Ilmuwan Ciptakan Tiga Anak Dire Wolf, Membuka Jalan Menghidupkan Spesies Punah
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
DALLAS, BERITANOW.COM — Upaya menghidupkan kembali hewan yang telah punah tidak lagi hanya menjadi cerita fiksi ilmiah. Perusahaan bioteknologi Colossal Biosciences mengumumkan keberhasilan menciptakan tiga anak dire wolf atau serigala purba melalui kombinasi rekayasa genetika dan kecerdasan buatan. Ketiganya diberi nama Romulus, Remus, dan Khaleesi.
Anak-anak serigala tersebut lahir dari induk pengganti berupa anjing domestik. Romulus dan Remus mengambil nama dari tokoh dalam mitologi Romawi, sedangkan Khaleesi merujuk pada karakter dalam serial televisi populer. Kehadiran ketiganya menjadi bagian dari ambisi Colossal mengembangkan teknologi de-extinction atau mengembalikan karakteristik spesies yang telah punah.
Dari DNA Purba Menjadi Embrio
Prosesnya dimulai dari materi genetik yang diambil dari tengkorak dan gigi fosil dire wolf berusia ribuan tahun. DNA purba tersebut tidak ditemukan dalam keadaan utuh karena telah mengalami degradasi dan terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Para peneliti kemudian memanfaatkan teknologi komputasi dan kecerdasan buatan untuk membantu merekonstruksi informasi genetiknya.
Genom tersebut selanjutnya dibandingkan dengan serigala abu-abu modern yang memiliki kedekatan genetik. Sel dari serigala abu-abu diedit agar memiliki sejumlah karakteristik yang diasosiasikan dengan dire wolf, lalu digunakan dalam pembuatan embrio. Embrio yang dinilai layak kemudian ditanamkan ke anjing domestik sebagai induk pengganti.
Proses inilah yang memunculkan perdebatan mengenai apakah Romulus, Remus, dan Khaleesi benar-benar dapat disebut dire wolf. Sebagian pihak menilai hewan tersebut lebih tepat disebut serigala abu-abu yang dimodifikasi secara genetik karena tidak membawa keseluruhan genom spesies yang telah punah.
CEO Colossal Biosciences Ben Lamm melihat perdebatan tersebut secara berbeda. Menurutnya, batas antara perubahan genetik oleh manusia dan perubahan yang terjadi melalui evolusi alam bukan inti utama dari teknologi yang sedang dikembangkan.
“Serigala abu-abu hanyalah serigala purba yang dimodifikasi secara genetika. Mereka hanya dilakukan oleh alam atau Tuhan atau bagaimana pun Anda mengklasifikasikannya,” kata Lamm, seperti dikutip CNBC.
Berikutnya, Mammoth Berbulu
Teknologi serupa sedang dikembangkan Colossal untuk proyek mammoth berbulu. Perusahaan mencoba memasukkan karakteristik mammoth yang mampu bertahan di lingkungan sangat dingin ke dalam sel gajah Asia modern. Target jangka panjangnya adalah melahirkan hewan dengan karakteristik mammoth pada dekade 2030-an.
Proyek tersebut tidak hanya dikaitkan dengan upaya mengembalikan hewan purba. Colossal berpendapat keberadaan hewan besar seperti mammoth dapat memberikan dampak terhadap ekosistem Arktik. Kawanan hewan tersebut secara teori dapat memadatkan salju sehingga udara dingin lebih mudah mencapai tanah dan membantu menjaga lapisan permafrost (lapisan tanah, batuan, atau sedimen yang tetap membeku pada suhu 0°C) tetap beku.
Aktivitas hewan besar juga dapat mengubah vegetasi. Dengan menumbangkan pohon dan menginjak semak, wilayah tertentu berpotensi berubah kembali menjadi padang rumput atau tundra yang lebih banyak memantulkan sinar matahari dibandingkan kawasan berhutan. Pendekatan tersebut sedang dikaji sebagai salah satu kemungkinan untuk membantu menekan pemanasan di kawasan kutub.
Teknologi yang Bisa Melampaui Hewan Punah
Menurut Lamm, manfaat penelitian de-extinction dapat bergerak jauh melampaui usaha menciptakan kembali spesies yang hilang. Teknologi pengeditan genom dan biologi perkembangan yang dikembangkan dalam proyek tersebut berpotensi diterapkan pada konservasi, terapi gen, penanganan penyakit genetik, hingga persoalan lingkungan.
Colossal juga mengembangkan perusahaan spin-off bernama Astromech yang mempelajari evolusi konvergen. Salah satu pertanyaan yang diteliti adalah mengapa spesies berbeda dapat memiliki respons yang sangat berbeda terhadap penyakit meskipun mempunyai sejumlah kesamaan biologis. Contohnya, gajah diketahui mengalami kanker jauh lebih jarang dibandingkan manusia.
Pemahaman terhadap mekanisme alami tersebut, menurut Colossal, berpotensi memberikan petunjuk untuk mengembangkan pendekatan baru terhadap kesehatan manusia, termasuk penyakit genetik dan respons terhadap pandemi. Riset terhadap hewan dengan demikian tidak berhenti pada penciptaan satu spesies, tetapi juga menjadi laboratorium untuk memahami bagaimana kehidupan beradaptasi dan bertahan.
Dari Laboratorium ke Bisnis Bernilai Miliaran Dolar
Ambisi tersebut menarik investasi dalam jumlah besar. Pada Juli 2026, Colossal memperoleh pendanaan Seri C senilai 200 juta dolar AS yang dipimpin TWG Global. Pendanaan itu membawa valuasi perusahaan menjadi sekitar 10,2 miliar dolar AS, sedangkan total dana yang telah dihimpun sejak perusahaan berdiri melampaui 435 juta dolar AS.
Lamm mengatakan daya tarik proyek tersebut juga datang dari kemampuannya membuat masyarakat, terutama generasi muda, tertarik terhadap sains dan konservasi. Menurut dia, sekitar 30 persen investor Colossal tertarik setelah anak-anak mereka mengenal proyek perusahaan tersebut.
Di balik daya tarik menghidupkan kembali hewan purba, Colossal menempatkan krisis keanekaragaman hayati sebagai persoalan yang lebih mendesak. Teknologi yang dikembangkan untuk dire wolf dan mammoth diharapkan suatu hari dapat digunakan untuk membantu menyelamatkan spesies yang masih hidup tetapi berada di ambang kepunahan. Dengan demikian, pertanyaan terbesarnya mungkin bukan hanya apakah manusia mampu membawa kembali hewan dari masa lalu, tetapi apakah teknologi tersebut dapat membantu mempertahankan kehidupan yang masih tersisa hari ini.(*)
Informasi dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.