Rabu, 23 September 2026
Breaking News
Nasional

Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Mundur, BMKG Ungkap Penyebabnya

Effra S. Husein | | 3 mnt baca
Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Mundur, BMKG Ungkap Penyebabnya
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

JAKARTA, BeritaNow.com — Masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia masih harus menghadapi periode kering yang lebih panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 akan datang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis di sebagian besar wilayah Indonesia.

BMKG mencatat sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan mengalami kemunduran awal musim hujan. Kondisi tersebut berkaitan dengan pengaruh El Niño yang berada pada kategori sangat kuat serta fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase positif.

Kedua fenomena tersebut memengaruhi pola atmosfer dan distribusi uap air di sekitar Indonesia. Dampaknya, kondisi atmosfer cenderung lebih kering sehingga pembentukan awan hujan menjadi lebih terbatas di sejumlah kawasan.

El Niño Sangat Kuat

Data BMKG menunjukkan suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada akhir Agustus 2026 memiliki anomali +2,83 derajat Celsius. Sementara indeks ENSO untuk periode Juli-Agustus-September mencapai +2,63, yang masuk kategori El Niño sangat kuat.

Kondisi tersebut masih terlihat dalam pemantauan terbaru BMKG. Pada dasarian II September, nilai Nino3.4 tercatat sekitar +2,97, sedangkan indeks IOD mencapai +0,935.

BMKG menyatakan kombinasi El Niño dan IOD positif dapat memperpanjang periode kering di Indonesia. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kedatangan musim hujan tidak berlangsung serentak dan cenderung lebih lambat.

Sebagian Besar Mulai November-Desember

Awal musim hujan diperkirakan berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. BMKG memperkirakan 185 ZOM atau 24,66 persen wilayah mulai memasuki musim hujan pada November 2026.

Sementara itu, 266 ZOM atau 17,31 persen wilayah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026. Wilayah yang terdampak mencakup bagian dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

Namun, datangnya hujan pada November atau Desember tidak berarti seluruh Indonesia langsung memasuki kondisi basah secara bersamaan. Karakter musim tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan wilayah masing-masing.

Durasi Musim Hujan Juga Diperkirakan Lebih Pendek

BMKG juga memproyeksikan durasi musim hujan 2026/2027 lebih pendek dari kondisi normal di sejumlah besar wilayah.

Sebanyak 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami musim hujan dengan durasi lebih pendek. Sebaliknya, 60 ZOM atau 8,58 persen luas daratan diprediksi memiliki durasi lebih panjang, sedangkan 40 ZOM atau 5,06 persen berada pada kisaran normal.

Untuk puncak musim hujan, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah akan mencapai puncaknya antara Desember 2026 hingga Februari 2027. Puncak tersebut tidak terjadi serentak karena dipengaruhi karakter iklim masing-masing daerah.

Tetap Waspada Kekeringan

Kondisi musim hujan yang mundur perlu menjadi perhatian, terutama bagi sektor yang bergantung pada ketersediaan air. BMKG sebelumnya juga mencatat kondisi atmosfer kering masih terjadi di sejumlah wilayah pada September 2026, termasuk wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dalam periode panjang.

Meski demikian, keterlambatan musim hujan bukan berarti tidak akan terjadi hujan sama sekali. Hujan lokal maupun hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer regional.

Masyarakat diimbau mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan informasi iklim BMKG, terutama menjelang peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan (*)

Komentar (0)