Selasa, 03 November 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Penutupan IHSG 3 November 2026 Anjlok 3,67% ke 4.909

Riskal Arief | | 2 mnt baca
Penutupan IHSG 3 November 2026 Anjlok 3,67% ke 4.909
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan IHSG 3 November 2026 berakhir melemah tajam setelah tekanan jual kembali menguat. Indeks Harga Saham Gabungan turun 187,01 poin atau 3,67 persen ke level 4.909,82.

IHSG dibuka di level 5.126,53 dan sempat menguat hingga 5.143,58 pada awal sesi. Namun, minat beli tidak bertahan karena tekanan jual kemudian mendorong indeks turun ke posisi terendah 4.895,60.

Penutupan di bawah 4.910 menegaskan pasar masih berada dalam tekanan berat. IHSG juga semakin jauh dari level psikologis 5.000 yang sebelumnya menjadi batas penting bagi pemulihan pasar.

Minyak Naik, Risiko Inflasi Menguat
Harga minyak Brent naik 2,23 dolar atau 2,13 persen ke level US$107 per barel. Kenaikan tersebut menjadi tekanan tambahan karena dapat memperbesar kekhawatiran inflasi global.

Minyak yang mahal berpotensi meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi. Kondisi tersebut dapat menekan margin perusahaan serta memperkuat ekspektasi bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak juga berisiko menekan rupiah melalui kebutuhan impor energi. Pelemahan rupiah selanjutnya dapat membatasi minat investor asing terhadap saham domestik.

Tekanan tersebut membuat investor semakin memilih mengurangi paparan pada aset berisiko. Saham berkapitalisasi besar dan saham yang banyak dimiliki investor global menjadi sasaran pelepasan utama.

Pasar Masih dalam Mode Defensif
IHSG bergerak dalam rentang lebar antara 4.895,60 hingga 5.143,58. Rentang tersebut menunjukkan volatilitas tinggi dan ketidakpastian investor masih besar.

Pembukaan yang positif tidak cukup untuk mengubah arah pasar. Aksi jual yang muncul setelah indeks menyentuh level tertinggi menunjukkan investor masih memanfaatkan penguatan untuk mengurangi posisi.

Tekanan pada IHSG juga berlanjut dari kekhawatiran terhadap status pasar Indonesia di MSCI. Investor masih menilai dampak potensial perubahan klasifikasi terhadap arus dana asing dan likuiditas pasar.

Kondisi tersebut membuat pasar saham Indonesia berada dalam mode defensif. Investor cenderung menunggu kejelasan dari regulator serta perbaikan sentimen global sebelum kembali menambah posisi.

Indikator yang Harus Diperhatikan
Investor perlu memantau pergerakan harga minyak, rupiah, dan arus dana asing sebagai indikator utama. Ketiga faktor tersebut akan menentukan apakah IHSG mampu pulih atau terus tertekan.

Level 4.895 menjadi support terdekat yang perlu dijaga. Jika level tersebut ditembus, IHSG berisiko bergerak lebih rendah pada perdagangan berikutnya.

Sementara itu, level 5.000 kini berubah menjadi resistance penting. IHSG perlu menembus dan bertahan di atas level tersebut agar peluang pemulihan semakin terbuka.

Saham perbankan, energi, telekomunikasi, dan komoditas kemungkinan tetap menjadi penentu arah IHSG. Pergerakan saham berbobot besar tersebut akan sangat memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)