Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BeritaNow.com — Google kembali menyiapkan kejutan di pasar komputer jinjing. Melalui Android Dev Summit 2026, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu mengonfirmasi pengembangan Googlebook detachable, perangkat dengan keyboard yang bisa dilepas sehingga dapat digunakan sebagai laptop maupun tablet. Inovasi ini menarik perhatian karena mempertemukan dua kebutuhan pengguna dalam satu perangkat, meskipun jadwal peluncuran dan harga resminya belum diumumkan.
Kehadiran Googlebook detachable sekaligus menandai perkembangan baru setelah Google memperkenalkan lini laptop berbasis Googlebook OS pada 2026. Sistem operasi tersebut memadukan fondasi ChromeOS dengan teknologi Android dan kecerdasan buatan Gemini. Bagi Indonesia, perkembangan ini mengingatkan kembali pada Chromebook, perangkat Google yang namanya menjadi sorotan dalam perkara korupsi pengadaan laptop pendidikan yang melibatkan mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim.
Keyboard Bisa Dicopot, Fungsi Makin Fleksibel
Konsep detachable memungkinkan layar digunakan secara mandiri sebagai tablet setelah keyboard dilepaskan. Berbeda dengan laptop konvensional yang memiliki engsel tetap, perangkat semacam ini memberi pilihan penggunaan sesuai aktivitas. Pengguna dapat mengetik dengan keyboard atau berinteraksi langsung melalui layar sentuh.
Googlebook sebelumnya hadir melalui perangkat dari Asus, Dell, HP, Lenovo, dan Acer. Sebagian besar menggunakan desain laptop konvensional, sedangkan Acer Googlebook 14 menawarkan mekanisme konvertibel dengan layar yang dapat dilipat. Model detachable akan memperluas pilihan tersebut karena keyboard-nya bisa dipisahkan dari layar.
Laporan 9to5Google menyebut Lenovo berpotensi menjadi produsen pertama model detachable berdasarkan bocoran perangkat pada Juli 2026. Informasi tersebut belum menjadi konfirmasi resmi mengenai merek, spesifikasi, ataupun tanggal penjualan. Dengan demikian, pengumuman Google baru memastikan arah pengembangan perangkat, bukan peluncuran produk tertentu.
Chromebook dan Googlebook, Apa Bedanya?
Chromebook dikenal sebagai laptop yang menggunakan ChromeOS dengan penekanan pada aplikasi web, kemudahan pengelolaan, dan keamanan perangkat. Googlebook menawarkan pendekatan berbeda melalui integrasi Android, dukungan aplikasi native, serta kemampuan Gemini untuk membantu produktivitas. Google menyebut platform barunya dirancang agar pengguna dapat berpindah pekerjaan dari ponsel Android ke laptop dengan lebih mudah.
Meski demikian, Googlebook bukan berarti langsung menghapus keberadaan Chromebook. Google memastikan perangkat Chromebook yang sudah digunakan tetap memperoleh pembaruan sesuai masa dukungannya. Perusahaan juga menyatakan kemampuan pengelolaan Googlebook untuk kebutuhan organisasi akan dikembangkan bertahap mulai paruh kedua 2027.
Bagi sekolah, perbedaan tersebut lebih penting daripada sekadar bentuk perangkat yang menarik. Chromebook selama ini digunakan untuk mendukung aktivitas pembelajaran digital, sedangkan Googlebook generasi awal terutama menyasar konsumen. Apakah perangkat baru lebih cocok bagi pendidikan harus dinilai melalui harga, kebutuhan aplikasi, koneksi internet, keamanan, dan biaya pengelolaan.
Indonesia Masih Dibayangi Perkara Chromebook
Di Indonesia, nama Chromebook tidak dapat dilepaskan dari perkara korupsi pengadaan perangkat teknologi informasi di Kemendikbudristek pada periode 2020–2022. Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim divonis sepuluh tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada 30 Juni 2026 setelah dinyatakan bersalah dalam dakwaan subsidair. Pengadilan Tinggi Jakarta kemudian mengurangi hukumannya menjadi sembilan tahun pada 24 September 2026.
Perkara tersebut belum berakhir pada putusan banding. Tim penasihat hukum Nadiem mengajukan kasasi pada Oktober 2026, sehingga proses hukum masih berlanjut. Nadiem membantah telah melakukan korupsi dan menolak kesimpulan mengenai kerugian negara yang dikaitkan dengan kebijakan pengadaan Chromebook.
Penting ditegaskan bahwa perkara itu menyangkut keputusan dan pelaksanaan pengadaan pemerintah, bukan pembuktian bahwa teknologi Chromebook sendiri merupakan produk bermasalah. Belum ada bukti yang menghubungkan peluncuran Googlebook dengan perkara hukum tersebut. Keduanya berkaitan melalui ekosistem teknologi Google, tetapi merupakan peristiwa berbeda.
Teknologi Baru, Pelajaran Lama
Kemunculan Googlebook membuka peluang bagi perangkat yang lebih fleksibel dalam bekerja dan belajar. Namun, untuk pengadaan publik, inovasi perangkat tetap perlu diuji terhadap kebutuhan pengguna serta kondisi infrastruktur. Produk yang canggih belum tentu menjadi pilihan paling tepat bagi setiap sekolah.
Pengalaman pengadaan Chromebook memperlihatkan pentingnya transparansi, persaingan penyedia, dan penilaian manfaat sebelum anggaran dibelanjakan. Kebijakan pendidikan digital tidak cukup hanya mengandalkan spesifikasi perangkat atau reputasi merek. Kesesuaian teknologi dengan kemampuan sekolah dan peserta didik harus menjadi pertimbangan utama.
Google kini bergerak menuju laptop yang semakin menyerupai tablet. Indonesia, sementara itu, memiliki pelajaran penting bahwa transformasi digital bukan semata urusan mengganti perangkat lama dengan yang terbaru. Keyboard boleh dilepas-pasang, tetapi akuntabilitas penggunaan uang negara tidak boleh ikut dilepaskan.(*)