INDONESIA VS TANZANIA: Mencari Formula “Garuda”

Pernah mendengar kata “Zanzibar”? Saat SD dulu saya sering main tebak-tebakan dengan teman sekolah. Salah satu pertanyaannya. Dari manakah asal mula tanaman rempah ‘Cengkeh’? Dengan nama latin ‘syzigium aromaticum’. Bagi teman yang senang membaca, akan menjawab, “Zanzibar”.

Namun, sejarah juga mencatat. Penjelajah pertama dunia asal Portugis, Vasco Da Gama berkelililng dunia untuk mencari, di mana Cengkeh bisa ditemukan. Histori yang lebih valid mengingatkan pula, selama hampir Dua abad (200 tahun) ‘Verengide Os Indische Company’ (VOC) merajai perdagangan Cengkeh dunia, khususnya Eropa.

Kisah lain, di samping ‘habit’ murid SD semasa 1970-an menyebut, Cengkeh bermula dari Zanzibar (Afrika Timur). Seorang penjelajah Perancis, Piere Poivre dikatakan berhasil “mencuri” bibit Cengkeh dari Maluku, lalu mengembangbiakkannya di Zanzibar. Sebuah wilayah yang termasuk protektorat Perancis.

Persaingan bebas, akhirnya menempatkan Cengkeh Zanzibar menjadi primadona. Menggeser popularitas Cengkeh ‘Archipelago’ (Nusantara). Tersiar, Cengkeh Zanzibar lebih disukai, karena kandungan minyaknya yang lebih rendah. Setelah menguasai perdagangan Cengkeh Eropa, sejak 1602. Dengan mengeruk kekayaan rempah (Cengkeh, pala, Lada) Indonesia (Maluku, Halmahera, Ternate, Tidore), VOC kemudian di singkirkan oleh French East India Company (FEIC). Tahun 1798, monopoli perdagangan Cengkeh dan rempah VOC di Eropa, di “take over” oleh FEIC.

Baca Juga:   Sebanyak 6 Tim yang Sudah di Pastikan Lolos 16 Besar Liga Champions

Lantas apa hubungannya kedatangan Timnas Tanzania ke Indonesia dengan Zanzibar? Nama Zanzibar, jauh lebih dikenal ketimbang Tanganyika (nama lain Tanzania, sebelum bergabung dengan Zanzibar).

Tanzania adalah “gabungan”, atau “inaugurated”, Tanganyika dan Zanzibar. “Tan” (Tanganyika), “Zan” (Zanzibar). Muncul kemudian ‘idiom’ baru ‘Tanzan’. Akhirnya menjadi Tanzania.

Runtut kisah sukses Tanzania dalam kancah sepakbola Afrika (Confederation African Football/CAF) tidaklah segemilang negara-negara Afrika lain. Rangking FIFA-nya pun juga pernah sama seperti Indonesia. Atau hampir sama.

Meskipun per April 2024, Tanzania berada di rangking 119 (Indonesia 134), bahkan tahun 1995 “peak performances” Tanzania berada di posisi 65 (rangking FIFA), namun 10 tahun kemudian. Atau tepatnya Oktober-November 2005, Tanzania menempati rangking FIFA terendah di titik “nadir”, yaitu 175 (Indonesia pernah 174/Agustus 2021).

Baca Juga:   Jadwal Piala Asia U-23 2024: Indonesia Vs Korea Selatan

Hal itu tentu tidak aneh. Tanzania, memang tidak terlalu aktif dalam sepakbola regional Afrika, apalagi pada kancah dunia, ‘World Cup”. Dalam kurun 1957 hingga 1982, Tanzania tercatat 10 kali tidak mengikuti Kualifikasi Piala Afrika, atau Piala Afrika. Tahun 1968 sempat ikut, namun kemudian mengundurkan diri. Tahun 1980 mengikuti ajang regional tersebut, dan gugur di babak pertama. Kemudian, tahun 1982 mengundurkan diri, tahun 1982 tak ikut. Kembali tahun 1994, mengundurkan diri.

Ajang Piala Afrika yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali, mestinya menjadi “benchmarking” bagi Tanzania di sepakbola regionalnya. Dalam masa 1996-2002 (empat kali kepesertaannya), Tanzania tidak lolos Kualifikasi untuk mengikuti Piala Afrika. Lalu, 2006-2012, juga tidak lolos dengan diselingi sekali mundur (2004). Sementara, untuk Piala Dunia, Tanzania tak pernah berpartisipasi. Sepertihalnya negara-negara Afrika lain: Kamerun (7 X), Nigeria (5 X), Aljazair, Tunisia, dan Maroko masing-masing (4 X). Pantai Gading, Ghana, dan Afrika Selatan, masing-masing (3 X). Mesir (2 X). Zaire, Senegal, Angola, dan Togo, masing-masing (1X).

Baca Juga:   6 Negara yang lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia U-17

Meskipun begitu, posisi rangking FIFA Tim berjuluk “Taifa Stars” saat ini (119), tidak bisa dianggap enteng. Sejatinya, rangking FIFA merefleksikan kekuatan sepakbola negara tersebut. Apalagi, sejumlah bintang Tanzania juga banyak yang “abroad”, merumput di Eropa. Seperti: Kwesi Kawawa (Syrianska/Swedia), Novatus Dismas (Shaktar Donestsk/Ukraina), Saimon Msuva (Saudi Arabia), Charles M’mombwa (Macarthur FC/Australia), Morica Michael (RFK Novi Sad/Serbia), dll.

Pertandingan persahabatan Timnas Indonesia vs Tanzania, Minggu (2 Juni besok). Adalah sasaran antara, pelatih Shin Tae Yong, untuk mencari formasi ideal dalam laga ‘pamungkas’ melawan Irak (6 Juni), dan Filipina (11 Juni). Dari dua pertandingan itu, Timnas Garuda, hanya butuh satu kemenangan.

Rasanya, dengan bintang-bintang “abroad”: Tom Haye, Ragnar Oratmangoen, Raffael Struick dkk, mengalahkan Tanzania. Lalu “menggulung” Filipina dan ‘draw’ dengan Irak, bukanlah hal mustahil. Berikutnya, memastikan lolos ke fase ke-3, Pra-Piala Dunia 2026. Semoga beruntung.

OLEH: Sabpri Piliang
WARTAWAN SENIOR

Loading