Senin, 21 September 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

IHSG Ditutup Melemah 0,88 Persen ke Level 6.384

Riskal Arief | | 3 mnt baca
IHSG Ditutup Melemah 0,88 Persen ke Level 6.384
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 56,43 poin atau 0,88 persen ke level 6.384,73 pada perdagangan Senin (21/9/2026). 

IHSG sempat dibuka menguat 5,74 poin atau 0,09 persen ke level 6.446,90. Namun, indeks berbalik arah dan bergerak di zona merah sepanjang perdagangan.

IHSG mencatat level tertinggi 6.451,33 dan level terendah 6.381,57. Penurunan tersebut membuat indeks kembali meninggalkan level psikologis 6.400.

Tekanan Saham Keuangan dan Energi

Pelemahan IHSG terjadi ketika sebagian besar pasar saham Asia bergerak menguat. Tekanan utama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor keuangan dan energi.

Pada sesi pertama, IHSG turun 0,27 persen ke level 6.423,51. Nilai transaksi pada sesi tersebut mencapai Rp13,21 triliun, dengan rentang pergerakan indeks di 6.388–6.451. Saham Bank Mandiri atau BMRI menjadi salah satu saham yang mengalami tekanan. BMRI ditutup melemah 2,07 persen ke level Rp4.260 per saham. 

Saham energi seperti BYAN juga menjadi salah satu pemberat IHSG pada perdagangan Senin. Tekanan pada saham berkapitalisasi besar dapat berdampak signifikan terhadap indeks karena bobotnya yang besar.

Delapan Sektor Melemah

Data perdagangan menunjukkan delapan sektor saham berakhir di zona merah. Sektor infrastruktur menjadi salah satu sektor dengan penurunan terdalam.

Pelemahan lintas sektor menunjukkan tekanan pasar tidak hanya terjadi pada satu kelompok saham. Investor cenderung mengurangi risiko sambil menunggu kepastian mengenai kebijakan suku bunga, nilai tukar, dan kondisi ekonomi global. 

Meski IHSG melemah, sejumlah saham masih mampu menguat hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA). Saham CSMI naik 34,48 persen ke Rp234, TRUE menguat 34,38 persen ke Rp90, AGAR naik 25 persen ke Rp2.300, dan NASI menguat 24,79 persen ke Rp292.

Saham lain yang juga mencatat kenaikan besar adalah HOPE, BAJA, dan INTD. Namun, penguatan saham-saham tersebut belum mampu mengimbangi tekanan dari saham berkapitalisasi besar.

Rupiah Ikut Tertekan

Pergerakan rupiah turut menjadi perhatian investor. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di sekitar Rp17.847 per dolar Amerika Serikat atau melemah sekitar 0,50 persen.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan rupiah berada di sekitar Rp17.813 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan terhadap emiten yang memiliki kewajiban dalam dolar AS. Kondisi tersebut juga mendorong investor untuk lebih selektif memilih saham, terutama di tengah tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan ketidakpastian suku bunga global.

Risiko Koreksi Masih Terbuka

Penutupan IHSG di bawah level 6.400 membuat risiko koreksi masih perlu diwaspadai pada perdagangan berikutnya.

Pasar akan mencermati apakah IHSG mampu kembali menembus level 6.400 atau justru melanjutkan pelemahan menuju area support berikutnya. Investor juga akan memperhatikan arus dana asing, pergerakan rupiah, harga minyak, serta kebijakan Bank Indonesia dan The Fed.

Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan IHSG berpotensi menguji area 6.290–6.370 apabila tekanan jual berlanjut. Namun, peluang technical rebound tetap terbuka apabila indeks mampu bertahan di sekitar area support dan saham-saham unggulan mulai mengalami akumulasi.

Pergerakan pada Selasa akan menjadi ujian bagi IHSG setelah indeks turun 0,88 persen dan ditutup dekat level terendah hariannya.(*)

Analisis ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan pertimbangan masing-masing investor.

Komentar (0)