Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – IHSG ditutup 22 September 2026 dengan penurunan 107,68 poin atau 1,69 persen ke level 6.277,04 pada perdagangan Selasa. Penurunan tersebut memperpanjang tekanan di Bursa Efek Indonesia setelah IHSG pada perdagangan Senin ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,73.
IHSG sempat dibuka menguat 0,12 persen ke level 6.392. Namun, indeks kemudian berbalik melemah dan bergerak di zona merah hingga penutupan perdagangan. Tekanan jual terlihat pada mayoritas saham yang diperdagangkan. Sebanyak 139 saham ditutup menguat, 533 saham melemah, dan 118 saham lainnya bergerak stagnan.
Data tersebut menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada beberapa saham penggerak indeks. Tekanan menyebar ke sebagian besar saham, sehingga IHSG kesulitan membentuk pemulihan meski sempat dibuka di zona hijau. Pelemahan juga terjadi di 10 dari 11 sektor saham. Hanya sektor barang konsumen non-primer yang berhasil menguat, yakni sekitar 0,23–0,30 persen.
Energi Jadi Pemberat Utama
Sektor energi menjadi sektor dengan pelemahan terdalam, sekitar 2,76 persen berdasarkan data penutupan. Sektor perindustrian turun 2,31 persen, sedangkan sektor properti melemah 2,01 persen.
Sektor bahan baku turun 1,97 persen, teknologi melemah 1,59 persen, barang konsumen primer turun 1,48 persen, dan transportasi terkoreksi 1,35 persen. Sektor keuangan juga melemah 0,85 persen, kesehatan turun 0,74 persen, serta infrastruktur terkoreksi 0,66 persen.
Tekanan pada sektor energi menjadi salah satu faktor yang membebani IHSG karena sektor tersebut memiliki sejumlah saham berkapitalisasi besar. Data lain menunjukkan saham energi menjadi pemberat utama indeks, disusul sektor real estat dan utilitas. Nilai transaksi saham pada perdagangan Selasa mencapai sekitar Rp14,39 triliun.
IHSG Tembus di Bawah 6.300
Penutupan di level 6.277 membuat IHSG kembali berada di bawah level psikologis 6.300.
Pada sesi pertama, IHSG sudah melemah 1,11 persen ke level 6.313,57. Saat itu, seluruh sektor saham tercatat berada di zona merah dan sektor energi kembali menjadi sektor dengan penurunan terdalam.
Pelemahan berlanjut hingga sesi kedua. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual tidak sepenuhnya mereda menjelang penutupan perdagangan.
Investor juga masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 22–23 September 2026. Pasar sebelumnya memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.
Investor Menunggu Keputusan BI
Keputusan BI menjadi katalis penting bagi pasar karena berkaitan dengan stabilitas rupiah, arus modal, inflasi, dan prospek pertumbuhan ekonomi. Jika BI mempertahankan suku bunga dan memberikan sinyal yang mendukung stabilitas nilai tukar, IHSG berpeluang mengalami technical rebound.
Namun, tekanan dapat berlanjut apabila investor menilai kebijakan BI belum cukup kuat untuk meredam pelemahan rupiah dan arus dana asing.
Pada perdagangan berikutnya, investor perlu mencermati kemampuan IHSG untuk kembali ke atas level 6.300. Jika gagal, indeks berisiko menguji area support berikutnya di sekitar 6.200–6.279.
Sebaliknya, penguatan kembali di atas 6.300 dapat membuka peluang konsolidasi, meski pasar masih berpotensi bergerak volatil menjelang pengumuman hasil RDG BI.
Pergerakan IHSG berikutnya akan dipengaruhi oleh hasil keputusan Bank Indonesia, nilai tukar rupiah, arus investor asing, harga komoditas, serta perkembangan bursa global.(*)
Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.