Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
IBARAKI, BeritaNow.com — Kegiatan memancing yang semestinya menjadi waktu bersantai berubah menjadi tragedi bagi empat warga negara Indonesia (WNI) di Jepang. Dua WNI tewas setelah terseret gelombang besar ketika memancing di kawasan pemecah ombak Kota Kashima, Prefektur Ibaraki, Minggu (1/11/2026). Dua rekan mereka berhasil selamat setelah mendapat pertolongan dari peselancar yang berada di sekitar lokasi.
Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 15.30 waktu setempat, di dekat Pantai Hirai. Keempat korban merupakan pria berkewarganegaraan Indonesia berusia sekitar 20-an tahun yang sedang memancing di kawasan terlarang untuk dimasuki. Saat kejadian, wilayah pesisir Kashima tengah menghadapi gelombang tinggi dan berada dalam status peringatan gelombang laut.
Empat Sahabat Memancing, Dua Tak Kembali
Menurut laporan media Jepang, gelombang besar menghantam kawasan pemecah ombak dan menyeret keempat pemancing ke laut. Seseorang yang menyaksikan kejadian tersebut segera menghubungi layanan darurat penjaga pantai. Dua korban berhasil kembali ke daratan dengan bantuan peselancar dan dilaporkan tidak mengalami cedera.
Petugas kemudian melakukan pencarian terhadap dua orang yang belum ditemukan. Seorang korban berhasil ditemukan pada Minggu malam dalam keadaan tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit. Namun, petugas medis kemudian memastikan korban berusia 21 tahun tersebut telah meninggal dunia.
Pencarian korban terakhir dilanjutkan pada Senin pagi setelah sempat dihentikan pada malam sebelumnya. Sekitar pukul 07.30 waktu Jepang, petugas menemukan pria berusia 21 tahun itu di perairan dekat lokasi kejadian. Otoritas setempat kemudian memastikan kematiannya, sehingga jumlah korban meninggal menjadi dua orang.
Merantau untuk Bekerja, Berhadapan dengan Bahaya Laut
Laporan ANTARA yang mengutip Kyodo menyebut kedua korban meninggal merupakan peserta magang teknis yang tinggal di kawasan Kamisu, Prefektur Ibaraki. Salah seorang di antaranya bekerja dalam industri konstruksi. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa korban merupakan bagian dari komunitas warga Indonesia yang menjalani kehidupan dan pekerjaan di Jepang.
Bagi pekerja migran, waktu di luar jam kerja menjadi kesempatan untuk beristirahat dan menikmati kehidupan di negara tempat mereka bekerja. Memancing merupakan salah satu kegiatan rekreasi yang dapat dilakukan di kawasan pesisir. Namun, kecelakaan ini memperlihatkan bahwa aktivitas yang tampak sederhana tetap memiliki risiko serius ketika kondisi laut memburuk.
Belum tersedia keterangan terverifikasi mengenai keluarga korban maupun rencana pemulangan jenazah ke Indonesia. Status pendampingan oleh perwakilan diplomatik Indonesia juga masih perlu dikonfirmasi. Informasi tersebut penting untuk memastikan hak keluarga memperoleh pemberitahuan, bantuan, dan kejelasan prosedur penanganan jenazah.
Gelombang Tinggi dan Larangan Masuk Jadi Peringatan
Otoritas Jepang menyatakan lokasi kejadian merupakan kawasan pemecah ombak yang tidak diperbolehkan untuk dimasuki. Pada saat kecelakaan, peringatan gelombang tinggi telah diberlakukan akibat pengaruh Topan Nomor 31. Laporan Yomiuri Shimbun juga menyebut keempat pemancing tidak mengenakan jaket pelampung.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa struktur pemecah ombak bukan berarti kawasan di sekitarnya selalu aman. Gelombang dapat menghantam permukaan bangunan pelindung pantai dan menyeret orang yang berada terlalu dekat dengan laut. Risiko semakin besar ketika seseorang tidak menggunakan perlengkapan keselamatan.
Kepolisian Jepang mengimbau masyarakat memeriksa kondisi cuaca dan tidak memasuki kawasan yang telah dinyatakan terlarang. Imbauan itu relevan pula bagi warga Indonesia yang tinggal di Jepang, terutama ketika melakukan aktivitas di wilayah pesisir. Keselamatan perlu menjadi pertimbangan utama meskipun kegiatan tersebut hanya direncanakan untuk mengisi waktu luang.
Tragedi di Kashima meninggalkan kehilangan yang tidak dapat diukur hanya dari angka korban. Dua nyawa melayang dalam kegiatan yang semula dimaksudkan sebagai rekreasi, sementara dua orang lainnya berhasil selamat. Peristiwa ini mengingatkan pentingnya informasi keselamatan yang mudah dipahami oleh warga asing agar waktu beristirahat tidak berakhir dengan petaka.(*)