Jelantah Jadi Duit, Gorengan Bisa Bantu Pesawat Terbang
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
BANYUMAS, BeritaNow.com — Siapa sangka sisa minyak goreng dari dapur bisa menjadi bagian dari bahan baku pesawat terbang? Warga Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Jawa Tengah, kini memiliki kesempatan menjual minyak jelantah melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Minyak bekas yang sebelumnya dianggap limbah itu dihargai sekitar Rp5.000–Rp6.000 per liter dalam program percontohan yang melibatkan Kementerian Koperasi dan Pertamina Patra Niaga.
Program tersebut diluncurkan pada Kamis (29/10/2026), dengan koperasi bertindak sebagai titik pengumpulan minyak goreng bekas. Pertamina merencanakan pemanfaatannya sebagai bahan baku energi alternatif, termasuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF). Bagi warga, manfaat paling dekat justru sederhana: barang yang dahulu dibuang kini mempunyai harga.
Kebiasaan menggoreng ikan, tempe, atau makanan ringan akhirnya memiliki cerita ekonomi baru. Minyak yang sudah tidak layak dipakai memasak tidak harus berakhir di saluran pembuangan. Daripada minyak bekas menambah persoalan lingkungan, warga kini dapat mengumpulkannya untuk memperoleh tambahan uang belanja.
Ibu Rumah Tangga Menemukan Nilai dari Sisa Dapur
Samini, warga Dawuhan, termasuk yang menyambut program tersebut dengan antusias. Selama ini, sebagian minyak bekas di rumahnya dibuang, sedangkan minyak tertentu masih dimanfaatkan kembali. Kehadiran koperasi membuatnya mempertimbangkan kebiasaan baru dengan menyimpan jelantah untuk dijual.
Warga lainnya, Tri Lestari, mengaku menggunakan sekitar empat liter minyak goreng setiap bulan. Ia memperkirakan lebih dari satu liter dapat dikumpulkan sebagai minyak bekas, kemudian disetorkan kepada koperasi. Dengan harga yang diinformasikan sekitar Rp5.000 per liter, tambahan pendapatan memang belum besar, tetapi tetap mempunyai nilai bagi pengeluaran keluarga.
Ketua KDKMP Dawuhan, Suparjo, juga melaporkan respons positif dari masyarakat dan pelaku usaha. Menurutnya, rumah tangga mampu mengumpulkan lebih dari setengah liter jelantah setiap minggu. Sementara itu, sejumlah pelaku UMKM makanan dapat menyetorkan 10 hingga 25 liter dalam periode yang sama.
Koperasi Ikut Untung, tetapi Ada Pekerjaan Rumah
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menjelaskan bahwa program ini diuji coba melalui empat KDKMP di Kabupaten Banyumas. Koperasi membeli jelantah dari warga dengan kisaran Rp5.000–Rp6.000 per liter. Minyak tersebut kemudian dijual kepada Pertamina Patra Niaga dengan harga sekitar Rp6.500–Rp7.000 per liter.
Selisih harga tersebut berpotensi menjadi pendapatan koperasi. Namun, margin kotor tidak sama dengan keuntungan bersih karena masih ada kebutuhan pengumpulan, penyimpanan, dan pengangkutan. Pengelola juga perlu menjaga kualitas minyak agar bahan baku yang diserahkan memenuhi persyaratan pembeli.
Bagi UMKM gorengan, program ini membuka kesempatan memperoleh nilai tambahan dari aktivitas produksi sehari-hari. Namun, besarnya penghasilan bergantung pada volume jelantah yang benar-benar terkumpul dan harga pembelian yang berlaku. Program ini karena itu lebih tepat dipandang sebagai sumber pendapatan tambahan, bukan pengganti usaha utama.
Dari Penggorengan Menuju Tangki Pesawat
Pertamina merencanakan pengolahan jelantah yang terkumpul menjadi bahan baku SAF melalui fasilitas pengolahannya di Cilacap. SAF merupakan bahan bakar penerbangan yang dapat diproduksi dari bahan baku alternatif, termasuk minyak goreng bekas yang diolah dengan teknologi tertentu. Artinya, jelantah tidak langsung dituangkan ke tangki pesawat begitu keluar dari penggorengan.
Pertamina sebelumnya telah melakukan pengujian bahan bakar penerbangan yang mengandung komponen SAF. Pada 2025, perusahaan menyebut uji terbang Pelita Air rute Jakarta–Denpasar pulang-pergi menggunakan campuran 3 persen SAF dan 97 persen avtur konvensional. Pengalaman tersebut menjadi konteks pengembangan teknologi, bukan bukti bahwa seluruh jelantah Dawuhan sudah diolah menjadi avtur.
Pengumpulan minyak bekas juga berpotensi mengurangi kebiasaan membuang limbah dapur sembarangan. Namun, manfaat lingkungan tetap bergantung pada penyimpanan, transportasi, pengolahan, dan pengawasan yang benar. Tanpa pengelolaan memadai, sebuah program daur ulang belum tentu otomatis memberikan hasil lingkungan terbaik.
Ujian Sesungguhnya Ada pada Keberlanjutan
Bagi warga Dawuhan, program ini memperlihatkan bahwa koperasi desa dapat menjalankan fungsi ekonomi selain menjual kebutuhan sehari-hari. Rumah tangga memperoleh pembeli minyak bekas, sementara koperasi berpeluang membangun kegiatan usaha baru. Pertamina pada gilirannya mendapatkan tambahan sumber bahan baku untuk pengembangan energi alternatif.
Meski demikian, keberhasilan program perlu diukur melalui jumlah setoran, pembayaran kepada warga, dan keberlanjutan pembelian. Belum tersedia data lengkap mengenai total minyak yang berhasil dikumpulkan sejak peluncuran atau keuntungan bersih koperasi. Informasi tersebut penting sebelum keberhasilan percontohan dijadikan dasar perluasan nasional.
Untuk sementara, warga memiliki alasan tambahan untuk tidak membuang minyak goreng bekas secara sembarangan. Nilainya mungkin hanya beberapa ribu rupiah per liter, tetapi manfaatnya dapat bertambah ketika banyak rumah tangga ikut mengumpulkan. Siapa tahu, suatu hari minyak bekas menggoreng tempe benar-benar ikut menempuh perjalanan udara setelah melewati proses pengolahan industri.(*)