Rabu, 14 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Penutupan IHSG 13 Oktober 2026 Melemah 0,17% ke 5.925

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Penutupan IHSG 13 Oktober 2026 Melemah 0,17% ke 5.925
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan IHSG 13 Oktober 2026 berakhir di zona merah setelah indeks sempat tertekan cukup dalam pada sesi pagi. IHSG turun 10,17 poin atau 0,17 persen ke level 5.925,98 pada perdagangan Selasa.

IHSG dibuka melemah 0,36 persen ke level 5.914,98. Tekanan kemudian meluas hingga indeks menyentuh posisi terendah 5.828,67 sebelum menguat kembali menjelang penutupan. 

Pemulihan pada akhir sesi membuat pelemahan tidak terlalu dalam. IHSG ditutup dekat level tertinggi hariannya di 5.930,08, meski tetap berada di bawah posisi penutupan Senin sebesar 5.936,15. 

Aktivitas Pasar Cukup Ramai
Nilai transaksi mencapai Rp10,54 triliun dengan volume 33,1 miliar lembar saham. Aktivitas tersebut menunjukkan investor masih aktif melakukan transaksi meski arah pasar belum sepenuhnya jelas. 

Sebanyak 351 saham menguat, 308 saham melemah, dan 304 saham stagnan. Komposisi tersebut relatif berimbang, menandakan pemulihan pada akhir sesi tidak hanya terjadi pada saham berkapitalisasi besar. 

LQ45 juga tercatat melemah 1,71 poin atau 0,29 persen ke level 589,19. Pelemahan indeks unggulan menunjukkan saham berbobot besar masih menghadapi tekanan meski pasar secara keseluruhan sempat membaik. 

Pergerakan pasar masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global, terutama pergerakan harga minyak dan ekspektasi data inflasi Amerika Serikat. Investor tampak memilih menunggu kejelasan sebelum menambah posisi secara agresif. 

Rupiah dan Sentimen Global
Rupiah pada perdagangan Selasa melemah 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.926 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar menambah tekanan pada saham dengan kewajiban dolar serta perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. 

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Lonjakan harga energi dapat memperburuk ekspektasi inflasi dan menekan sentimen terhadap pasar berkembang. 

Wall Street pada penutupan Senin juga bergerak beragam. Dow Jones menguat 0,38 persen, tetapi S&P 500 turun 0,06 persen dan Nasdaq Composite melemah 0,44 persen. 

Kondisi tersebut membuat investor Indonesia tetap berhati-hati. Saham teknologi dan saham pertumbuhan cenderung sensitif terhadap pergerakan yield Treasury serta risiko inflasi global. 

Pemulihan di Akhir Sesi
IHSG sempat tertekan hingga 5.828,67 pada sesi pagi. Namun, pembelian mulai muncul pada sesi siang dan indeks kembali mendekati level 5.930 menjelang penutupan. 

Pemulihan tersebut menunjukkan masih ada minat beli pada saham-saham yang valuasinya dinilai menarik setelah koreksi Senin. Meski demikian, penguatan belum cukup kuat untuk mengembalikan IHSG ke atas level 5.936. 

Pergerakan dua arah menandakan pasar masih berada dalam fase konsolidasi. Investor kemungkinan menunggu data inflasi AS dan hasil laporan keuangan perusahaan besar sebelum menentukan arah jangka pendek. 

Saham perbankan, energi, dan saham berbobot besar tetap menjadi penentu utama. Pergerakan kelompok tersebut akan sangat memengaruhi arah IHSG pada perdagangan berikutnya. 

Proyeksi Rabu
IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada Rabu, 14 Oktober 2026. Level 5.900 menjadi area penting karena indeks sempat tertekan di bawah level tersebut sebelum berhasil pulih. 

Area support terdekat berada di sekitar 5.828–5.880. Sementara itu, resistance jangka pendek berada di 5.930–5.936. 

Jika IHSG mampu bertahan di atas 5.900 dan rupiah stabil, peluang penguatan menuju 5.936–6.000 masih terbuka. Sebaliknya, penembusan ke bawah 5.880 dapat memperbesar risiko pelemahan lanjutan. 

Investor perlu memantau pergerakan rupiah, harga minyak, dan arus dana asing. Ketiga faktor tersebut akan menjadi indikator utama dalam menilai arah pasar saham Indonesia.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)