Sabtu, 31 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Sekolah di Gaza, Anak Bawa Buku tetapi Dihantui Peluru

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Sekolah di Gaza, Anak Bawa Buku tetapi Dihantui Peluru
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

GAZA, BeritaNow.com — Di banyak negara, orang tua melepas anak berangkat sekolah dengan pesan agar rajin belajar dan tidak terlambat pulang. Namun, bagi keluarga di Gaza, Palestina, perjalanan menuju ruang kelas kini bisa menjadi pertaruhan nyawa. Serangan udara dan tembakan yang dilaporkan berasal dari pasukan Israel terus mengancam anak-anak meskipun kegiatan sekolah telah kembali berlangsung sejak September 2026.

Mohammed Hamad, siswa berusia 14 tahun, menjadi salah satu korban. Pada 17 Oktober 2026, ia sedang berjalan pulang bersama adiknya, Abdullah, setelah mengikuti pelajaran di sekolah darurat di Deir el-Balah. Menurut laporan Al Jazeera, Mohammed tewas akibat serangan Israel di jalan kawasan al-Baraka, sedangkan Abdullah yang baru berusia 10 tahun selamat.

Ayah mereka, Riyad Hamad, kini harus menghadapi kehilangan yang sulit diterima. Mohammed merupakan siswa kelas delapan yang dikenal berprestasi, sementara Abdullah mengalami ketakutan untuk kembali bersekolah tanpa kakaknya. Bagi keluarga ini, berakhirnya jam pelajaran tidak lagi menjamin anak akan tiba di rumah.

Bel Masuk Sekolah, Tembakan Masih Terdengar
Tahun ajaran baru di Gaza dimulai pada 19 September 2026 setelah hampir tiga tahun pendidikan terganggu akibat perang. Sebagian anak kembali belajar di ruang-ruang darurat, termasuk tenda pendidikan yang didirikan di tengah kerusakan infrastruktur. Namun, kembalinya kegiatan belajar tidak diikuti jaminan keamanan bagi murid maupun guru.

Kementerian Pendidikan Palestina di Gaza melaporkan 10 anak berusia enam hingga 16 tahun dan seorang guru tewas dalam berbagai insiden antara 18 hingga 24 Oktober. Laporan tersebut juga mencatat penembakan yang melukai dua siswi Sekolah Muradiya di Jabalia pada 21 Oktober. Angka korban itu berasal dari otoritas pendidikan setempat dan belum dapat diverifikasi satu per satu secara independen.

Salah satu siswi yang terluka bernama Suad Abd Rabbo, murid kelas empat. Menurut kesaksian keluarganya kepada Al Jazeera, peluru mengenai bagian atas lutut Suad dan belum dapat dikeluarkan sepenuhnya melalui operasi. Ia telah keluar dari rumah sakit, tetapi masih mengalami kesulitan berjalan dan membutuhkan perawatan lanjutan.

Di Dalam Kelas, Rasa Takut Ikut Belajar
Peristiwa di Sekolah Muradiya turut melukai Amina Khader, siswi kelas lima yang berada di dekat Suad. Kepala sekolah, Naima Aloush, menceritakan kepanikan ketika kedua murid terkena tembakan saat kegiatan sekolah berlangsung. Setelah kejadian tersebut, kehadiran siswa menurun karena sejumlah keluarga takut mengirim anak mereka kembali belajar.

Sekolah tersebut terdiri atas sekitar 20 tenda pendidikan dan melayani kurang lebih 1.000 murid. Lokasinya berada dekat kawasan yang dikenal sebagai Yellow Line, garis pemisah yang berkaitan dengan pengaturan wilayah dalam kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025. Menurut laporan Al Jazeera, wilayah di sekitar garis tersebut masih menghadapi risiko tembakan dan aktivitas militer.

Ayah Amina, Khaled Khader, mengatakan anaknya mengalami ketakutan mendalam setelah insiden tersebut. Keluarga pernah mencoba mengantarkannya kembali ke sekolah, tetapi ia tidak mampu bertahan karena suara tembakan. Dilema orang tua pun semakin berat: mempertahankan pendidikan anak atau menghindari risiko yang mungkin muncul dalam perjalanan dan ruang kelas.

Ratusan Ribu Anak Masih Mengejar Pelajaran
Persoalan pendidikan Gaza jauh melampaui insiden penembakan terbaru. Laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada September 2026 mencatat sekitar 495.000 anak mengikuti kegiatan pembelajaran yang didukung PBB dan mitra kemanusiaan. Namun, sekitar 200.000 anak lainnya diperkirakan belum memperoleh akses terhadap pembelajaran terstruktur.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa membuka kembali sekolah hanyalah langkah awal pemulihan pendidikan. Anak-anak juga membutuhkan ruang yang aman, guru, perlengkapan belajar, dan dukungan psikologis setelah mengalami kekerasan berkepanjangan. Tanpa perlindungan yang memadai, kesempatan belajar dapat kembali terputus sewaktu-waktu.

Ada ironi pahit ketika dunia membicarakan masa depan pendidikan, sementara sebagian anak Gaza harus mempertimbangkan keselamatan hanya untuk menghadiri pelajaran. Buku seharusnya membawa mereka mengenal pengetahuan baru, bukan menjadi barang terakhir yang dibawa sebelum sebuah serangan. Bagi keluarga-keluarga tersebut, keberhasilan pendidikan dimulai dari harapan paling mendasar, yaitu anak berangkat sekolah dan pulang dalam keadaan selamat.(*)

Komentar (0)