Mengintip ‘Kampung Janda Musiman’ di Purbalingga: Kisah Hidup di Desa dengan Rumah-Rumah Bak Istana

Desa Sumampir, Kecamatan Rembang, Purbalingga dijuluki sebagai ‘Kampung Janda Musiman’ karena sebagian besar warga prianya merantau. Banyaknya warga yang sukses di perantauan membuat rumah mewah tampak berderet di kampung ini.

Jika dilihat secara letak geografis, ‘Kampung Janda Musiman’ ini berada di pinggiran. Jaraknya dari wilayah perkotaan mencapai 28 km arah timur laut.

Namun siapa sangka, di desa dengan luas lahan 575 hektare ini terdapat banyak rumah megah tingkat dua bak istana. Rumah tersebut terlihat berjajar di pinggir jalan menuju Dusun Tipar.

Kaur Perencanaan desa setempat, Ivana (27) mengatakan pemilik rumah mewah tersebut adalah para perantau yang sukses. Mereka membangun rumah tersebut untuk ditinggali keluarganya.

Baca Juga:   Lirik Lagu Carat Cake - NCT Dream

“Ini baru yang di pinggir jalan. Di belakang rumah ini masuk gang juga banyak rumah-rumah besar. Ini yang punya warga sini yang merantau,” kata Ivana saat menunjukkan kawasan perkampungan dengan rumah megah.

Dia menyebut penduduk yang merantau sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Mereka awalnya membawa produk asli dari Desa Sumampir yaitu kelambu industri rumahan.

Namun seiring berjalannya waktu, para perantau juga mengambil produk industri dari pabrik besar seperti tikar. Mereka juga berdagang tekstil dengan modal yang lebih besar lagi.

“Pedagang ini yang merantau mengambil untungnya harus besar juga. Bisa mencapai 300 persen. Karena kan tidak mungkin sudah jauh-jauh merantau tapi cuma untung sedikit. Tapi modalnya harus besar juga,” terang Ivana.

Baca Juga:   Viral Bocah Terbang Terbawa Balon, Bikin Heboh Orang Sekitar

Tujuan para perantau awalnya ke Pulau Sumatra dan Kalimantan. Namun saat ini warga Desa Sumampir sudah menyebar dari barat hingga timur Indonesia.

Ivana menyebut tren pergeseran baru berubah ke wilayah timur dalam lima tahun terakhir. Para perantau ingin lebih melebarkan sayap lagi dan mengadu nasib ke Pulau Dewata dan Lombok. Lebih jauh mereka ada juga yang sampai ke wilayah Nusa Tenggara Timur.

“Sekarang trennya malah ke timur, seperti Bali dan Lombok NTT. Target mereka itu mereka bisa berhasil berdagang di sana. Dagangannya macam-macam, sekarang itu tikar ambil dari produsen. Jiwanya berdagang bukan produksi,” jelasnya.

Baca Juga:   Puasa Lebih Awal, Jemaah Aolia Gunungkidul DIY Lebaran Hari Ini

Menurut Ivana, dari dahulu kaum perempuan seolah terlihat hidup sendiri. Namun di balik kisah itu rata-rata mereka bekerja di rumah. Mungkin karena sudah karakter atau memang saking semangatnya.

“Bapaknya berangkat (merantau), di sini mereka (warga wanita) tetap kerja. Ibaratnya yang bikin kelambunya atau produksi jahit, atau yang berjualan makanan. Banyak di sini perempuan yang bergerak seolah-olah mereka jadi tulang punggung keluarga,” pungkasnya.

Loading