Selasa, 22 September 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Prediksi IHSG Rabu 23 September 2026, Rupiah dan BI Rate Jadi Kunci

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Prediksi IHSG Rabu 23 September 2026, Rupiah dan BI Rate Jadi Kunci
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Prediksi IHSG Rabu 23 September 2026 masih dibayangi tekanan setelah indeks ditutup anjlok 1,69 persen pada perdagangan Selasa. 

IHSG turun 107,68 poin ke level 6.277,04. Penurunan tersebut terjadi ketika investor menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 22–23 September 2026.

Selain IHSG, rupiah juga menjadi perhatian karena kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pergerakan nilai tukar dan keputusan suku bunga BI berpotensi menentukan arah pasar saham pada perdagangan Rabu.

IHSG Berada di Bawah 6.300
Penutupan IHSG di level 6.277,04 membuat indeks berada di bawah level psikologis 6.300. Tekanan jual juga terlihat luas. Sebanyak 10 dari 11 sektor saham melemah pada perdagangan Selasa. Sektor energi menjadi pemberat utama dengan penurunan sekitar 2,76 persen, disusul sektor perindustrian dan properti.

Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp14,39 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan terjadi dengan aktivitas perdagangan yang cukup besar.

Untuk perdagangan Rabu, area 6.200–6.279 menjadi support yang perlu diperhatikan. Apabila IHSG mampu bertahan di sekitar area tersebut, peluang technical rebound tetap terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut dan indeks menembus level 6.200, risiko pelemahan lanjutan dapat meningkat.

Rupiah Kembali Melemah
Rupiah ikut tertekan pada perdagangan Selasa. Nilai tukar rupiah dilaporkan melemah sekitar 0,21 persen ke level Rp17.884 per dolar AS. Pada saat yang sama, IHSG turun 1,69 persen.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan kekhawatiran investor terhadap perusahaan yang memiliki kewajiban dalam valuta asing. Kondisi ini juga dapat memengaruhi arus dana asing ke pasar saham dan obligasi domestik.

Sebaliknya, emiten yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS berpotensi memiliki perlindungan alami terhadap pelemahan rupiah. Namun, pengaruh tersebut tetap bergantung pada struktur biaya dan kinerja masing-masing perusahaan.

Pasar akan memperhatikan apakah Bank Indonesia dapat memberikan sinyal kebijakan yang mampu menjaga stabilitas rupiah.

Menunggu Hasil RDG BI
Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan keputusan RDG pada Rabu, 23 September 2026. BI Rate saat ini berada di level 5,75 persen dan mayoritas ekonom memperkirakan suku bunga acuan dipertahankan.

Meski demikian, investor tidak hanya mencermati angka BI Rate. Pernyataan BI mengenai nilai tukar, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan stabilisasi rupiah juga berpotensi memengaruhi pasar.

Jika BI mempertahankan BI Rate disertai pernyataan yang dianggap mendukung stabilitas ekonomi, IHSG berpeluang mengalami rebound. Saham perbankan, properti, dan konsumsi dapat menjadi sektor yang paling sensitif terhadap ekspektasi suku bunga.

Namun, pasar dapat tetap tertekan apabila keputusan BI dianggap belum cukup untuk meredam pelemahan rupiah atau tekanan arus modal asing.

Skenario Pergerakan IHSG
Dalam skenario positif, IHSG berpeluang mengalami technical rebound menuju area 6.300–6.370 apabila indeks bertahan di atas support dan keputusan BI sesuai dengan ekspektasi pasar.

Skenario netral terjadi apabila investor menunggu rincian pernyataan BI. IHSG dapat bergerak volatil dalam rentang terbatas karena pelaku pasar masih menilai dampak kebijakan terhadap rupiah dan pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, skenario negatif dapat terjadi apabila rupiah kembali melemah, investor asing melanjutkan aksi jual, dan IHSG menembus level 6.200. Dalam kondisi tersebut, tekanan pada saham perbankan dan energi dapat kembali membebani indeks.

Investor juga perlu mencermati harga komoditas, bursa regional, serta pergerakan saham berkapitalisasi besar pada awal perdagangan.

Prediksi IHSG Rabu 23 September 2026 masih bersifat tentatif karena hasil RDG BI baru diumumkan setelah rapat selesai. Pergerakan aktual indeks dapat berubah mengikuti keputusan bank sentral, respons rupiah, dan sentimen global.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)