Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
LONDON, BERITANOW — Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi tekanan baru menjelang pertemuan Dewan FIFA di Zurich, Kamis (15/10/2026). Dokumen pajak Amerika Serikat disebut mengungkap pembayaran tambahan senilai 1,72 juta dolar AS yang diterima Infantino pada 2024 dari FWC2026, entitas yang dibentuk FIFA untuk mengelola Piala Dunia 2026.
Pembayaran tersebut berada di luar kompensasi rutin Infantino dari FIFA yang mencapai 4,274 juta franc Swiss atau sekitar 4,86 juta dolar AS. Persoalannya, pembayaran dari FWC2026 itu disebut tidak tercantum dalam laporan tahunan FIFA 2024.
Temuan tersebut muncul saat sejumlah anggota sepak bola Eropa, termasuk Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), mempertanyakan transparansi dan tata kelola FIFA di bawah kepemimpinan Infantino.
Dipersoalkan karena Tidak Dipublikasikan
Perdebatan berpusat pada Pasal 43 ayat 13 Statuta FIFA yang mengatur bahwa kompensasi individual Presiden FIFA, anggota Dewan, dan Sekretaris Jenderal harus dipublikasikan.
Miguel Maduro, mantan ketua komite tata kelola FIFA, menilai pembayaran yang tidak diungkap kepada publik dapat menimbulkan persoalan kepatuhan terhadap aturan tersebut. Menurut dia, besarnya gaji presiden FIFA bukan persoalan utama selama seluruh kompensasi disampaikan secara transparan.
“Jika ia dibayar dengan jumlah lain oleh perusahaan yang terkait dengan FIFA dan itu tidak dipublikasikan, itu pelanggaran aturan yang jelas,” kata Maduro, seperti dikutip ESPN.
FIFA menolak tudingan tersebut. Juru bicara organisasi menyatakan FIFA telah memenuhi seluruh kewajiban pelaporan dan menegaskan bahwa kompensasi Infantino ditentukan oleh subkomite remunerasi yang independen.
FIFA juga menyatakan tidak memberikan “gaji kedua” kepada Infantino. Dengan demikian, perdebatan kini tidak hanya berkisar pada sumber pembayaran, tetapi juga apakah remunerasi dari entitas terkait FIFA tetap harus masuk dalam kewajiban keterbukaan organisasi.
FA Siapkan Pertanyaan di Zurich
Kontroversi pembayaran muncul menjelang pertemuan Dewan FIFA yang diperkirakan membahas sejumlah persoalan internal organisasi. Ketua FA Debbie Hewitt, yang juga menjabat Wakil Presiden FIFA, sebelumnya meminta Infantino menyerahkan seluruh dokumen mengenai rencana penjualan kepentingan komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Rencana tersebut terungkap melalui kebocoran pada Juli 2026 dan disebut tidak lebih dahulu melibatkan seluruh anggota Dewan FIFA.
Hewitt juga meminta keterbukaan mengenai penangguhan hukuman terhadap Folarin Balogun. Ia menginginkan seluruh dokumen dan komunikasi terkait kedua persoalan tersebut tersedia sebelum pertemuan 15 Oktober.
Dorongan untuk melakukan tinjauan independen mendapat dukungan dari sejumlah pihak di sepak bola Eropa, termasuk Premier League.
Tekanan terhadap Tata Kelola FIFA
Persoalan yang dihadapi Infantino tidak berhenti pada kompensasi. Premier League, La Liga, Bundesliga, dan Serie A sebelumnya juga menyerukan perubahan mendasar dalam tata kelola FIFA dan mengkritik sejumlah kebijakan organisasi di bawah kepemimpinannya.
Infantino juga menuai kritik setelah FIFA memberikan penghargaan perdamaian kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Desember 2025. Keputusan tersebut ikut memunculkan pertanyaan mengenai hubungan FIFA dengan kekuasaan politik.
Tekanan menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027 juga mulai terlihat. Asosiasi Sepak Bola Swiss disebut telah menarik dukungan terhadap pencalonan Infantino, diikuti federasi Wales, Serbia, Swedia, dan Finlandia.
Meski demikian, posisi Infantino belum dapat disebut goyah. Ia masih memiliki dukungan dari sejumlah konfederasi, termasuk CAF di Afrika dan CONMEBOL di Amerika Selatan, sementara hingga kini belum muncul penantang kuat menjelang batas pendaftaran kandidat pada 18 November 2026.
Pertemuan Dewan FIFA di Zurich karena itu akan menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi rutin. Persoalan yang dipertaruhkan kini menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: seberapa transparan kekuasaan dijalankan di organisasi yang mengendalikan sepak bola dunia.(*)
Informasi dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.