM domestik tidak otomatis mengikuti setiap kenaikan atau penurunan harga minyak internasional. Pemerintah masih mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kebijakan subsidi, nilai tukar, dan mekanisme penetapan harga.
Di balik perundingan antarnegara, terdapat kepentingan pekerja pelayaran, pelaku usaha, dan masyarakat yang membutuhkan pasokan energi stabil. Keselamatan awak kapal menjadi persoalan penting ketika ancaman serangan masih terjadi di kawasan tersebut. Karena itu, keberhasilan diplomasi harus dinilai dari keamanan pelayaran yang benar-benar pulih, bukan sekadar pengumuman jadwal pembukaan.
Tawaran Iran memberikan kemungkinan baru untuk mengurangi ketegangan, tetapi pelaksanaannya masih memerlukan persetujuan Washington. Perundingan yang berlangsung bersamaan dengan aktivitas militer menunjukkan betapa rapuhnya proses tersebut. Dunia kini menunggu apakah dua hari yang ditawarkan Iran dapat menjadi awal pemulihan, atau tetap menjadi angka dalam perdebatan diplomatik.(*)