Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM - Ketahanan Pangan Indonesia menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional yang berpotensi menghambat distribusi bahan pangan dan memicu ketidakstabilan pasokan dunia. Meski sejumlah negara mulai meminta masyarakatnya menyiapkan kebutuhan pokok untuk menghadapi kondisi darurat, pemerintah Indonesia menyatakan ketersediaan pangan nasional masih berada dalam kondisi relatif aman.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa Indonesia memiliki sejumlah modal penting untuk menghadapi kemungkinan terjadinya krisis pangan global. Salah satunya adalah kemampuan produksi pertanian dalam negeri yang didukung oleh ketersediaan cadangan beras pemerintah dalam jumlah besar.
Menurut Amran, kondisi tersebut tidak terlepas dari kontribusi para petani, dukungan pemerintah, serta berbagai kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkan produksi dan memperkuat kemandirian pangan nasional.
Ia menilai kemampuan memenuhi kebutuhan pangan melalui produksi sendiri merupakan faktor penting ketika situasi internasional sedang tidak menentu. Gangguan perdagangan, konflik antarnegara, maupun hambatan distribusi global dapat berdampak terhadap ketersediaan bahan pangan di berbagai wilayah.
"Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga," ujar Amran dalam keterangan tertulis, Senin, 2 November 2026.
Sejumlah Negara Mulai Perkuat Persediaan Kebutuhan Pokok
Kesiapan menghadapi situasi darurat kini menjadi perhatian berbagai pemerintahan di dunia. Sedikitnya 33 negara dilaporkan telah mendorong masyarakat untuk menyediakan persediaan kebutuhan dasar di rumah masing-masing.
Persediaan tersebut mencakup bahan makanan yang tahan lama, air minum, obat-obatan, serta perlengkapan penting lainnya. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi apabila terjadi keadaan yang menyebabkan aktivitas masyarakat dan distribusi kebutuhan sehari-hari terganggu.
Beberapa negara bahkan menyarankan agar masyarakat memiliki persediaan kebutuhan rumah tangga yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sedikitnya 72 jam atau tiga hari.
Inggris menjadi salah satu negara yang mendorong kesiapan tersebut. Pemerintahnya mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menyimpan makanan dan air minum yang dapat digunakan selama tiga hari apabila terjadi kondisi darurat.
Imbauan serupa juga dilakukan Jepang. Masyarakat didorong untuk memiliki persediaan kebutuhan pokok minimal tiga hari. Jika memungkinkan, jumlah persediaan tersebut dapat ditingkatkan hingga mencukupi kebutuhan selama satu minggu.
Ancaman yang menjadi pertimbangan bukan hanya konflik geopolitik. Bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber terhadap infrastruktur penting, serta terganggunya jalur distribusi juga dapat menyebabkan kelangkaan kebutuhan dasar.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan memproduksi bahan makanan. Ketersediaan stok, kelancaran distribusi, dan kesiapan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai risiko.
Cadangan Beras Pemerintah Mencapai 4,5 Juta Ton
Mentan Amran menjelaskan bahwa Indonesia mempunyai dukungan stok beras yang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan nasional.
Berdasarkan data yang disampaikan per 26 Oktober 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog tercatat mencapai sekitar 4,5 juta ton.
Selain cadangan tersebut, pemerintah juga memperhitungkan potensi produksi dari tanaman padi yang masih berada di lahan atau dikenal sebagai standing crop. Jumlah potensi beras dari sektor ini diperkirakan mencapai sekitar 10 juta ton.
Komponen lainnya berasal dari persediaan beras di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) yang diperkirakan berada pada angka 10 juta ton.
Jika ketiga komponen tersebut diperhitungkan secara keseluruhan, ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton.
Sementara itu, kebutuhan beras masyarakat Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 2,5 juta ton setiap bulan.
Indonesia Dinilai Memiliki Modal Menghadapi Gejolak Pangan Global
Dengan perbandingan antara ketersediaan beras dan kebutuhan bulanan tersebut, pemerintah menilai Indonesia mempunyai modal persediaan yang cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian global.
Amran menjelaskan bahwa cadangan Bulog, potensi hasil panen, serta persediaan di sektor horeka merupakan bagian dari perhitungan ketersediaan beras nasional.
"Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global," ungkapnya.
Pemerintah menilai penguatan sektor pertanian harus terus dilakukan agar ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada persediaan yang tersedia saat ini. Peningkatan produktivitas petani, pengelolaan cadangan pemerintah, serta kelancaran distribusi menjadi beberapa aspek yang perlu diperhatikan.
Di tengah kondisi dunia yang penuh ketidakpastian, kemampuan Indonesia menjaga produksi dan ketersediaan bahan pangan menjadi faktor penting dalam melindungi kebutuhan masyarakat.
Karena itu, penguatan kemandirian pangan perlu terus dilanjutkan agar Indonesia mempunyai kemampuan lebih baik dalam menghadapi kemungkinan gangguan pasokan maupun perubahan situasi ekonomi global.(*)