Rabu, 23 September 2026
Breaking News
Nasional

Orangutan Terdampak Kebakaran Hutan, Ketika Hutan Tak Lagi Menjadi Tempat Berlindung

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Orangutan Terdampak Kebakaran Hutan, Ketika Hutan Tak Lagi Menjadi Tempat Berlindung
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW — Bagi manusia, kebakaran hutan berarti asap, gangguan kesehatan, dan hilangnya ruang hidup. Bagi orangutan, dampaknya bisa jauh lebih mendasar. Kemana mereka harus pergi ketika hutan yang menjadi rumahnya terbakar?

Pertanyaan itu kini menjadi nyata di Kalimantan. Seekor orangutan jantan berusia sekitar 20 tahun ditemukan dalam kondisi lemah di kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Satwa berbobot sekitar 70 kilogram itu diduga mengalami gangguan pernapasan setelah berada di tengah kondisi hutan yang terdampak kebakaran dan kabut asap.

Warga melaporkan keberadaan orangutan tersebut kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah. Petugas kemudian mengevakuasinya untuk mendapatkan perawatan di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Nyaru Menteng. Kondisinya masih dipantau sebelum nantinya dipertimbangkan untuk dikembalikan ke habitat.

Bukan hanya soal satu orangutan

Kasus di Kalimantan Tengah bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Di Kalimantan Barat, kebakaran juga menyebar ke habitat orangutan di sekitar Taman Nasional Gunung Palung dan Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak. Kawasan tersebut merupakan salah satu habitat penting bagi orangutan Kalimantan yang secara global berstatus terancam punah.

Mongabay melaporkan sedikitnya lima orangutan dari populasi yang selama puluhan tahun dipantau peneliti terlihat melarikan diri dari kebakaran. Hingga 16 September, otoritas setempat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia telah menyelamatkan 21 orangutan dari kawasan terdampak.

Persoalannya, penyelamatan hanya menyelesaikan satu tahap. Setelah seekor orangutan dievakuasi, pertanyaan berikutnya adalah di mana mereka akan dikembalikan?

Jika hutan terus terbakar, habitat untuk pelepasliaran ikut menyusut. Inilah yang membuat kebakaran hutan menjadi persoalan konservasi yang lebih besar daripada sekadar operasi penyelamatan satwa.

Asap juga menjadi ancaman kesehatan

Orangutan yang tidak langsung terkena api bukan berarti aman. Partikel halus dari asap kebakaran dapat masuk ke sistem pernapasan. Menurut pakar yang dikutip Mongabay, paparan PM2.5 berpotensi menyebabkan iritasi dan peradangan pada paru-paru, serta gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen.

Kasus kematian orangutan jantan bernama Sempurna di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, memperlihatkan risiko tersebut. Ia ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan pada 30 Agustus. Setelah mendapat oksigen dan cairan infus, kondisinya memburuk dan ia akhirnya mati. 

Pemeriksaan setelah kematian menemukan perubahan patologis pada sejumlah organ, termasuk paru-paru. Kementerian Kehutanan menyebut kelainan paru tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap dan dapat menyebabkan gangguan fungsi paru.

Habitat yang terbakar mempersempit pilihan

Besarnya tekanan terhadap habitat juga terlihat dari pemantauan titik panas. Geopix mendeteksi 17.865 titik panas di kawasan habitat orangutan yang dipetakan di Kalimantan pada periode 1 Juni hingga 28 Agustus 2026. 

Di Koridor Keanekaragaman Hayati Mendawak saja, lebih dari 17 ribu titik panas terdeteksi dalam periode 30 hari menurut data Sangga Bumi Lestari. Kondisi tersebut membuat hutan yang tersisa menjadi semakin terfragmentasi. 

Orangutan yang biasanya berpindah di antara pepohonan untuk mencari makanan kini dapat berhadapan dengan api di satu sisi dan kawasan yang sudah terbuka atau dekat permukiman di sisi lain. Perpindahan menuju wilayah manusia juga meningkatkan potensi konflik. Dengan kata lain, kebakaran tidak hanya membakar pohon. Ia mempersempit pilihan hidup satwa.

Menyelamatkan hutan untuk orangutan

Situasi ini menunjukkan bahwa operasi penyelamatan dan rehabilitasi tidak dapat menjadi satu-satunya jawaban. BOSF sebelumnya menyatakan pusat rehabilitasi dan sejumlah lokasi pelepasliaran mereka di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur masih aman dari dampak langsung kebakaran. 

Namun, perubahan kondisi lingkungan membuat pemantauan dan langkah pencegahan tetap diperlukan. Mongabay mencatat bahwa para pegiat konservasi kini juga mendorong pemetaan sumber air, pembuatan sekat kanal, penguatan pencegahan kebakaran, serta pemulihan kawasan yang telah terbakar. Tujuannya bukan hanya menyelamatkan orangutan hari ini, tetapi memastikan masih tersedia hutan untuk tempat mereka kembali.

Orangutan tidak membutuhkan sekadar kandang penyelamatan. Mereka membutuhkan hutan yang tetap hidup. Dan ketika hutan terbakar semakin luas, persoalannya bukan lagi apakah orangutan bisa melarikan diri dari api, melainkan apakah masih ada tempat yang bisa mereka tuju.(*)

Komentar (0)