Selasa, 22 September 2026
Breaking News
Internasional

Pezeskian ke PBB: Perang Belum Usai, Tapi Meja Negosiasi Dibuka

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Pezeskian ke PBB: Perang Belum Usai, Tapi Meja Negosiasi Dibuka
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Presiden Iran Masoud Pezeshkian datang ke Sidang Umum PBB ke-81 dengan pesan yang tegas bahwa Iran tidak akan menyerah di bawah tekanan Amerika Serikat dan Israel. Namun di sisi lain, Tehran juga membawa tawaran diplomatik untuk membuka kembali perundingan dengan Washington.

Dua pesan itu bukanlah dua posisi yang harus saling bertentangan. Bagi Iran, forum PBB menjadi ruang untuk mempertahankan posisi politik sekaligus menguji kemungkinan mengakhiri perang melalui jalur diplomasi. 

Pezeshkian dijadwalkan menyampaikan pidato pada Rabu (23/9/2026), sementara delegasi Iran disebut telah memperoleh mandat untuk menghidupkan kembali perundingan dengan Amerika Serikat.

Menjelang keberangkatannya ke New York, Pezeshkian mengatakan Iran akan mempertahankan posisinya dengan kuat di forum internasional. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengatakan kehadiran Iran di PBB akan digunakan untuk menyampaikan kepentingan dan hak rakyat Iran di tengah perang.

Sikap tersebut tidak muncul dalam ruang kosong. Pezeshkian mengatakan Iran berhati-hati terhadap kemungkinan negosiasi baru karena, menurut pandangan Tehran, Amerika Serikat dan Israel telah melakukan serangan ketika proses perundingan sebelumnya sedang berlangsung.

Karena itu, pesan Pezeshkian ke PBB bukan sekadar soal perang. Tehran ingin membawa persoalan mengenai kepercayaan, komitmen dan jaminan dalam setiap proses diplomasi ke hadapan komunitas internasional.

Tawaran Diplomasi

Di tengah sikap keras tersebut, perkembangan diplomatik justru bergerak. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa delegasi Iran di New York memiliki kewenangan untuk menghidupkan kembali perundingan dengan Washington. Tehran bahkan disebut telah menyampaikan proposal melalui mediator pada 16 September.

Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran negara-negara Teluk dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat mengambil langkah untuk mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.

Menurut pejabat tersebut, Washington terlebih dahulu harus menyatakan secara resmi bahwa penyelesaian diplomatik memang menjadi tujuan, kemudian menyepakati jadwal proses perundingan.

Dengan kata lain, Tehran tidak menawarkan pembukaan Hormuz tanpa syarat. Jalur pelayaran tersebut ditempatkan sebagai bagian dari paket negosiasi yang lebih besar untuk menghentikan permusuhan.

Hormuz Bukan Sekadar Selat

Selat Hormuz menjadi salah satu kartu terpenting dalam konflik ini karena jalur tersebut memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi dunia.

Gangguan terhadap pelayaran melalui Hormuz telah memengaruhi pasar minyak dan rantai pasok global. Karena itu, tawaran Iran untuk membuka kembali jalur tersebut dapat memiliki dampak jauh di luar hubungan bilateral Tehran-Washington.

Bagi Iran, isu Hormuz juga berkaitan dengan tuntutan agar tekanan militer dan blokade terhadap pelabuhan Iran dikurangi. Bagi negara-negara Teluk dan pasar global, normalisasi pelayaran berarti berkurangnya salah satu sumber tekanan terhadap pasokan energi.

Di sinilah diplomasi Iran memperoleh dimensi ekonomi. Selat Hormuz dapat menjadi pintu keluar dari konflik, tetapi sekaligus menjadi alat tawar dalam menentukan syarat keluarnya konflik.

Washington Juga Membuka Celah

Sinyal diplomasi tidak hanya datang dari Tehran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington terbuka untuk berbicara dengan pihak Iran di sela Sidang Umum PBB, meskipun belum ada pertemuan langsung yang dijadwalkan antara Trump dan Pezeshkian.

Trump juga sebelumnya mengatakan terbuka terhadap kemungkinan bertemu dengan presiden Iran. Namun Washington tetap mempertahankan tuntutannya agar Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Artinya, kedua pihak belum berada pada titik kesepakatan. Mereka bahkan masih berbeda mengenai syarat dasar untuk memulai kembali proses tersebut. Tetapi ruang komunikasi tetap dibuka dari dua arah.

PBB Menjadi Arena Adu Tekanan

Karena itu, pidato Pezeshkian di PBB patut dibaca lebih dari sekadar pidato perang. Tehran perlu menunjukkan kepada publik Iran bahwa tekanan militer tidak membuat negara itu menyerah. Pada saat yang sama, Tehran juga membutuhkan ruang diplomatik untuk membicarakan penghentian permusuhan dengan syarat yang dianggap dapat diterima.

Pertemuan dengan negara-negara lain di New York menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Menteri luar negeri Iran menyebut agenda delegasinya mencakup sejumlah pertemuan bilateral untuk membahas hubungan dan posisi Iran dalam perkembangan regional.

Maka pertanyaan terbesar dari kehadiran Pezeshkian di PBB bukan sekadar apakah Iran akan berbicara keras terhadap Amerika Serikat. Yang lebih menarik adalah apakah pesan perlawanan Iran di podium PBB dapat berjalan beriringan dengan tawaran diplomasi di ruang perundingan.

Sebab dalam perang yang telah berlangsung berbulan-bulan, membuka pintu negosiasi tidak selalu berarti menyerah. Bisa jadi, justru di situlah pertarungan untuk menentukan siapa yang menetapkan syarat perdamaian baru dimulai.(*)

Komentar (0)